Fakta Unik: 80-90% Pasokan Dunia dari Sumbar, Gubernur Mahyeldi Dorong Hilirisasi Gambir ke Kementan

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengusulkan hilirisasi gambir ke Kementerian Pertanian. Mengapa komoditas yang 80-90% pasokannya dari Sumbar ini perlu segera diolah?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: 80-90% Pasokan Dunia dari Sumbar, Gubernur Mahyeldi Dorong Hilirisasi Gambir ke Kementan
Gubernur Sumbar Mahyeldi mengusulkan hilirisasi gambir ke Kementerian Pertanian. Mengapa komoditas yang 80-90% pasokannya dari Sumbar ini perlu segera diolah? (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) secara resmi mengusulkan program hilirisasi gambir kepada Kementerian Pertanian. Usulan ini disampaikan langsung oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi, beberapa waktu lalu di Padang, menyoroti potensi besar komoditas unggulan daerah tersebut. Langkah strategis ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah gambir yang memiliki peran penting di pasar global.

Inisiatif ini muncul karena Indonesia merupakan pemasok gambir terbesar di dunia, dengan sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan gambir global dipenuhi langsung dari Provinsi Sumbar. Ekspor gambir asal Indonesia tidak hanya ke India, tetapi juga menjangkau negara-negara seperti Jepang, Pakistan, Filipina, Bangladesh, Malaysia, serta beberapa negara di Benua Eropa. Kondisi ini menunjukkan dominasi Sumbar dalam rantai pasok gambir internasional.

Gubernur Mahyeldi menekankan pentingnya intervensi khusus dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk menguatkan hilirisasi gambir. Dorongan ini selaras dengan Asta Cita Presiden poin kelima, yang berfokus pada kelanjutan hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian ekonomi yang lebih kuat bagi petani gambir.

Gambir dari Sumatera Barat telah lama dikenal sebagai komoditas ekspor strategis yang mendominasi pasar internasional. Dengan kontribusi mencapai 80 hingga 90 persen dari total pasokan dunia, Sumbar memegang peranan krusial dalam memenuhi kebutuhan gambir global. Keunggulan ini menjadikan gambir sebagai salah satu komoditas pertanian yang memiliki daya saing tinggi.

Destinasi ekspor gambir Sumbar sangat beragam, mencakup pasar Asia seperti India, Jepang, Pakistan, Filipina, dan Bangladesh, hingga negara-negara di Benua Eropa. Luasnya jangkauan pasar ini menunjukkan permintaan yang konsisten terhadap produk gambir Indonesia. Namun, sebagian besar gambir masih diekspor dalam bentuk mentah, yang membatasi potensi nilai tambah dari komoditas ini.

Oleh karena itu, Gubernur Mahyeldi melihat urgensi untuk melakukan hilirisasi gambir secara komprehensif. Proses hilirisasi ini tidak hanya akan meningkatkan harga jual produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan. Ini adalah langkah maju untuk mengoptimalkan kekayaan alam yang dimiliki Sumatera Barat.

Penguatan hilirisasi gambir juga sejalan dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden. Poin kelima dari Asta Cita secara spesifik mengamanatkan kelanjutan hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri. Dengan demikian, usulan ini memiliki landasan kuat dari kebijakan pemerintah pusat.

Salah satu alasan utama di balik dorongan hilirisasi gambir adalah untuk mencegah dan mengantisipasi fluktuasi harga di pasar internasional yang kerap terjadi. Ketergantungan pada pasar global membuat petani rentan terhadap perubahan harga yang tidak stabil, yang dapat berdampak langsung pada kesejahteraan mereka. Dengan hilirisasi, petani dapat memiliki pasar domestik yang lebih stabil.

Melalui hilirisasi, petani gambir tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dinamika pasar ekspor, melainkan dapat fokus menjual produk olahan untuk kebutuhan dalam negeri. Diversifikasi pasar ini akan memberikan perlindungan ekonomi yang lebih baik bagi para petani. Ini juga membuka peluang untuk pengembangan produk turunan gambir yang lebih inovatif dan bernilai tinggi.

Gubernur Mahyeldi juga menyoroti contoh nyata keberhasilan hilirisasi gambir yang telah dilakukan di Sumbar, khususnya oleh Universitas Andalas (UNAND). UNAND berhasil mengolah tanaman gambir menjadi tinta yang digunakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Inovasi ini membuktikan bahwa gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

"Industri-industri dalam negeri kita sangat banyak, ditambah lagi keberhasilan UNAND melakukan hilirisasi gambir," kata Mahyeldi. Ia menambahkan, "Saya rasa ini menjadi modal penting untuk melihat lebih jauh hilirisasi demi pembangunan di dalam negeri." Pernyataan ini menegaskan keyakinan pemerintah daerah terhadap kemampuan inovasi lokal dalam mendukung program hilirisasi gambir.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi