Menteri Perdagangan, Budi Santoso angkat bicara terkait lonjakan harga kelapa parut yang belakangan ini dirasakan masyarakat di berbagai pasar tradisional Indonesia.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut disebabkan oleh tingginya volume ekspor komoditas tersebut yang membuat pasokan dalam negeri menjadi terbatas.
"Ya, kami sudah menemukan ya antara industri dan eksportirnya. Ya kan ini kan mahal kan karena diekspor ya," ungkap Budi.
Budi menjelaskan, harga ekspor kelapa parut memang jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual di pasar dalam negeri. Hal itu mendorong para pelaku usaha lebih memilih mengekspor produk mereka, sehingga mengurangi ketersediaan di pasar lokal.
"Harga ekspornya memang lebih tinggi daripada harga dalam negeri. Ya sehingga karena semua ekspor akhirnya jadi langka dalam negeri. Nah ini kita mempertemukan antara pelaku industri dan juga eksportir," jelasnya.
Dalam upaya mencari solusi, pihaknya kini berupaya mempertemukan pihak industri dengan para eksportir agar tercipta keseimbangan antara kebutuhan ekspor dan kebutuhan pasar domestik.
Budi menekankan pentingnya mencari jalan tengah agar semua pihak, termasuk petani dan eksportir, tetap mendapatkan keuntungan yang wajar.
"Biar nanti ada kesempatan yang lebih baik. Karena kita juga di dalam negeri membutuhkan, tetapi harga tentunya juga kalau murah kan petani, eksportir kan nggak mau. Jadi nanti kita cari kesempatan yang lebih baik," Budi mengakhiri.
Advertisement
Sebelumnya, kenaikan harga santan kelapa di sejumlah pasar tradisional di Batam di bulan Ramadan ini semakin memberatkan pedagang dan pembeli.
Harga santan murni kini melonjak hingga 100 persen, dari kisaran Rp28.000–Rp30.000 menjadi Rp46.000 per kilogram. Santan campuran yang sebelumnya belasan ribu kini ikut naik menjadi Rp30.000.
"Sudah hampir dua bulan ini kelapa susah didapat. Harganya terus naik, sekarang santan murni kami jual Rp46.000, kalau campuran Rp30.000," ujar Jumri, pedagang santan di Pasar Mitra Raya, Batam Centre, Selasa (4/3).
Kelangkaan kelapa menjadi penyebab utama kenaikan harga santan. Banyak petani memilih mengekspor kelapa ke luar negeri karena harga jual yang lebih tinggi. Harga kelapa di tingkat petani yang semula Rp7.000 per butir kini hampir menyentuh Rp15.000, menyebabkan stok di pasaran semakin menipis.
Dampak dari lonjakan harga ini langsung dirasakan pembeli yang mulai mengurangi pembelian santan. Jika biasanya membeli setengah kilogram, kini hanya seperempat. Bahkan, santan campuran menjadi pilihan utama karena lebih terjangkau.
Penurunan permintaan ini juga berimbas pada penjualan daging. Ian, pedagang daging di pasar yang sama, mengeluhkan menurunnya pembeli.
"Kami ikut terdampak, karena biasanya orang beli santan untuk masak gulai daging. Sekarang, karena santan mahal, daging yang dibeli pun ikut dikurangi," katanya.