Ekonomi Tertekan Imbas Perang Dagang, Pemerintah China Turunkan Batas Tax Fefund
Para analis memperkirakan ekonomi China akan melambat secara signifikan dalam beberapa bulan mendatang.
Pemerintah China mengumumkan ambang batas yang lebih rendah untuk tax refund bagi wisatawan asing. Langkah ini diambil untuk meningkatkan konsumsi di tengah anjloknya ekonomi China akibat tekanan selama perang dagang dengan Amerika Serikat.
Dilansir dari AFP, enurut pernyataan bersama Kementerian Perdagangan dan otoritas lainnya, wisatawan dapat mengajukan tax refund jika mereka membelanjakan 200 yuan (sekitar Rp460.000) di toko yang sama pada hari yang sama dan memenuhi persyaratan lainnya.Sebelumnya, jumlah minimum saat rax refund adalah 500 yuan (sekitar Rp1 juta).
Batas atas potongan pajak mereka dalam bentuk tunai juga telah berlipat ganda menjadi 20.000 yuan (sekitar Rp46 juta).
Pemerintah China juga akan memperluas cakupan tempat pengembalian pajak dan menyederhanakan prosedur. Para pejabat mendorong beberapa daerah untuk mendirikan tempat pengembalian pajak bagi para pelancong untuk mendapatkan potongan harga segera setelah pembelian mereka di daerah-daerah yang banyak dikunjungi wisatawan, kata pernyataan itu.
Wakil Menteri Perdagangan China Sheng Qiuping mengatakan kepada wartawan dalam sebuah konferensi pers bahwa konsumsi wisatawan mancanegara menyumbang sekitar 0,5% dari produk domestik bruto China pada tahun 2024, sementara angka di negara-negara besar lainnya berkisar antara 1% dan 3%. Hal itu menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar, kata Sheng.
Tahun lalu, pengeluaran wisatawan masuk mencapai USD94,2 miliar, naik 77,8%, tambahnya.
Ekonomi China tumbuh pada kecepatan tahunan 5,4% pada Januari-Maret, kata pemerintah awal bulan ini, didukung oleh ekspor yang kuat menjelang kenaikan tarif cepat oleh Presiden AS Donald Trump pada produk-produk China.
Namun, para analis memperkirakan ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan melambat secara signifikan dalam beberapa bulan mendatang karena tarif setinggi 145% atas impor AS dari China mulai berlaku. Beijing telah membalas AS dengan tarif 125% atas ekspor Amerika, sekaligus menekankan tekadnya untuk tetap membuka pasarnya sendiri bagi perdagangan dan investasi.
China telah meningkatkan upaya untuk memacu lebih banyak belanja konsumen dan investasi sektor swasta selama beberapa bulan terakhir, dengan menggandakan subsidi untuk tukar tambah mobil dan peralatan serta menyalurkan lebih banyak dana untuk perumahan dan industri lain yang kekurangan uang.