5 Fakta di balik rencana penurunan tarif tol keinginan Presiden Jokowi

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan, Presiden Jokowi mempertanyakan soal mekanisme perhitungan tarif tol. Sebab, selama ini dirinya sering mendengar keluhan dari para pengguna tol jika tarif tersebut terlalu mahal.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
5 Fakta di balik rencana penurunan tarif tol keinginan Presiden Jokowi
Gerbang Tol e-Money. ©2017 merdeka.com/Imam Buhori

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil sejumlah menteri dan operator jalan tol ke Istana kemarin. Pemanggilan tersebut salah satunya bertujuan untuk membahas tarif tol yang berlaku saat ini.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan, Presiden Jokowi mempertanyakan soal mekanisme perhitungan tarif tol. Sebab, selama ini dirinya sering mendengar keluhan dari para pengguna tol jika tarif tersebut terlalu mahal.

"Beliau menanyakan tarif tolnya ini bagaimana cara menghitungnya, dia (Presiden Jokowi) mendengar keluhan para pengemudi," ujar dia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan P Roeslani, mengatakan tarif tol seharusnya tidak melulu dinaikkan. Namun, seharusnya makin turun. "Kalau kami lihatnya jalan tol kalau misalnya sudah jadi, tarifnya bukan naik mestinya tarif malah turun kan," ungkapnya.

Menurutnya, di negara lain, tarif tol bukan semakin mahal tapi justri makin murah. "Mungkin para pengusaha jalan tol akan protes karena mereka ada planning-nya. Tapi mestinya tarifnya main lama makin turun, karena di negara lain makin lama makin turun," sambungnya.

Selain fakta di atas, masih terdapat beberapa hal menarik lain dari rencana penurunan tarif tol tersebut. Berikut merdeka.com akan merangkumnya di halaman-halaman berikutnya.

Pemerintah tawarkan perpanjangan konsesi

Menurut Menteri Basuki, jika dilihat dari inflasi, biaya kontruksi, pajak, bunga, maka wajar tarif tol tersebut. Maka dari itu, pihaknya mengusulkan skema perpanjangan masa konsesi tol untuk menurunkan tarif.

"Kemudian, bagaimana caranya menurunkan ini (tarif tol) kan tergantung konsesinya. Sepanjang konsesinya, ini rata-rata 35-40 tahun. Kami membuat opsi penurunan tarif dengan menambah masa konsesi," ucap Menteri Basuki.

Pemangkasan golongan kendaraan logistik

Pemerintah juga berencana mengubah komposisi golongan kendaraan logistik dari sebelumnya 2, 3, 4 dan 5 menjadi hanya 2 dan 3 saja. Menteri Perhubungan Budi Karya mengatakan penurunan tersebut karena banyak angkutan logistik yang enggan menggunakan jalan tol. Sebab, tol dinilai tarifnya terlalu mahal. "Ini dalam rangka memberikan kemudahan dan kemurahan tarif tol untuk mendukung logistik yang lebih murah," imbuhnya.Menteri Budi mengatakan penurunan tarif tol sudah dikaji di tingkat kementerian. Jika peraturannya sudah ada maka tarif bisa langsung turun.

Operator setuju tarif turun jika konsesi diperpanjang

Direktur Utama Jasa Marga Desi Aryani mengatakan tidak mempermasalahkan penurunan tarif sepanjang prinsip internal rate of return (IRR) tetap dan konsesi diperpanjang. "Tujuan utama bahwa ini meningkatkan daya tahan nasional, daya saing nasional di logistik ini kan supaya tercapai," ujarnya.Sedangkan, dari pihak Astra Infra juga tidak mempermasalahkan penurunan tarif jika IRR-nya tetap dan konsesinya diperpanjang. "Kalau buat investor sama, baik BUMN, swasta, yang penting kepastian bagaimana kita masing-masing respek pada perjanjian yang sudah diperjanjikan sejak di awal," kata Wiwiek.

Saham operator tol bergejolak

Berdasarkan data RTI, harga saham PT Jasa Marga Tbk kemarin ditutup melemah empat persen ke posisi Rp 4.800 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 2.639 kali dengan nilai transaksi harian saham Rp 44,6 miliar.Sementara itu, harga saham operator tol lainnya seperti PT Citra Marga Nusaphala Tbk (CMNP) justru menguat. Harga saham CMNP naik 1,05 persen ke posisi Rp 1.445 per saham. Total frekuensi delapan kali dengan nilai transaksi Rp 7,1 juta."Harga saham PT Jasa Marga Tbk turun karena ada (permintaan-red) tarif tol turun. Ini dapat pengaruhi pendapatan. Investor khawatirkan hal itu," ujar Analis PT Indosurya Sekuritas, William Suryawijaya.

 

Rekomendasi