Di tengah ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global, sorgum perlahan naik daun sebagai komoditas sereal alternatif pengganti beras dan gandum. Bagi para petani maupun masyarakat yang ingin mencoba membudidayakannya, memahami cara menanam sorgum agar bulirnya banyak adalah kunci utama untuk meraup keuntungan maksimal. Tanaman eksotis ini sejatinya sangat mudah dirawat, namun tetap membutuhkan teknik agribisnis yang presisi agar malai yang dihasilkan padat berisi.
Keunggulan utama tanaman bernama latin Sorghum bicolor ini terletak pada kemampuannya beradaptasi di lahan kering dan marjinal yang minim pasokan air. Karakteristik fisiknya yang tahan banting membuat sorgum sangat cocok dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, terutama saat memasuki musim kemarau. Tidak heran jika komoditas ini kian diminati sebagai pilar ketahanan pangan masa depan.
Walau terkenal tangguh, membiarkan sorgum tumbuh liar tanpa perawatan tentu tidak akan menghasilkan panen yang memuaskan. Agar tanaman mampu memproduksi malai yang besar dan biji yang bernas, ada serangkaian langkah budidaya yang wajib diikuti. Berikut langkah-langkah lengkapnya yang dirangkum Merdeka.com dari berbagai sumber pada Rabu (23/9/2026).
Advertisement
Pemilihan Benih Unggul Berkualitas Tinggi
Langkah paling awal dan sangat menentukan kesuksesan budidaya adalah proses pemilihan benih. Gunakan selalu benih sorgum bersertifikat dari varietas unggul yang telah teruji tingkat produktivitasnya, seperti varietas Numbu, Kawali, atau Bioguma. Benih bermutu tinggi memiliki daya kecambah di atas 80 persen dan membawa sifat genetik yang kebal terhadap penyakit.
Sebelum ditebar ke lahan, pastikan benih dalam kondisi bersih, tidak keriput, dan terbebas dari hama kutu gudang. Pemilihan biji yang padat dan berisi akan memberikan jaminan pertumbuhan vegetatif awal yang seragam dan bertenaga. Benih yang loyo sejak awal dipastikan hanya akan menghasilkan tanaman kerdil dengan malai yang kosong.
Sebagai tindakan pencegahan ekstra, sangat disarankan untuk melakukan perlakuan benih (seed treatment) sebelum penanaman. Campurkan benih dengan fungisida atau insektisida berbahan aktif ringan guna melindunginya dari serangan jamur tanah maupun semut. Langkah kecil ini akan menyelamatkan bibit sorgum Anda pada minggu-minggu pertama yang sangat kritis.
Advertisement
Persiapan dan Pengolahan Lahan Tanam
Meskipun sorgum toleran terhadap tanah tandus, pengolahan lahan yang baik tetap menjadi syarat mutlak jika Anda mengincar panen biji yang melimpah. Bersihkan lahan dari gulma, semak belukar, maupun sisa-sisa tanaman musim sebelumnya. Setelah itu, bajak atau cangkul tanah sedalam 15 hingga 20 sentimeter agar strukturnya menjadi gembur dan kaya oksigen.
Setelah tanah dibalik, taburkan pupuk dasar berupa pupuk kandang atau kompos matang secara merata di atas bedengan. Nutrisi organik dari pupuk kandang ini berfungsi memperbaiki sifat fisik tanah sekaligus menyediakan cadangan makanan jangka panjang bagi perakaran sorgum. Biarkan lahan tersiram sinar matahari selama satu minggu untuk menetralisir racun di dalam tanah.
Sistem drainase lahan juga pantang diabaikan, terutama jika Anda menanam pada saat musim penghujan. Buatlah parit pembuangan air di antara bedengan tanam agar air hujan tidak menggenang. Akar sorgum sangat benci terhadap kondisi tanah yang becek karena dapat memicu busuk akar yang menghentikan pasokan nutrisi ke arah bulir.
Advertisement
Teknik Penanaman dan Pengaturan Jarak Tanam
Waktu paling ideal untuk mulai menanam sorgum adalah pada awal atau menjelang akhir musim penghujan. Pada periode ini, kelembapan tanah cukup untuk memacu perkecambahan benih secara serempak tanpa risiko terendam air. Penentuan waktu yang presisi sangat menunjang ritme pertumbuhan tanaman hingga fase pembentukan biji.
Kunci rahasia agar bulir sorgum lebat terletak pada pengaturan jarak tanam yang ideal, umumnya berkisar di angka 70 x 20 cm atau 75 x 25 cm. Jarak yang terlalu rapat akan memicu persaingan ketat dalam memperebutkan unsur hara dan sinar matahari, yang berujung pada mengecilnya ukuran malai dan batang yang kurus.
Proses penanaman dilakukan dengan sistem tugal sedalam 3 hingga 5 sentimeter. Masukkan 2-3 butir benih ke dalam setiap lubang tanam, lalu tutup kembali menggunakan tanah halus tanpa perlu ditekan terlalu kuat. Tunas-tunas sorgum muda biasanya akan mulai menyembul ke permukaan tanah pada rentang waktu 4 hingga 7 hari setelah tanam.
Advertisement
Pemupukan Susulan di Fase Kritis
Mengandalkan pupuk dasar saja tidak cukup untuk mendorong tanaman sorgum menghasilkan bulir yang padat. Anda wajib memberikan pupuk susulan pertama saat tanaman memasuki usia 2 hingga 3 minggu setelah tanam (HST). Gunakan pupuk Urea dan NPK untuk memacu pertumbuhan vegetatif, memperbesar diameter batang, dan memperlebar helaian daun.
Fase pemupukan kedua yang tidak kalah penting dilakukan saat tanaman berusia 45 hingga 50 HST, tepat sebelum memasuki masa primordia (pembentukan bunga). Pada fase generatif ini, pasokan unsur Fosfor (P) dan Kalium (K) harus ditingkatkan untuk merangsang pembelahan sel malai dan mencegah rontoknya bunga sebelum menjadi biji.
Cara pengaplikasian pupuk susulan yang benar adalah dengan menugalnya di samping barisan tanaman dengan jarak sekitar 7-10 sentimeter dari pangkal batang. Jangan pernah menaburkan pupuk kimia langsung mengenai batang atau daun sorgum karena sifat korosifnya dapat membakar jaringan tanaman muda hingga mati mengering.
Advertisement
Perawatan Rutin dan Pengendalian Gulma
Ketika benih mulai tumbuh daun sejajar, lakukan proses penjarangan atau thinning dengan hanya menyisakan satu atau dua tanaman terbaik di setiap lubang. Tanaman yang tumbuh kerdil atau berpenyakit harus segera dicabut. Penjarangan ini memastikan nutrisi di dalam tanah hanya diserap oleh tanaman unggul yang diproyeksikan menghasilkan malai besar.
Seiring pertumbuhan sorgum, gulma atau rumput liar pastinya akan ikut tumbuh subur di sekitar area perakaran. Lakukan penyiangan secara rutin pada usia 15 dan 30 HST agar kompetisi unsur hara dapat diminimalisir. Pembubunan atau menaikkan tanah ke arah pangkal batang juga dianjurkan agar tanaman tegak kokoh dan tidak mudah rebah tertiup angin.
Meski berstatus sebagai tanaman lahan kering, sorgum tetap membutuhkan asupan air pada tiga fase paling kritis: saat perkecambahan, saat pembentukan malai, dan saat pengisian biji. Jika hujan tidak turun pada ketiga fase krusial tersebut, segera lakukan penyiraman buatan (pengairan) agar proses pengisian bulir sorgum tidak hampa.
Advertisement
Pengendalian Hama dan Penyakit Mematikan
Musuh terbesar petani sorgum pada fase pembuahan hingga panen adalah kawanan burung pemakan biji-bijian. Serangan burung pipit dalam jumlah masif bisa menghabiskan bulir sorgum Anda hanya dalam hitungan hari. Cara paling efektif untuk mengatasinya adalah dengan memasang jaring pelindung di atas lahan atau menggunakan orang-orangan sawah tradisional berbahan pita kilap.
Selain burung, hama serangga seperti kutu daun (Aphids), penggerek batang, dan ulat grayak juga kerap menyerang daun dan memutus suplai nutrisi. Gunakan pestisida nabati atau lepaskan musuh alami sebagai langkah pengendalian awal yang ramah lingkungan. Jika populasi hama sudah melampaui ambang batas ekonomi, barulah aplikasikan insektisida kimia sesuai dosis anjuran.
Dari segi penyakit, sorgum rentan terhadap karat daun dan bercak daun yang disebabkan oleh infeksi jamur akibat kelembapan udara yang terlalu tinggi. Pencegahan terbaik adalah dengan menjaga jarak tanam agar sirkulasi udara lancar serta mencabut daun-daun bagian bawah yang sudah tua dan mulai menguning agar lahan tidak lembap.
Advertisement
Pertanyaan Umum Seputar Cara Menanam Sorgum agar Bulirnya Banyak
1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sorgum dari tanam hingga panen?
Umur panen sorgum bervariasi tergantung varietas yang digunakan, namun rata-rata siap dipanen dalam waktu 90 hingga 110 hari setelah tanam ketika biji sudah mengeras.
2. Apakah tanaman sorgum bisa ditanam di polybag atau pekarangan rumah?
Bisa, gunakan polybag berukuran minimal 40x40 cm agar akar leluasa berkembang, serta pastikan letaknya mendapatkan paparan sinar matahari penuh sepanjang hari.
3. Apa ciri-ciri bulir sorgum yang sudah matang dan siap dipanen?
Biji sorgum yang siap panen akan terasa sangat keras jika digigit, warnanya sudah berubah sesuai karakter varietas (merah, cokelat, atau putih), dan daun bagian bawah mulai mengering.
4. Apakah sorgum bisa tumbuh kembali setelah batangnya dipanen (sistem ratun)?
Ya, sorgum memiliki kemampuan ratoon atau bertunas kembali. Cukup potong batang sekitar 5-10 cm dari permukaan tanah, beri pupuk, dan tunas baru akan tumbuh untuk panen kedua.
5. Mengapa bulir sorgum saya banyak yang kosong atau hampa?
Bulir kosong biasanya disebabkan oleh kekurangan unsur Kalium saat fase pengisian biji, serangan hama pengisap bulir, atau kurangnya pasokan air saat masa pembungaan.