HIMKI Yakin Ekspor Furnitur Indonesia Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar Global

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) optimis Ekspor Furnitur Indonesia berpotensi besar memenuhi kebutuhan pasar global yang mencapai miliaran dolar, didukung kekayaan desain dan platform IFEX.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
HIMKI Yakin Ekspor Furnitur Indonesia Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar Global
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) optimis Ekspor Furnitur Indonesia berpotensi besar memenuhi kebutuhan pasar global yang mencapai miliaran dolar, didukung kekayaan desain dan platform IFEX. (AntaraNews)

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan industri furnitur nasional untuk memenuhi permintaan pasar global yang terus berkembang. Nilai pasar sektor ini mencapai 201 miliar dolar AS per tahun, menunjukkan potensi besar Indonesia dalam perdagangan internasional, demikian disampaikan Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur.

Peluang besar ini didasari oleh kekayaan bahan baku tropis melimpah, kekuatan desain yang berakar pada budaya lokal, serta dukungan platform perdagangan internasional. Indonesia International Furniture Expo (IFEX) menjadi salah satu platform penting.

Pameran IFEX yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, pada 5 hingga 8 Maret ini, menjadi bukti kepercayaan pasar global. Ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong Ekspor Furnitur Indonesia.

Abdul Sobur dari HIMKI menekankan bahwa industri furnitur dan kerajinan merupakan salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan internasional. Indonesia, dengan potensi melimpah, memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di kancah global.

“Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar. Basis industri yang luas, kekayaan desain yang berakar pada budaya, serta meningkatnya kesadaran global terhadap produk berkelanjutan memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekspor furnitur,” ujar Abdul Sobur.

Produk furnitur dan kerajinan Indonesia tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi juga membawa identitas budaya, nilai estetika, dan kearifan lokal. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan produk Indonesia di pasar global yang kompetitif.

Meskipun memiliki potensi besar, struktur pasar furnitur global saat ini masih didominasi oleh beberapa negara. China memimpin dengan nilai ekspor mencapai 130 miliar dolar AS, diikuti oleh Vietnam dengan 21 miliar dolar AS, dan Jerman sebesar 18 miliar dolar AS.

Ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia pada tahun 2023 tercatat sekitar 2,44 miliar dolar AS, dan hingga November 2024 mencapai 2,37 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain yang relatif kecil di pasar global.

Namun, HIMKI meyakini bahwa peluang pertumbuhan Ekspor Furnitur Indonesia masih sangat besar. Ini dapat tercapai jika strategi pengembangan industri dan perdagangan dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.

Indonesia International Furniture Expo (IFEX) berperan sebagai platform strategis yang menghubungkan industri furnitur nasional dengan pasar internasional. Penyelenggaraan IFEX secara rutin menunjukkan tingginya kepercayaan industri dan pasar global terhadap kemampuan Indonesia.

Strategi untuk mendatangkan pembeli internasional ke Indonesia melalui pameran berskala global seperti IFEX dinilai efektif dalam memperkuat Ekspor Furnitur Indonesia. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub produksi manufaktur furnitur global.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial. Sektor ini bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kinerja sektor industri pengolahan bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 mencapai 5,30 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian ini merupakan momentum penting setelah 14 tahun pertumbuhan industri kembali di atas pertumbuhan ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi