Alokasi Dana Rp 200 Triliun ke Bank BUMN dari Menkeu Purbaya Berpotensi Naikkan Inflasi

Nailul Huda, yang menjabat sebagai Direktur Ekonomi CELIOS, mengingatkan akan adanya risiko jika dana sebesar Rp 200 triliun tidak dapat diserap dengan baik.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Alokasi Dana Rp 200 Triliun ke Bank BUMN dari Menkeu Purbaya Berpotensi Naikkan Inflasi
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Am (© 2025 Liputan6.com)

Ekonom dan Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, mengungkapkan bahwa keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menarik dana sebesar Rp 200 triliun dari Bank Indonesia (BI) guna mendukung perbankan dapat berisiko menimbulkan inflasi.

"Apakah ada dampaknya? Tentu ada ketika guyuran uang ini tidak terserap, maka bisa terjadi inflasi. Ketika perputaran ekonomi masih lambat, namun guyuran uang dilakukan, maka yang terjadi bukan ke ekonomi, tapi inflasi," ungkap Nailul Huda, seperti dilansir Liputan6.com, Jumat (12/9/2025).

Menurutnya, strategi ini belum tentu efektif karena inti permasalahan perekonomian saat ini bukan terletak pada suplai, melainkan pada lemahnya permintaan. Nailul menjelaskan bahwa ketika permintaan kredit dari sektor usaha rendah, perbankan akan lebih cenderung menyalurkan dana ke sektor multiguna, termasuk untuk konsumsi.

Di sisi lain, meskipun jumlah uang di masyarakat meningkat, produksi yang melambat akan menyebabkan permintaan (demand) lebih tinggi dibandingkan dengan penawaran (supply). Akibatnya, harga barang akan mengalami kenaikan. "Ini yang berbahaya ketika perencanaan guyur uang ini tidak matang," tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan dari 6% pada akhir 2024 menjadi 5%, penyaluran kredit masih menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan kredit saat ini hanya sekitar 6%, jauh dari harapan. Hal ini mencerminkan bahwa baik dunia usaha maupun masyarakat belum menunjukkan agresivitas dalam mengambil pinjaman meskipun bunga kredit telah turun.

Menkeu Purbaya Sebar Dana Rp 200 Triliun, Begini Prediksi Inflasi
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Am © 2025 Liputan6.com

Potensi Masalah di Perbankan

"Kita tahu bahwa BI telah menurunkan suku bunga acuan dari sekitar 6 persen (akhir tahun 2024) menjadi 5 persen. Namun pertumbuhan kredit terus menurun, bahkan hanya sekitar 6 persen saja. Artinya memang meskipun diturunkan, permintaan masih cukup rendah. Jadi masalahnya ada di sisi demand-nya dibandingkan dengan supply," jelasnya.

Selain inflasi, terdapat masalah lain yang mungkin muncul jika kebijakan ini diterapkan tanpa persiapan yang matang. Apabila perbankan mengalami kesulitan dalam menyalurkan dana ke sektor riil, dana sebesar Rp 200 triliun tersebut dapat menjadi beban dalam laporan keuangan bank.

Huda menambahkan bahwa kondisi ini akan terlihat dari penurunan Loan to Deposit Ratio (LDR), yang menunjukkan bahwa dana masyarakat lebih banyak mengendap daripada disalurkan dalam bentuk kredit.

"Kemudian, bagaimana jika sudah diguyur namun sulit menyalurkan? Ya akan jadi dana mengendap dan kinerja perbankan akan memburuk. LDR akan mengecil membuat kinerja perusahaan akan memburuk secara laporan," ujarnya.

Sebanyak Rp 200 triliun akan dialokasikan ke enam bank milik negara

Menkeu Purbaya Sebar Dana Rp 200 Triliun, Begini Prediksi Inflasi
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Am © 2025 Liputan6.com

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana untuk menginvestasikan dana sebesar Rp 200 triliun ke dalam enam bank milik negara yang tergabung dalam Himbara. Bank-bank tersebut meliputi Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Nasional (BSN). "Besok (hari ini) sudah masuk, ke enam bank," ungkap Purbaya.

Mengenai dampak dari penempatan dana tersebut, Menkeu Purbaya menyatakan bahwa ia belum melakukan perhitungan lebih lanjut. "Tapi yang jelas itu kan percobaan pertama, taruh segitu dulu. Kita lihat dalam waktu seminggu, dua minggu, tiga minggu, seperti apa dampaknya ke ekonomi. Kalau kurang, tambah lagi," tuturnya. Dengan langkah ini, diharapkan dapat memberikan stimulus bagi perekonomian nasional dan memperkuat sektor perbankan di Indonesia.

Menperin menyampaikan bahwa industri manufaktur harus meningkatkan inovasi untuk bersaing di pasar global

Menkeu Purbaya Sebar Dana Rp 200 Triliun, Begini Prediksi Inflasi
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Am © 2025 Liputan6.com

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana untuk menyalurkan dana sebesar Rp 200 triliun kepada perbankan nasional. Langkah ini diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dan sektor industri manufaktur. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Ia berpendapat bahwa langkah ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

"Saya hanya bisa menyampaikan, itu angin segar bagi perekonomian yang akan pasti banyak memberikan nilai positif bagi manufaktur Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Inspektorat Jenderal Kemenperin, Jakarta, pada Kamis (11/9/2025).

Seperti yang telah diketahui, Purbaya berencana untuk menggunakan dana pemerintah yang saat ini tersimpan di Bank Indonesia (BI) untuk disalurkan ke beberapa bank BUMN. Harapannya, langkah ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa mulai besok, Jumat (12/9/2025), dana sebesar Rp 200 triliun akan dipindahkan dari Bank Indonesia (BI) ke sejumlah bank nasional. "Besok sudah masuk, ke enam bank," ungkap Purbaya saat ditemui setelah menghadiri acara Great Lecture di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis (11/9/2025).

Rekomendasi