Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jokowi: Tiga tahun lalu saya ke daerah keluhannya listrik kurang, sekarang nggak lagi

Jokowi: Tiga tahun lalu saya ke daerah keluhannya listrik kurang, sekarang nggak lagi Jokowi. ©2016 merdeka.com/idris

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, 9, dan 10 IPP dengan total kapasitas mencapai 4.000 Mega Watt (MW), di Desa Terate, Kecamatan Kerawatwatu, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (5/10).

Selain itu, Presiden Jokowi juga meresmikan beroperasinya PLTU Banten kapasitas 660 MW, serta meninjau pembangunan Coal Terminal 20 juta ton di Provinsi Banten. Dari seluruh proyek tersebut total investasi sekitar Rp 100 triliun.

Dalam peresmian tersebut, Presiden Jokowi bercerita bahwa tiga tahun lalu setiap kunjungan ke berbagai daerah, masyarakat selalu mengeluhkan kekurangan listrik. Namun setelah tiga tahun berlalu keluhan itu pun tidak lagi terdengar.

"Tiga tahun lalu, ini cerita, setiap saya pergi ke provinsi baik di Sumatera, Kalimantan Sulawesi di NTT, NTB di Maluku di Papua ke kabupaten juga sama keluhannya sama listriknya kurang, byar pet. Tetapi setelah tiga tahun, tahun ini, saya muter lagi, saya nggak dengar lagi suara-suara itu," kata Presiden Jokowi.

Artinya kerja cepat yang telah dilakukan PLN tersebut sudah mulai dirasakan masyarakat. Meskipun katanya, pembangkit-pembangkit listrik yang sedang dibangun proyeknya masih banyak.

"Oktober 2019 kita harapkan kelihatan. Di petanya kan udah kelihatan nggak ada yang warnanya merah. Warnanya hijau dan kuning. Nanti kuning akan hilang sehingga seluruh provinsi Sabang sampe Merauke teraliri listrik karena listriknya cukup," ujarnya.

Dalam peresmian tersebut turut hadir Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Dirut PT PLN (Persero) Sofyan Basyir, Gubernur Banten Wahidin Halim.

Untuk diketahui, proyek PLTU Jawa 7, 9, dan 10 dan PLTU IPP Banten merupakan salah satu proyek yang masuk ke dalam program 35.000 MW. Sementara pembangunan Coal Terminal 20 juta ton merupakan salah satu sarana pendukung untuk memperkuat dan mengefektifkan rantai pasok batu bara untuk PLTU pada wilayah Jawa Barat.

PLTU Jawa 7 memiliki kapasitas 2 X 1.000 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun 2020 dengan harga jual ke PLN sebesar 4,21 sen USD/kWh. Pengadaan proyek ini menggunakan skema bisnis Build, Own, Operate, and Transfer (BOOT) selama 25 tahun. Dengan nilai investasi sebesar USD 1,88 miliar.

Sementara PLTU Jawa 9 dan 10 memiliki kapasitas 2x1.000 MW merupakan IPP yang dibangun bersebelahan dengan PLTU Suralaya 1 – 8 di Suralaya, Provinsi Banten. Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar USD 3 milyar. PLTU ini menggunakan skema penugasan PLN kepada Anak Perusahaan yaitu PT Indonesia Power sesuai Perpres No. 19 Tahun 2017. Pengadaan proyek ini menggunakan skema bisnis BOOT.

PLTU Banten 660 MW ialah IPP yang bernama PT Lestari Banten Energi dengan kapasitas 660 MW, dengan kontrak penjualan ke PLN sebesar 600 MW. Pengadaan proyek ini menggunakan skema BOOT selama 25 tahun. Harga jual ke PLN sebesar 5,99 cent/kWh. Nilai investasi PLTU Banten 660 MW ini adalah sebesar USD 990 juta.

Sedangkan, Terminal Batu bara (Coal Terminal) dibangun guna memperkuat dan mengefektifkan rantai pasok batu bara, untuk PLTU di wilayah Jawa Bagian Barat. Terminal Batu bara ini dibangun oleh anak perusahaan PLN yaitu PT PLN Batu bara dengan Gama Coorp dapat memberikan kontribusi sebagai terminal penghubung dengan kapasitas 20 juta ron. Lokasi Terminal Batu bara bersebelahan dengan PLTU Jawa 7 dengan target untuk dapat beroperasi secara komersial bersamaan dengan kebutuhan PLTU Jawa.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP