Kompor Listrik: Solusi Hemat Biaya Operasional di Tengah Lonjakan Harga Energi Global

Penggunaan kompor listrik semakin diminati pelaku UKM dan rumah tangga sebagai solusi hemat biaya operasional di tengah lonjakan harga energi dunia, menawarkan efisiensi dan kemudahan teknologi yang signifikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kompor Listrik: Solusi Hemat Biaya Operasional di Tengah Lonjakan Harga Energi Global
Penggunaan kompor listrik semakin diminati pelaku UKM dan rumah tangga sebagai solusi hemat biaya operasional di tengah lonjakan harga energi dunia, menawarkan efisiensi dan kemudahan teknologi yang signifikan. (AntaraNews)

Kalangan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) serta rumah tangga di Indonesia kini semakin melirik kompor listrik sebagai alternatif utama dalam aktivitas memasak mereka. Peralihan ini didorong oleh tantangan lonjakan harga energi global yang memicu kenaikan biaya operasional, terutama bagi mereka yang masih mengandalkan gas LPG.

Efisiensi biaya operasional dan kemudahan fitur teknologi pemanas elektrik yang ditawarkan kompor induksi menjadi daya tarik utama. Investasi awal yang lebih ekonomis dibandingkan pembelian tabung gas baru serta biaya operasional bulanan yang kompetitif menjadi faktor penentu.

Pemerintah pun merespons fenomena ini dengan wacana program kompor listrik bersubsidi, menunjukkan komitmen untuk mendukung masyarakat beralih ke solusi energi yang lebih stabil dan terjangkau.

Andi Arif, pemilik usaha martabak di Jakarta, merasakan langsung manfaat finansial dari penggunaan kompor listrik. Menurutnya, investasi awal untuk kompor listrik jauh lebih ekonomis karena tidak lagi terbebani biaya pembelian tabung gas baru yang harganya fluktuatif.

“Dari sisi operasional kenaikan tagihan listriknya hanya sekitar Rp30.000 per bulan,” ujar dia di Jakarta, Jumat, terkait wacana program kompor listrik bersubsidi. Tambahan biaya listrik bulanan ini sangat kompetitif jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin untuk pengisian tabung gas yang terus merangkak naik.

Senada dengan Andi, Siti Sarah (45), pelaku UMKM katering rumahan, juga merasakan dampak positif signifikan. Penggunaan kompor induksi membuat biaya produksi jauh lebih hemat, sehingga keuntungan yang didapat dari setiap pesanan menjadi lebih maksimal dibandingkan saat masih menggunakan LPG.

“Sejak pakai kompor listrik, pengeluaran untuk energi masak jadi lebih stabil dan murah, sisa uangnya bisa buat tambahan modal bahan baku. Masaknya juga lebih cepat dan bersih, saya jadi lebih produktif terima banyak pesanan tiap hari,” ungkap Siti.

Tidak hanya bagi pelaku usaha, kompor listrik juga menawarkan berbagai keunggulan bagi rumah tangga. Hevy Prasmawati, seorang ibu rumah tangga, menyoroti panas yang lebih stabil dan merata pada masakan, menghasilkan hidangan yang lebih presisi.

Selain itu, Hevy mengapresiasi fitur pintar seperti mode otomatis untuk menggoreng hingga mengukus, yang memberikan kemudahan sekaligus rasa aman lebih bagi penghuni rumah. Penggunaan alat masak berbahan komposit yang dirancang khusus untuk induksi menjadi kunci utama untuk mendapatkan hasil maksimal.

Meskipun perangkat ini memiliki daya sekitar 1.300 watt, penggunaan alat masak yang tepat justru mempercepat proses pematangan, sehingga konsumsi daya tetap terkendali secara efektif. Dengan segala kemudahan dan penghematan biaya jangka panjangnya, transisi ke perangkat memasak elektrik kini dipandang bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

Kompor listrik kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan solusi nyata untuk tetap hemat di tengah tantangan energi dunia,” kata Hevy.

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengajak masyarakat untuk lebih menghemat pasokan gas. Bahlil menyebutkan bahwa kompor listrik bisa menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah isu melonjaknya harga minyak global.

Dalam konferensi pers di Colomadu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Kamis (26/3), Bahlil menekankan pentingnya tidak boros menggunakan LPG dan mematikan penggunaan gas setelah masakan matang.

Dukungan serupa datang dari Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, yang menyatakan siap mendukung upaya pemerintah mempercepat proses elektrifikasi, termasuk dalam sektor memasak menggunakan kompor listrik. Eddy menyatakan bahwa transisi dari kompor LPG ke kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG.

“Kami sudah hitung, masih akan lebih murah (transisi ke kompor listrik) daripada mengimpor LPG,” ujar Eddy kepada ANTARA ketika dihubungi dari Jakarta, Senin (23/3). Perhitungan biaya transisi ini meliputi pemberian kompor listrik, dua wajan penggorengan, serta pemasangan sambungan listrik terpisah secara gratis, yang dinilai lebih ringan daripada beban subsidi untuk menekan harga LPG.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi