Impor CO2 dari Singapura, Indonesia Siapkan Proyek Besar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa Indonesia berencana mengimpor karbon (CO2) dari Singapura dan negara lain.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Impor CO2 dari Singapura, Indonesia Siapkan Proyek Besar
Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan (© 2025 Liputan6.com)

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengungkapkan bahwa Indonesia akan mengimpor karbon (CO2) dari Singapura dan negara-negara lain.

Karbon tersebut akan digunakan dalam proyek penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).

Pemerintah Indonesia dan Singapura diketahui telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait proyek CCS ini beberapa waktu lalu. Dadan menekankan bahwa Indonesia akan menerima CO2 dari Singapura, yang kemudian akan disimpan di dalam negeri.

"Singapura nanti akan melakukan capturing-nya (CO2) di sana, kemudian di-transport, kemudian disimpan di wilayah Indonesia, dan ini tentunya merupakan salah satu peluang ekonomi juga. Kita sedang memastikan dengan Singapura bahwa hal-hal ini dari sisi risiko, dari sisi keekonomian, dari sisi regulasi juga bisa sesuai," ujar Dadan dalam webinar Menakar Potensi Bisnis CCS/CCUS di Indonesia pada Selasa (22/7).

Dia menambahkan bahwa skema ini membuka peluang ekonomi bagi Indonesia, mengingat ada satuan harga yang telah ditetapkan. Selain itu, proyek ini juga berpotensi menurunkan tingkat emisi karbon nasional.

"Jadi kalau ini bisa berjalan, tentunya ini membuka peluang ekonomi baru, di samping juga tentunya membuka kesempatan yang baru buat Indonesia untuk menurunkan dari emisi CO2-nya," jelasnya.

Dadan juga menambahkan, "Jadi ada kombinasi dari pemanfaatan teknologi CCS ini, dari sisi ekonomi dan juga dari sisi penurunan emisi." Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi negara.

Indonesia Bakal Impor CO2 dari Singapura Buat Garap Proyek Ini
Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan © 2025 Liputan6.com

Dadan menyadari bahwa langkah impor CO2 yang diambilnya akan memicu berbagai komentar dari masyarakat. Ia ingin menegaskan bahwa impor ini tidak berdampak negatif, melainkan merupakan upaya untuk bekerja sama dengan negara lain.

"Memang nanti akan ada banyak cerita, kita kok mengimpor CO2, kan datangnya dari luar negeri. Ini konteksnya bukan seperti itu, kita bekerjasama dengan negara lain, kita memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di dalam negeri, dan kalau ini tidak dimanfaatkan kan juga ini percuma," tuturnya.

Lebih lanjut, Dadan menjelaskan pentingnya kolaborasi internasional untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan di bidang ekonomi.

"Jadi kita dorong juga untuk bekerjasama luar negeri, nanti pengalaman tersebut dari keekonomian tersebut ini yang akan dipakai untuk yang di dalam negeri. Tidak dalam urutan sebetulnya harus luar negeri juga, kalau dalam negeri sudah siap, kita dorong juga ini bisa berjalan dengan cepat," sambungnya.

Dengan demikian, ia berharap langkah ini dapat memberikan manfaat bagi perekonomian dalam negeri.

Bahlil Singgung KPI Ketum Tambah Kursi di DPR: Kalau Turun, Mohon Maaf Prestasinya Tidak Bagus
Bahlil membuka Musda Golkar Sulawesi Tengah di Palu (Dok. Antara) © 2025 Liputan6.com

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa produk industri tidak akan mampu bersaing tanpa mempertimbangkan praktik ramah lingkungan.

Ia menyoroti potensi Indonesia dalam bidang penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS). Pernyataan ini disampaikan Bahlil di hadapan perwakilan pemerintah Singapura setelah penandatanganan tiga Nota Kesepahaman (MoU). Salah satu MoU tersebut mencakup ekspor listrik serta kerja sama dalam bidang CCS.

“Kita juga harus mau membuka diri untuk menerima program dan kerjasama terhadap CCS,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada hari Jumat (13/6/2025).

Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong industri yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, diharapkan industri Indonesia dapat bersaing di pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Dia menekankan bahwa penerapan Carbon Capture and Storage (CCS) dapat menjadi salah satu keunggulan dalam menciptakan produk yang mampu bersaing di pasar global.

"Sekarang tidak akan mungkin sebuah produk industri itu akan kompetitif dengan produk-produk lain di dunia kalau tidak memakai energi baru terbarukan atau prosesnya tidak mendekatkan pada green industry yang baik," ungkapnya.

Bahlil juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam teknologi CCS ini. Terlebih lagi, Indonesia memiliki banyak bekas sumur minyak dan gas (migas) yang dapat dimanfaatkan.

"Kita mempunyai kapasitas untuk CCS salah satu terbesar di dunia, bahkan terbesar untuk di Asia Pasifik karena kita mempunyai eks daripada sumur-sumur minyak dan sumur-sumur gas," tandasnya.

Rekomendasi