Industri Keramik Dalam Negeri Keluhkan Tingginya Harga Gas

Kamis, 14 Maret 2019 20:03 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Industri Keramik Dalam Negeri Keluhkan Tingginya Harga Gas pipa gas. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) meminta pemerintah untuk mengevaluasi harga gas yang digunakan industri untuk produksi keramik. Saat ini, harga gas yang disalurkan ke industri keramik dinilai masih mahal dan bervariasi antara satu daerah dan daerah yang lain.

"Harga gas di Jawa Timur USD 7,98 per MMBTU, di Jawa Barat USD 9,1 di Sumatera Utara USD 9,3. Komponen gas kurang lebih 30-35 persen di produksi, jadi sangat material," kata Ketua Umum Asaki, Edy Susanto di sela-sela Pameran Keramika, di JCC, Jakarta, Kamis (14/3).

Harga gas yang tinggi dan tidak merata menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi. Tinggi biaya operasional menyebabkan industri sulit melakukan ekspansi bisnis."Sumatera Utara dengan USD 9, untuk produksi, mereka tidak berani set up investasi yang besar karena hanya mencocokkan sesuai permintaan pasar di situ," urai Edy.

Selain itu, disparitas harga antara wilayah membuat industri keramik untuk meluaskan pangsa pasar ke daerah lain. "Dari Sumatera tidak berani ekspor ke Jawa yang lebih murah gasnya. Otomatis dia tidak berkembang. Akhirnya kapasitasnya bisa berkembang."

Hal tersebut berbuntut panjang, hingga memengaruhi kinerja ekspor industri keramik Indonesia. Saat ini ekspor produk keramik Indonesia hanya berkisar 10 persen dari total produksi. "Karena kami tidak bisa dipaksa untuk terlalu agresif keluar," jelas dia.

Produk keramik Indonesia kemudian kalah bersaing dengan produk dari China, India, dan Vietnam, yang menggunakan coal gas sebagai sumber energi. Indonesia juga kalah bersaing dengan Malaysia yang harga gasnya lebih rendah, yakni USD 7,5 per MMBTU.

Karena itu, pelaku industri keramik berharap agar pemerintah dapat menerapkan harga gas yang cocok bagi industri tanpa harus menggerus keuntungan PGN, sebagai perusahaan penyalur gas. "Kami tidak minta sesuai apa yang jadu janji pemerintah dulu, yaitu USD 6. Kami juga tidak mau, intinya PGN bisa sustain. Yang penting penyalur gas dan kami bisa tumbuh bersama sehingga harus punya harga gas yang win-win," kata Edy.

"Harapan kami, paling tidak harga gas di Surabaya, Jabar, itu disamakan. Kami tidak minta sesuatu di luar kemampuan pemerintah. Kalau bisa disamakan saja USD 7,98," imbuhnya.

Dia pun memastikan kinerja ekspor industri keramik Indonesia akan lebih moncer dari sebelumnya, bahkan porsi ekspor akan lebih besar sehingga Indonesia dapat meluaskan penetrasi ke pasar regional. "Kalau itu bisa realisasi, kami yakin itu bisa tembus di atas 30 persen. Saya yakin yang namanya Malaysia, Singapura, Myanmar, Laos, Filipina, itu bisa kita dapatkan," ujarnya.

Menanggapi hal ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui bahwa harga gas di Indonesia memang masih tinggi. "Tentu harga gas menjadi tantangan bukan hanya industri keramik tapi seluruh industri secara keseluruhan," kata dia.

Airlangga berharap penyelesaian terkait harga gas ini, dapat dilakukan secara business to business (B2B) antara pelaku usaha dan PGN. "Tadi ada direktur PGN, kami minta bisa diselesaikan secara B2B," tandas Airlangga.

"Jadi kalau diberi kesempatan dengan harga gas yang lebih berdaya saing, saya yakin kita bisa genjot ekspor. Secara teknologi kita lebih advance, bagus, dibanding tetangga. Raw material juga kita lebih lengkap," tandasnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini