Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir secara khusus berkunjung ke Amerika Serikat. Alih-alih mendapat sambutan hangat nan meriah, dia justru mendapat sorotan tajam di negeri Paman Sam.
Sejak kedatangannya di AS, dia bahkan sempat dihentikan oleh sejumlah kelompok pendukung Palestina. Saat melintas di jalanan, dia bahkan mendapat cemoohan keras dengan disebut sebagai pelaku genozida dan Nazi.
Lantaran terus mendapat tekanan, Ben-Gvir lantas bereaksi hingga tampak naik darah. Sosok Ben-Gvir sendiri dikenal sebagai garis keras. Dia dengan sadis dan terang-terangan mendukung pemusnahan warga Palestina. Berikut ulasan selengkapnya.
Advertisement
Belum lama ini, akun Instagram @middleeasteye mengungkap momen tak terduga saat Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melintas di salah satu jalanan kota New York, Amerika Serikat. Turut didampingi sejumlah pria, Ben-Gvir yang tampil dengan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan penutup kepala khas Yahudi awalnya tampak berjalan seperti biasa.
Namun tak berselang lama, langkah kaki Ben-Gvir dihadapkan dengan sejumlah cemoohan yang dilontarkan seorang pria. Secara mengejutkan, tokoh ekstremis sayap kanan Israel itu disebut sebagai pelaku genosida di Gaza.
Bahkan, dia turut disebut sebagai bagian dari Nazi, sebuah ideologi fasis yang diwujudkan menggunakan parpol ekstrem di bawah pimpinan Adolf Hitler di Jerman pada masa tahun 1933 hingga 1945 lalu.
“Pelaku genosida! Nazi!,” teriak seorang pria di lokasi.
Ben-Gvir dianggap sebagai penjahat perang lantaran perannya yang terus berlanjut dalam pembantaian yang dilakukan Israel kepada warga Palestina di Gaza.
Ben-Gvir pun naik darah. Seperti yang terlihat dari video yang dirilis, dia sempat menimpali cemoohan yang dilontarkan kepadanya dengan ucapan pembelaan diri.
Advertisement
Tak cuma itu. Di tempat berbeda Ben-Gvir bahkan mendapat sambutan keras saat kedatangannya di Universitas Yale. Ratusan demonstran di New Haven, Conn., berkumpul pada Rabu malam untuk menyatakan kecamannya atas kunjungan Ben-Gvir.
Beberapa demonstran melemparkan botol air ke Ben-Gvir, saat ia meninggalkan acara di Shabtai, sebuah perkumpulan diskusi intelektual Yahudi swasta yang berbasis di Yale yang tidak berafiliasi dengan universitas tersebut.
Bahkan, kelompok demonstran hingga mahasiswa sempat mendirikan tenda perkemahan kecil di alun-alun kampus demi menyuarakan protes mereka atas kemunculan Ben-Gvir di AS, khususnya di Universitas Yale.
Advertisement
Sosok Ben-Gvir juga mendapat banyak kecaman dari kalangan pengguna media sosial. Bahkan, aksi para demonstran di AS itu turut menuai banyak dukungan dari para netizen dunia.
“Kerja bagus, pengunjuk rasa!” tulis akun @fadhlan.ramadhan
“Dihina dimanapun dia pergi,” tulis akun @omarg.7
“Ketika mereka mendengar kebenaran, mereka merasa tersinggung. Hahaha,” tulis akun @solbogliotti
“Orang-orang menjadi marah ketika dihadapkan dengan kebenaran yang mereka coba sembunyikan!” tulis akun @etiennestjohn
“Ini sangat memuaskan 😂😂,” tulis akun @motorsandcalibers
“Luar biasa! 👏👏👏” tulis akun @spotted_hyena
Advertisement
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir pada Rabu (23/4) melakukan kunjungan ke kampus Universitas Yale, Amerika Serikat serta menghadiri acara penggalangan dana di Florida, Selasa (22/4). Dia secara khusus menyampaikan pidato dalam sebuah pertemuan di perkumpulan Yahudi Universitas Yale.
Tepat sehari sebelumnya, dia tercatat telah mendapat penghormatan jamuan makan malam mewah di sebuah resor milik Presiden AS, Donald Trump, demikian dilansir dari The Guardian.
Ben-Gvir memiliki catatan kelam. Dia merupakan tokoh sayap kanan Israel yang mendukung terorisme dan tindakan keras kepada tahanan Palestina.
Ben-Gvir tercatat pernah dihukum pada tahun 2007 atas tuduhan hasutan rasis dan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang masuk daftar hitam terorisme. Selama bertahun-tahun, ia memajang foto Baruch Goldstein di ruang tamunya, yang membantai 29 jamaah Muslim di Hebron pada tahun 1994.
Kehadirannya di pemerintahan Israel telah menjadi sumber kekhawatiran di ruang lingkup internasional. Dia sendiri bahkan diketahui terus melakukan provokasi sejak bergabung dengan pemerintahan koalisi Benjamin Netanyahu.
Salah satunya yakni seperti melakukan penghasutan agar warga Yahudi melakukan ibadah ke kompleks Masjid Al Aqsa yang menjadi ikon suci bagi tiga agama di dunia.