Analis Militer Internasional Ragukan Iran Punya Rudal Hipersonik, Begini Kata Mereka
Dari lebih dari 400 rudal yang diklaim telah ditembakkan Iran ke Israel, hanya sekitar 40 yang menyebabkan kerusakan atau korban.
Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memanas. Belum lama ini, pihak Iran mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik bernama 'Fattah 1' ke wilayah Israel.
Meskipun tidak ada bukti bahwa Iran telah melepaskan rudal tersebut, klaim sepihak tersebut berhasil membuat pihak Israel dan sekutunya ketakutan. Terlebih, serangan ke Israel tersebut berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome atau Kubah Besi yang selama ini dibanggakan Israel.
Melansir dari South China Morning Post, Garda Revolusi Iran pada Rabu menyatakan mereka telah meluncurkan rudal hipersonik 'Fattah 1' ke wilayah musuh. Namun, hingga kini belum ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut, dan sejumlah analis militer internasional masih meragukan keabsahannya.
Senjata hipersonik didefinisikan sebagai rudal yang mampu melaju lebih cepat dari Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Biasanya, rudal balistik dapat mencapai kecepatan tersebut saat diluncurkan dari luar atmosfer. Namun dalam konteks militer modern, senjata hipersonik harus memiliki kemampuan manuver tinggi dan sistem navigasi canggih, menjadikannya jauh lebih sulit untuk dilacak dan dicegat dibandingkan rudal konvensional.
Peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), Jack Watling menjelaskan, rudal hipersonik sejati bisa mengubah lintasan secara dinamis saat meluncur, berbeda dari rudal balistik yang menempuh jalur yang lebih bisa diprediksi oleh sistem pertahanan seperti Patriot buatan Amerika Serikat.
"Jika kendaraan luncur hipersonik terbang rendah, maka radar bisa kesulitan mendeteksinya, apalagi jika terhalang oleh kontur tanah seperti perbukitan," ujarnya.
"Ketika tiba-tiba muncul dari balik cakrawala, waktu untuk bereaksi sangat terbatas," tambahnya.
Belum Ada Bukti Visual
Meski Iran mengklaim rudalnya telah mencapai target, para pengamat menyebut belum ada bukti visual maupun teknis yang menguatkan bahwa rudal tersebut benar-benar memiliki karakteristik hipersonik.
Apalagi, hingga saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang dinilai telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik generasi baru, meskipun belum pernah digunakan dalam pertempuran. Negara lain seperti Rusia, Korea Utara, dan Pakistan juga telah menguji rudal serupa, namun teknologinya masih dianggap belum sebanding.
Sebuah laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada 2022 menyebut bahwa istilah 'hipersonik' kini sering disalahgunakan atau dimaknai terlalu longgar, sehingga lebih menjadi alat propaganda dan kompetisi senjata ketimbang deskripsi teknis. Di sisi lain, kemampuan Iran sendiri dalam mengembangkan teknologi semacam ini dipertanyakan.
"Pembuatan rudal hipersonik adalah tantangan teknik yang kompleks, karena harus tahan terhadap panas dan tekanan luar biasa. Iran belum memiliki kemampuan teknologis semacam itu," ujar Watling.
Yehoshua Kalisky, peneliti senior di lembaga pemikir Israel INSS sekaligus mantan ilmuwan di industri pertahanan Israel, juga meragukan efektivitas rudal Iran. Dia mengatakan bahwa sebagian besar rudal yang ditembakkan Iran memang melaju pada kecepatan hipersonik, tetapi tidak mampu bermanuver, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai rudal hipersonik sejati.
Dari lebih dari 400 rudal yang diklaim telah ditembakkan Iran ke Israel, hanya sekitar 40 yang menyebabkan kerusakan atau korban.
"Israel mampu mencegat lebih dari 95 persen rudal tersebut, karena yang lebih menentukan bukanlah kecepatan, melainkan kemampuan manuver rudal," kata Kalisky.
Akui Rudal Iran Sulit Dicegat
Dia mengakui bahwa dua rudal Iran, yaitu Khorramshahr dan Fattah 2, memiliki potensi lebih besar dan lebih sulit dicegat, namun hingga kini keduanya belum terlihat digunakan. Sementara itu, penggunaan rudal hipersonik dalam konflik global juga masih jarang dan kerap diperdebatkan. Rusia misalnya, mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik Oreshnik dalam invasinya ke Ukraina.
Presiden Vladimir Putin menyebut rudal tersebut melesat seperti meteorit dan mencapai kecepatan Mach 10 hingga 11. Namun, Pentagon menyatakan bahwa rudal itu sebenarnya adalah jenis rudal balistik jarak menengah eksperimental.
Ukraina sendiri sempat berhasil mencegat rudal Kinzhal Rusia menggunakan sistem Patriot, yang menunjukkan bahwa tidak semua rudal berkecepatan tinggi otomatis tidak dapat ditangkal. Dalam konflik antara India dan Pakistan di wilayah Kashmir, Pakistan juga sempat mengklaim berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara S-400 India menggunakan rudal hipersonik dari jet tempur.
Selain Iran, sejumlah negara lain seperti Brasil, Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara diketahui sedang mengembangkan program senjata hipersonik mereka masing-masing.
Uni Eropa pun kini tengah mempertimbangkan pengembangan sistem pencegat rudal hipersonik sebagai bagian dari peningkatan anggaran pertahanan menghadapi potensi ancaman dari Rusia.
Meski Iran berupaya tampil sebagai kekuatan teknologi militer baru, banyak pihak menilai klaimnya lebih bersifat simbolis daripada fungsional. Hingga ada bukti nyata di medan tempur, status rudal hipersonik Iran masih menjadi tanda tanya besar.