Harga pangan akhir 2017 melejit, ini pembelaan Kementan

Senin, 25 Desember 2017 20:00 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Harga pangan akhir 2017 melejit, ini pembelaan Kementan Harga cabai naik. ©2014 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Ketersediaan dan harga bahan pangan diklaim aman dan stabil menyambut Natal dan Tahun Baru 2018. Namun, kenyataan di lapangan, harga berbagai bahan pangan dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2018 terjadi anomali cukup siginifikan.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono mengatakan, berdasarkan pantauan dan identifikasi tim cabai dan bawang di lapangan, sejumlah bahan pangan mengalami surplus pasokan karena hasil panen melimpah.

"Kita perlu waspada dengan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan momen hari besar dan kondisi cuaca ini, untuk menaikkan harga bahan pangan pokok di pasar sedangkan harga di petani kami tetap rendah," kata Spudnik melalui pesan singkat kepada merdeka.com, Jakarta, Senin (25/12).

Di mana, ketersediaan bawang merah pada Desember sebesar 123.849 ton dari kebutuhan 109.437 ton. Atau, surplus 14.412 ton.

Selanjutnya, ketersediaan cabai besar pada Desember sebesar 104.064 ton dari kebutuhan 95.652 ton, atau surplus 8.412 ton. Selain itu, ketersediaan cabai rawit pada Desember 81.637 ton dari kebutuhan 73.099 ton, atau surplus 8.538 ton.

"Ini berarti bahwa ketersediaan dan produksi secara nasional maupun di sentra utama dan non sentra masih aman dan terkendali," kata Spudnik.

Dia melanjutkan, saat ini harga bawang merah di tingkat petani/produsen Rp 7.000 (Demak, Pati dan Cirebon), Brebes dan Rp 8.000, Bima Rp. 9.000, Solok Rp 11.000, Garut, Majalengka dan Malang Rp 12.000.

Harga pasar induk Kramat jati Rp 12.000 sedangkan harga rata rata Rp 13.077. Namun, harga di tingkat konsumen mencapai Rp 30.000. "Ada peningkatan harga 400 persen bila dibandingkan dengan harga di tingkat petani," ujarnya.

Adapun lokasi panen bawang merah saat ini yaitu Brebes : 2.800 Ha, Enrekang : 1.084 Ha, Demak : 921 Ha, Solok : 689 Ha. "Bawang merah sudah kita ekspor kurang lebih 10.500 ton ke beberapa negara ASEAN seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste," ungkap Spudnik.

Dia menambahkan saat ini untuk harga cabai rawit merah di tingkat petani/produsen Rp 8.500 (di Jeneponto). Bandung, Ciamis Kulon Progo, Bantul, di kisaran Rp 12.000 - Rp 13.000. Lamongan, Sumbawa dan Sampang Rp 10.000. Banyuwangi, Sumenep dan Lumajang Rp 14.000 - Rp 15.000. Tasikmalaya dan Lombok Timur Rp 15.000.

Namun, harga di tingkat konsumen Rp 35.000- Rp 40.000. "Ada peningkatan harga 605 persen bila dibandingkan dengan harga di tingkat petani," ucapnya.

Saat ini, lokasi panen cabai rawit merah berada di Lombok timur : 2.000 Ha, Jember : 1.500 Ha, Banjarnegara :1.296 Ha, Garut : 928 Ha, Kediri : 880 Ha, Blitar : 870 Ha, Malang : 766 Ha.

Sementara, cabai merah keriting di tingkat petani, harga terendah Rp 9.000 di Jeneponto. Di Enrekang Rp 12.000. Sumbawa, Mamuju Rp 15.000. Harga di wilayah Jawa Timur kisaran Rp 17.000 - Rp 19.000 ( Malang, Kediri, Blitar). Maros dan Bantaeng Rp 16.000 - 17.000.

Jawa Barat kisaran Rp 18.000 - Rp 21.000 (Majalengka, Garut, Bandung, Tasikmalaya). "Sedangkan harga di tingkat retail Jakarta Rp 35.000 - Rp 50.000. Ada peningkatan harga 455 persen bila dibandingkan dengan harga di tingkat petani," terang Spudnik.

Lokasi panen Cabai besar saat ini ialah Garut : 1.028 Ha, Kulon Progo : 900 Ha, Brebes : 945 Ha, Rejang Lebong : 893 Ha, Kerinci : 868 Ha, Malang 500 Ha, Majalengka : 450 Ha. [bim]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini