Kementan Kembangkan Alat Pertanian Otonom Baterai-Robotik, Hemat Biaya Produksi hingga 60%!

Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan inovasi alat pertanian otonom berbasis baterai dan robotik yang siap merevolusi sektor pangan, menarik minat generasi muda, dan menghemat biaya operasional secara signifikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kementan Kembangkan Alat Pertanian Otonom Baterai-Robotik, Hemat Biaya Produksi hingga 60%!
Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan inovasi alat pertanian otonom berbasis baterai dan robotik yang siap merevolusi sektor pangan, menarik minat generasi muda, dan menghemat biaya operasional secara signifikan. (AntaraNews)

Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif mengembangkan alat pertanian modern yang mengusung teknologi baterai dan robotik. Inovasi ini dirancang untuk beroperasi secara otonom, bertujuan mendukung transformasi pertanian nasional agar lebih efektif dan efisien.

Uji coba lapangan yang dipimpin oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan hasil positif. Teknologi baru seperti combine harvester dan rice transplanter buatan dalam negeri telah siap untuk dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan secara luas.

Pengembangan ini berlangsung di Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan Serpong, Tangerang, Banten, pada Senin, 04/11. Kementan berharap teknologi ini akan menjadi pendorong utama dalam modernisasi sektor pertanian Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan BRMP Mektan akan menjadi bagian integral dari revolusi pertanian cerdas. Konsep ini memungkinkan generasi muda, termasuk milenial dan Gen Z, untuk mengelola lahan pertanian dan melakukan panen hanya melalui kendali jarak jauh.

Amran menuturkan, "Ini tadi uji coba. Ini kan combine harvester kita bisa buat. Rice transplanter kita buat. Yang kami inginkan adalah nanti menggunakan baterai, kemudian robotik. Jadi nanti otonomus." Visi ini membuka peluang bagi para petani untuk mengoperasikan alat pertanian dengan mudah, hanya dengan menekan tombol dari lokasi yang berbeda.

Konsep pertanian otonom ini dirancang untuk membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik dan efisien. Amran menambahkan, "Milenial dengan generasi Z bisa mengolah lahan tanam, panen itu dari bawah pohon. Nah itu mimpi. Pusatnya di sini. Pake remot kontrolnya. Dari bawah pohon. Jadi Anda wartawan mau bertani, tombol aja dari Jakarta. Bertani di Bekasi tinggal distir."

Selain itu, Kementan juga menargetkan alat panen dan tanam ini dapat digunakan di lahan rawa dengan kemampuan terapung. Hal ini akan sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia yang beragam, termasuk wilayah pertanian yang sulit dijangkau.

Penggunaan baterai sebagai sumber energi pada alat pertanian otonom ini diproyeksikan akan menekan biaya operasional secara signifikan. Menurut Amran, penghematan bisa mencapai hingga 60 persen dibandingkan dengan penggunaan mesin diesel konvensional.

Inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi biaya, tetapi juga merupakan langkah penting menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, emisi karbon dapat diminimalisir.

Selain penghematan operasional, pengembangan combine harvester atau alat mesin panen oleh BRMP Mektan juga dapat menghemat biaya pengadaan. Amran mengungkapkan, "Kemarin kan harganya yang tadi kita hitung-hitung per unit itu Rp300 juta. Kayak yang dulu itu Rp600 juta, ini separuh. Terus kemudian rice transplanter itu mungkin Rp10 jutaan dari harga (pasaran) Rp60 jutaan."

Penghematan biaya produksi alat yang mencapai sekitar 50% ini menunjukkan potensi besar untuk mempercepat adopsi teknologi modern di kalangan petani. Hal ini akan menjadikan alat pertanian otonom lebih terjangkau dan mudah diakses.

Menteri Pertanian menegaskan bahwa inovasi alat pertanian otonom ini merupakan bagian dari visi besar untuk mewujudkan pertanian modern di Indonesia. Efisiensi, kreativitas, dan kemandirian teknologi menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

Amran menyatakan bahwa meskipun combine harvester dan rice transplanter saat ini masih dalam tahap uji coba, fungsionalitasnya sudah terbukti. "Combine harvester dan rice transplanter saat ini masih tahap uji coba. Tapi sudah bisa jalan. Masih pakai solar, diesel ke depan pakai baterai. Karena pakai baterai jauh lebih murah, bisa hemat sampai 60 persen (biaya)," jelasnya.

Meskipun belum disebutkan target produksi spesifik, Amran optimistis bahwa teknologi ini akan segera terealisasi secara luas. Ini akan menandai era baru pertanian yang lebih cerdas, hemat energi, dan diminati oleh generasi muda.

Amran menutup dengan semangat, "Memang begitu kalau pemimpin. Kalau sudah capai target, naik lagi. Jadi gantungkan cita-citamu sejengkal di atas kepala. Begitu raih, naik lagi. Bung Karno juga benar. Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit."

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi