Keran impor ditutup di 2016, Kementan klaim petani kini gandrungi tanam bawang merah

Keran impor ditutup di 2016, Kementan klaim petani kini gandrungi tanam bawang merah. Komoditas tersebut kini menjadi salah satu faktor penyumbang deflasi pada Agustus 2017, setelah sekian lama dituduh penyebab inflasi nasional. Sentra-sentra baru petani bawang merah terus bermunculan sepanjang dua tahun terakhir.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Keran impor ditutup di 2016, Kementan klaim petani kini gandrungi tanam bawang merah
Bawang merah. ©2012 Merdeka.com

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono, mengatakan membaiknya produksi dan harga bawang merah berdampak positif terhadap perekonomian nasional. Komoditas tersebut kini turut menjadi salah satu faktor penyumbang deflasi pada Agustus 2017, setelah sekian lama dituduh penyebab inflasi nasional."Capaian tersebut pun berdampak positif terhadap petani, sekarang berlomba-lomba mencoba peruntungannya untuk tanam bawang merah. Apalagi, pemerintah melalui Kementan sudah menutup keran impor semenjak 2016," ujar Spudnik melalui siaran pers di Jakarta, Sabtu (30/9).Spudnik mengatakan program pemerintah yang saling bersinergi untuk mengatur komoditas tersebut juga berimplikasi dengan maraknya pertanaman bawang merah seantero Indonesia Raya. Sentra-sentra baru petani bawang merah terus bermunculan sepanjang dua tahun terakhir."Dan tentu saja, hal ini telah membentuk suatu tatanan tata niaga yang baru, di mana jalur distribusi dari dan ke suatu daerah memiliki kecenderungan berubah. Perdagangan bawang merah sedang menuju titik keseimbangan baru yang ditandai dengan makin rendahnya fluktuasi dan disparitas harga," papar Spudnik.Bawang merah saat ini, tidak cuma tersohor di Brebes dan Cirebon, melainkan juga di Enrekang Sulawesi Selatan, Solok Sumatera Barat, Tapin Kalimantan Tengah, Demak Jawa Tengah, Nganjuk Jawa Timur, Bima Nusa Tenggara Barat, dan sebagainya. Sehingga, daerah-daerah yang awalnya sangat tergantung dengan pasokan di Pulau Jawa, perlahan mandiri. Spudnik mengatakan meningkatnya produksi komoditas tersebut tak lepas dari dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta pengawasan terhadap pola tanam bawang merah. Pemerintah juga membuat instrumen pengatur harga batas bawah di produsen dan batas atas pada konsumen untuk beberapa komoditas strategis, termasuk bawang merah. "Melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2017, disepakati batas bawah untuk konde basah Rp 15.000, konde askip Rp 18.300, dan rogol askip Rp 22.500. Sedangkan batas atas, yaitu di tingkat konsumen Rp 32.000. Permendag ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan dan rencana aksinya," jelasnya.Jurus lain pemerintah dalam mengatur harga bawang merah ialah bermitra dengan petani atau disebut champion yang berkomitmen membantu pemerintah dalam stabilisasi harga. Lalu, pemerintah juga mendukung industri rumah tangga sebagai bentuk perhatian di sektor hilir dengan memberikan alat pengolah bawang merah yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk, khususnya di saat panen melimpah."Pemerintah melakukan itu semua semata-mata demi kesejahteraan petani, menjaga pasokan dan harga bawang merah. Sehingga, semua petani dapat menikmati jerih payahnya dengan harga jual yang pantas dan keterjangkauan di tingkat konsumen," tandasnya.

Rekomendasi