Patua BI Sulawesi Utara Perkuat Produksi Pangan Lokal Tekan Inflasi Daerah

Program Petani Unggulan Sulawesi Utara (Patua BI Sulawesi Utara) aktif meningkatkan produksi komoditas penyumbang inflasi, seperti cabai dan bawang merah, melalui pelatihan dan pendampingan petani demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Patua BI Sulawesi Utara Perkuat Produksi Pangan Lokal Tekan Inflasi Daerah
Program Petani Unggulan Sulawesi Utara (Patua BI Sulawesi Utara) aktif meningkatkan produksi komoditas penyumbang inflasi, seperti cabai dan bawang merah, melalui pelatihan dan pendampingan petani demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan. (AntaraNews)

Bank Indonesia (BI) melalui program Petani Unggulan Sulawesi Utara (Patua) secara aktif berpartisipasi dalam upaya peningkatan produksi komoditas penyumbang inflasi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). "Bank Indonesia turut berpartisipasi melalui program pelatihan untuk membentuk Patua untuk mendukung peningkatan produksi di sisi hulu," kata Kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto, di Manado, Minggu. Inisiatif strategis ini merupakan bagian dari komitmen BI untuk mendukung pengendalian inflasi daerah secara berkelanjutan.

Joko Supratikto menjelaskan bahwa fokus utama Patua BI adalah mendukung ketersediaan pasokan pangan serta mengendalikan inflasi daerah. Program ini juga menekankan praktik pengelolaan pertanian yang efektif, mulai dari hulu hingga hilir. Pendampingan menyeluruh diberikan kepada para petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Hingga saat ini, sebanyak 84 Patua telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, menerima berbagai bentuk bantuan. Mereka merupakan ujung tombak dalam implementasi program ini, diharapkan mampu menjadi agen perubahan di sektor pertanian lokal. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif signifikan terhadap perekonomian dan ketahanan pangan di Sulut.

Peningkatan Produktivitas Melalui Program Patua BI

Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara tidak hanya memberikan dukungan finansial, namun juga pelatihan teknis pertanian yang komprehensif kepada para petani. Pelatihan ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengelolaan lahan yang efisien hingga teknik pemupukan yang tepat sasaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapabilitas petani dalam menghasilkan produk pertanian berkualitas tinggi.

Selain itu, program Patua BI juga menyediakan pendampingan lapangan secara intensif, termasuk strategi pengendalian hama yang ramah lingkungan. Pendampingan ini memastikan bahwa petani dapat menerapkan praktik terbaik secara langsung di lahan mereka. Akses pasar juga menjadi perhatian utama, membantu petani memasarkan produk mereka secara lebih efektif.

Fokus utama pendampingan dan pemberdayaan ini adalah komoditas hortikultura pangan, khususnya cabai dan bawang merah, yang sering menjadi pemicu inflasi. Dengan meningkatkan produktivitas komoditas ini, diharapkan pasokan dapat terjaga. Peningkatan ini tidak hanya bertujuan untuk menstabilkan harga, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi daerah dan kemandirian usaha para petani.

Strategi Pengendalian Inflasi Terpadu di Sulut

Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi tahun berjalan (year to date) hingga Juni 2026 sebesar 4,48 persen, dengan inflasi bulanan Juni 2026 mencapai 2,12 persen (mtm). Angka inflasi tahunan (yoy) tercatat sebesar 3,83 persen, menunjukkan tantangan yang perlu diatasi. Data ini menjadi dasar bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut dalam merumuskan kebijakan.

TPID Sulut bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat upaya pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas kelompok barito (bawang, rica/cabai, dan tomat). Kerangka 4K menjadi pedoman utama dalam strategi ini, meliputi:

Dalam jangka pendek, TPID Sulut melakukan berbagai intervensi seperti pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat. Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, fokus diarahkan pada peningkatan produktivitas komoditas penyumbang inflasi serta Kerjasama Antar Daerah (KAD).

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi