Pelapor Khusus PBB: Israel Lakukan Fase Paling Mengerikan Dalam Kelaparan di Gaza

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk, dan kini memasuki fase paling suram sejak blokade penuh diberlakukan oleh Israel.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Pelapor Khusus PBB: Israel Lakukan Fase Paling Mengerikan Dalam Kelaparan di Gaza
INH menyalurkan bantuan air bersih dan paket sembako untuk ribuan warga Gaza, Palestina. (Foto: INH) (INH menyalurkan bantuan air bersih dan paket sembako untuk ribuan warga Gaza, Palestina. (Foto: INH))

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk, dan kini memasuki fase paling suram sejak blokade penuh diberlakukan oleh Israel. Pelapor Khusus PBB untuk hak atas pangan, Michael Fakhri, menyebut apa yang sedang berlangsung di Gaza merupakan puncak dari kampanye kelaparan yang sistematis.

"Semua orang tahu bahwa ini adalah genosida, kelaparan, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan pelanggaran berat hak asasi manusia," kata Fakhri dalam wawancaranya dengan Anadolu Agency, dikutip Rabu (28/5/2025).

Dia pun bersaksi atas apa yang telah disaksikannya selama 19 bulan terakhir. Fakhri menilai bahwa kebijakan Israel terhadap Jalur Gaza menunjukkan pola yang konsisten yakni destruksi, penderitaan, dan kematian dalam skala besar.

Menurutnya tujuan utama Israel adalah menduduki dan mencaplok Jalur Gaza sepenuhnya. Israel telah menyatakan niatnya secara praktis sejak awal.

"Kita telah menyaksikan kemerosotan situasi yang terus-menerus dan peningkatan kekerasan yang nyata dan berkelanjutan oleh Israel," katanya.

Israel Bunuh 36 Warga Gaza pada Hari Kedua Idul Adha, Termasuk 6 Orang yang Mencari Bantuan
Distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza pun mengalami sejumlah hambatan. Di mana dari 900 truk bantuan yang disetujui hanya kurang dari 600 yang berhasil dibongkar. (AP Photo/Abdel Kareem Hana © 2025 Liputan6.com

Fakhri menyebut pada 9 Oktober 2023 Israel mengumumkan niatnya untuk menggunakan kelaparan sebagai senjata.

"Israel telah menolak bantuan kemanusiaan, membatasinya, atau dengan sengaja menyerang konvoi kemanusiaan. Apa yang terjadi sekarang adalah fase paling mengerikan dari kampanye kelaparan," tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 1 Maret lalu, yang mengumumkan Israel akan memutus semua jalur masuk bahan pokok seperti makanan dan air ke Gaza. Langkah tersebut telah memperparah krisis dalam beberapa bulan terakhir.

"Israel memberlakukan blokade total selama hampir 80 hari, yang secara langsung memicu kelaparan... Sejumlah kecil truk yang membawa bantuan diizinkan masuk ke Gaza, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk," katanya.

Sekjen PBB: Perang Gaza Masuk Fase Terkejam, Saat Truk Bantuan Dijarah
INH menyalurkan bantuan air bersih dan paket sembako untuk ribuan warga Gaza, Palestina. (Foto: INH) INH menyalurkan bantuan air bersih dan paket sembako untuk ribuan warga Gaza, Palestina. (Foto: INH)

Fakhri melaporkan telah terjadi peningkatan drastis kekurangan gizi anak akibat blokade total Israel. Hal ini telah meningkat hingga 80 persen pada bulan Maret saja, dan menggarisbawahi bahwa harga tepung terigu yang digunakan untuk membuat roti telah meningkat hingga 3.000 persen sejak Februari.

"Ini hanyalah angka. Kita harus ingat bahwa ini adalah sebuah kengerian, karena orang-orang melihat anak-anak mereka meninggal karena kelaparan di pelukan mereka," katanya.

"Ini adalah trauma sosial yang akan berlangsung selama beberapa generasi, artinya bahkan jika bom dan peluru dihentikan hari ini, lebih banyak orang di Gaza akan meninggal karena penyakit dan kelaparan daripada karena bom dan peluru. Dampak dari kelaparan dan kampanye kelaparan Israel akan berlangsung selama beberapa generasi, baik dalam hal dampak fisik maupun trauma social," jelasnya.

Menurutnya, kata-kata sudah habis untuk menggambarkan apa yang terjadi di Gaza. Dia menekankan sebagai ahli hak asasi manusia independen, pihaknya melihat risiko genosida sejak awal perang dan menyerukan pencegahannya.

Halaman
Rekomendasi