AP II Usung Konsep Smart Digital Airport di Bandara Kelolaannya, Apa Itu?

Jumat, 23 November 2018 10:57 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
AP II Usung Konsep Smart Digital Airport di Bandara Kelolaannya, Apa Itu? Digitalisasi bandara Angkasa Pura II. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - PT Angkasa Pura II akan menerapkan Smart Digital Airport di bandara-bandara yang dikelolanya. Saat ini perusahaan tersebut mengelola 15 bandara di Indonesia.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, menyebutkan ada dua kata kunci untuk mewujudkan hal tersebut yaitu smart dan connected. Pengelolaan bandara tidak lagi hanya fokus pada pembangunan hard infrastruktur seperti pembangunan runway, apron atau gedung terminal. Namun harus fokus juga pada soft infrastrukturnya.

Dia mengungkapkan, pengunjung ke bandara angka semakin tinggi, mencapai 105 juta kunjungan di 2017. Di tahun ini angka tersebut dipastikan bertambah signifikan.

"Era sekarang pengoperasian bandara harus betul-betul terkoneksi. Aktivitas di bandara sangat kompleks. Airport never sleep," kata Awaluddin saat bincang-bincang khusus bersama media, di Hotel Mulia, Jakarta, ditulis Jumat (23/11).

Dia menjelaskan, yang dibangun dalam konteks Smart Airport tentu saja infrastruktur pintar dan keterhubungan konten. Namun, keduanya saat ini belum rampung seutuhnya. "Memang belum selesai, kita sedang membangun. Tidak lagi hard infrastruktur tapi juga soft infrastruktur. Kedua adalah connected konten yang dibuat terkoneksi dan pintar," ujarnya.

Selanjutnya adalah digital community. Karena pada saat konsep smart itu diterapkan tentu harus ada sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu baik itu terhadap karyawan perusahaan maupun masyarakat selaku pengguna jasa bandara. "Ke pelanggan dan pengguna jasa di bandara harus sosialisasi juga karena mereka dulu kan tidak terbiasa," ujarnya.

Saat ini beberapa konsep smart airport sudah mulai diterapkan di bandara. Salah satunya adalah vending machine pemesanan taksi. Penumpang kini tak perlu lagi mengantre panjang untuk mendapatkan taksi dan bisa langsung melakukannya sendiri.

"Kita sudah memulai konsep 4.0, butuh waktu untuk proses harus ada capex (capital expenditure) yang diinvestasikan, ada peningkatan kapabilitas personil kita," ujarnya.

Selain itu, saat ini informasi pesawat delay dan aktivitas lainnya yang sebelumnya harus dilakukan di bandara kini bisa didapat melalui sebuah aplikasi yaitu Indonesia Airports Apps.

Awaluddin mengungkapkan Smart Airport ini tujuannya adalah menjadikan orang yang datang ke bandara tidak hanya sekedar naik ke pesawat. Tetapi juga mendapatkan kepuasan yang lain yaitu 3 E: Experience, Ekspektasi dan Engagement.

"Siapapun di bandara akan ketemu 3 harapan, saya menyebutnya 3E, dia ingin mendapatkan experience yang baik, tidak mau jelek misal nunggu bagasi lama, taksi tidak dapat-dapat, antrean di check in lama, itu kan akan mmberikan experience jelek," ujarnya.

Kedua, pelanggan berharap ingin dipahami oleh operator bandara, misalnya waktu tunggu bagasi yang tidak lama, moda transportasi menuju bandara semakin beragam, dan pergerakan antar terminal yang terukur sehingga bisa mencegah keterlambatan naik pesawat.

"Ketiga, pelanggan ingin adanya engagement dari operator bandara kepada mereka. Diberikan sebuah happiness (kebahagiaan) di bandara. Itulah kenapa sekarang kita bikin program-program creating consumen happiness, ada musik – musik di bandara. Jadi orang datang ke bandara itu punya sesuatu yang menyenangkan, bandara tidak membuat repot, tidak ingin membingungkan," tegasnya.

Keuntungan

Awaluddin mengungkapkan digitalisasi bandara ini akan menghasilkan efisiensi hingga 15 persen. "5 sampai 10 persen efisiensi. Kalau sudah masiv bisa sampai 15 persen efisiensinya," ujarnya.

Konteks operasi dengan menggunakan perangkat digital ini akan melahirkan beberapa peluang baru. Contoh sederhana adalah pengumuman kini tidak lagi dicetak menggunakan banner tapi sudah menggunakan layar. Ternyata dari inovasi tersebut menghasilkan efisiensi serta sumber revenue atau penghasilan yang baru.

"Kita bisa ngisi iklan disitu, bisa diisi kontennya dengan informasi coba dulu masih manual harus cetak roll banner dulu. Konsepnya bergeser," ujarnya.

Dia menambahkan sebelumnya juga data 105 juta pengunjung bandara hanya sebatas data jumlah pembayaran airport tax. Saat ini, data tersebut bisa dikelola menjadi sebuah big data sehingga setiap maskapai pun dapat mengintip data jumlah penumpang saingannya.

Kemudian transaksi yang terjadi di bandara kelolaan Angkasa Pura II setahun mencapai Rp 3 triliun semuanya dilakukan dengan tunai atau cash. Saat ini transaksi di merchant-merchant dilakukan non tunai. "Kita melihat ini peluang bisa kita convert dengan bayaran berbasis e-payment dan di situ kita dapat fee. Banyak bandara tidak menggunakan peluang itu tapi kami mengolah itu menjadi peluang," ujarnya. [bim]

Baca juga:
AP II Sulap Terminal 1 & 2 Bandara Cengkareng Jadi LCCT, Ini Perbedaannya
Desember, Penerbangan Bandara Husein Sastranegara Mulai Dialihkan ke Kertajati
Kenang Perjuangan Pahlawan Lewat Musik Keroncong di Bandara Soekarno-Hatta
Di IMF-World Bank, AP II cari mitra strategis kelola Bandara Kualanamu

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini