Industri Mobil RI Anjlok: Gagal Masuk 10 Besar Dunia, Produksi Turun Drastis

Ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih serta daya beli domestik yang melemah menjadi tantangan utama.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Industri Mobil RI Anjlok: Gagal Masuk 10 Besar Dunia, Produksi Turun Drastis
Industri Mobil RI Anjlok: Gagal Masuk 10 Besar Dunia, Produksi Turun Drastis (Merdeka.com)

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat bahwa Indonesia turun ke peringkat ke-14 dunia sebagai produsen kendaraan bermotor pada tahun 2024. Posisi ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, di mana Indonesia sempat menduduki peringkat ke-11 dunia pada 2022.

"Posisi kita saat ini sebagai produsen kendaraan bermotor dunia berada di peringkat 14. Padahal pada 2022, kita sempat mencapai posisi ke-11," ujar Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara, dalam Rapat Panja Perlindungan Konsumen bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (10/7).

Penurunan ini menjadi sorotan mengingat pemerintah sebelumnya menargetkan agar Indonesia dapat menembus posisi 10 besar produsen otomotif global. Namun, Kukuh menilai kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih serta daya beli domestik yang melemah menjadi tantangan utama.

"Pemerintah waktu itu menargetkan bisa masuk 10 besar dunia, namun kondisi ekonomi global dan domestik menunjukkan arah yang berbeda. Ini tantangan yang sedang kita hadapi," jelasnya.

Meskipun demikian, Kukuh tetap optimistis dengan potensi industri otomotif dalam negeri. Ia menekankan bahwa pasar domestik yang besar serta basis produksi yang kuat masih menjadi modal penting untuk pemulihan industri otomotif Indonesia.

"Dari sisi penjualan domestik, kita menempati posisi ke-17 dunia. Pasar kita tetap menarik meskipun sedang menghadapi banyak tantangan," tambahnya.

Dari sisi penjualan, Indonesia juga mengalami penurunan signifikan. Pada 2023, penjualan mobil di dalam negeri hanya mencapai sekitar 865 ribu unit, jauh di bawah angka 1 juta unit yang sebelumnya berhasil dipertahankan sejak 2013. Tren penurunan ini telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

"Sejak 2013, kita sudah masuk One Million Club, yaitu negara yang mampu memproduksi dan menjual lebih dari satu juta unit kendaraan roda empat per tahun," ungkap Kukuh.

Program mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) disebut sebagai salah satu pendorong utama capaian One Million Club. Mobil-mobil dalam program ini memiliki kandungan lokal tinggi dan harga terjangkau, yang memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan bermotor.

"LCGC mampu mendorong pertumbuhan penjualan dan industri, karena kendaraan ini dibuat dengan kandungan lokal tinggi dan harganya dibatasi agar tetap terjangkau," ujarnya.

Namun, pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 masih belum sepenuhnya tuntas. Meski sempat terbantu oleh insentif pajak PPN DTP dari pemerintah, tekanan ekonomi global kembali melemahkan daya beli masyarakat dan pencapaian industri otomotif nasional.

Rekomendasi