Blak-blakan Bos Danantara Ungkap Biang Keladi Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 Triliun di Tahun 2025

COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengalami kerugian yang semakin meningkat.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Blak-blakan Bos Danantara Ungkap Biang Keladi Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 Triliun di Tahun 2025
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria saat ditemui di Kawasan Senen, Minggu, (29/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH) (© 2026 Liputan6.com)

Bos Danantara ungkap penyebab kerugian sebesar USD 319,39 juta atau sekitar Rp5,42 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.990) sepanjang tahun 2025. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menjelaskan kerugian yang dialami oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA salah satunya karena beban operasional yang tinggi.

Kerugian Rp5,42 triliun meningkat signifikan dibandingkan dengan kerugian sebesar USD 69,77 juta atau Rp1,18 triliun yang terjadi pada tahun 2024. Dony mengakui bahwa beban operasional merupakan salah satu alasan utama terjadinya kerugian yang besar tersebut.

"Jadi dulu memang mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan pesawat mereka," ungkap Dony saat ditemui di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada Minggu (29/3).

Dia mencatat bahwa banyak armada dalam grup Garuda Indonesia yang tidak dapat digunakan akibat kerusakan yang belum diperbaiki. Hal ini menambah beban perusahaan.

"Bayangkan teman-teman sekalian bahwa mereka punya pesawat, di-grounded semua, dan itu harus dibayar terus leasingnya, tapi tidak mendapatkan penghasilan. Inilah yang menyebabkan makanya kerugian tahun 2025 itu besar," jelasnya.

Dony juga menambahkan bahwa perbaikan armada pesawat milik Garuda Indonesia tidaklah mudah, mengingat tantangan yang ada dalam industri penerbangan global.

"Ternyata untuk mencari MRO untuk perbaikan itu tidak semudah itu juga. Beberapa engine kita, engine-engine kita masuk ke shop itu, itu juga masih belum dapat antrean," ujar Kepala Badan Pengaturan BUMN ini.

Kinerja Keuangan GIAA

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA melaporkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar USD 3,22 miliar, mengalami penurunan sebesar 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan fase konsolidasi operasional yang dilakukan untuk memperkuat fundamental bisnis.

"Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025 dimana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairuppan, dalam keterangan resmi.

Pada tahun ini, perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar USD 319,39 juta. Kerugian tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar serta peningkatan biaya tetap yang berkaitan dengan intensifikasi program pemulihan serviceability armada yang belum dapat dioperasikan. "Tren tekanan kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar Rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan," jelas dia.

Garuda Indonesia Group berencana untuk meningkatkan jumlah armada pada akhir tahun 2025 menjadi setidaknya 99 pesawat, meningkat dari sekitar 84 pesawat pada Juni 2025. Sementara itu, terdapat 43 pesawat yang masih dalam proses perbaikan hingga akhir tahun 2025.

"Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya," katanya. Dengan langkah pemulihan armada yang terus berlanjut dan penerapan transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis bahwa kapasitas produksi dan kinerja operasional akan meningkat secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid.

Rekomendasi