BEI Bali Gencar Jemput Bola, Dorong Perusahaan Lokal Go Public untuk Keberlanjutan Usaha

Kantor Perwakilan BEI Denpasar aktif 'jemput bola' untuk BEI Bali Dorong Perusahaan Lokal Go Public, menawarkan pendampingan agar bisnis lebih berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BEI Bali Gencar Jemput Bola, Dorong Perusahaan Lokal Go Public untuk Keberlanjutan Usaha
Kantor Perwakilan BEI Denpasar aktif 'jemput bola' untuk BEI Bali Dorong Perusahaan Lokal Go Public, menawarkan pendampingan agar bisnis lebih berkelanjutan. (AntaraNews)

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Denpasar, Bali, secara proaktif mengambil langkah "jemput bola" untuk mendorong perusahaan-perusahaan lokal agar dapat melantai di bursa saham atau "go public". Inisiatif ini bertujuan utama untuk memastikan keberlangsungan usaha jangka panjang serta meningkatkan performa bisnis di tengah persaingan pasar yang ketat. Upaya ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan BEI untuk memperluas partisipasi korporasi di pasar modal.

Kepala BEI Denpasar, I Gusti Agus Andiyasa, menegaskan bahwa pendekatan ini melibatkan serangkaian pertemuan intensif dan lokakarya. Kegiatan tersebut ditujukan bagi perusahaan-perusahaan potensial di Bali yang memiliki minat untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) kepada publik. "Setiap tahun kami terus adakan untuk mendorong dan mengingatkan mereka persiapan untuk IPO," katanya.

Melalui program pendampingan ini, BEI Denpasar berupaya membimbing perusahaan dalam memenuhi standar akuntabilitas dan legalitas. Langkah strategis ini diharapkan dapat membuka akses permodalan baru, memperbaiki tata kelola perusahaan secara signifikan, dan sekaligus meningkatkan pengenalan merek di pasar yang lebih luas.

Perusahaan yang memutuskan untuk "go public" akan mendapatkan berbagai keuntungan signifikan yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan bisnisnya. Salah satu manfaat utama adalah akses terhadap dana segar berkelanjutan yang dapat digunakan sebagai modal usaha. Selain itu, status sebagai perusahaan publik juga mendorong peningkatan tata kelola perusahaan menjadi lebih transparan dan akuntabel.

"Salah satu tujuan go public itu untuk menjaga keberlangsungan usaha agar berjalan baik dan jangka panjang tetap ada," kata Kepala BEI Denpasar I Gusti Agus Andiyasa. Ia menambahkan bahwa perusahaan yang melantai di bursa akan makin dikenal publik, yang secara tidak langsung meningkatkan citra dan kepercayaan investor. Pemerintah juga menawarkan insentif pajak tertentu bagi perusahaan yang telah "go public", menambah daya tarik langkah ini.

BEI Denpasar siap memberikan pendampingan komprehensif bagi perusahaan yang tertarik untuk IPO. Pendampingan ini mencakup perbaikan standar akuntabilitas, legalitas, hingga implementasi tata kelola perusahaan yang baik. Kondisi ini seringkali menjadi beberapa kendala utama yang dihadapi perusahaan ketika ingin melakukan penawaran umum perdana.

Hingga saat ini, BEI Denpasar mencatat sudah ada delapan perusahaan yang bermarkas di Bali dan telah tercatat di lantai bursa. Perusahaan-perusahaan ini bergerak di berbagai sektor, termasuk pertanian, minuman, ritel, kesehatan, farmasi, hingga perusahaan olahraga. "Sampai saat ini transaksi berjalan baik dan harga sahamnya juga dalam batas wajar," ujar I Gusti Agus Andiyasa, menunjukkan performa positif emiten lokal.

Secara nasional, Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan bahwa per 7 November 2025, total jumlah perusahaan tercatat saham telah mencapai 954 perusahaan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam partisipasi korporasi di pasar modal Indonesia. Dinamika ini memberikan gambaran positif bagi potensi perusahaan lokal di Bali untuk ikut serta dalam ekosistem investasi yang berkembang.

Rata-rata nilai transaksi saham harian di Indonesia mencapai Rp16,64 triliun, dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi mencapai Rp15.559 triliun pada 10 Oktober 2025. Data ini menunjukkan likuiditas dan skala pasar modal yang besar, menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor dan sumber permodalan bagi emiten. Total investor saham, obligasi, dan reksa dana per 7 November 2025 juga telah mencapai 19,3 juta investor, dengan 228 ribu investor aktif melakukan transaksi harian.

Iman Rachman juga menyoroti pergeseran komposisi emiten berkapitalisasi pasar terbesar. Jika pada tahun 2020 sektor perbankan mendominasi, pada tahun 2025 dominasi tersebut bergeser ke sektor energi dan teknologi. Pergeseran ini mencerminkan tren ekonomi global dan nasional, serta membuka peluang bagi perusahaan di sektor-sektor baru untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi