Republik Suriname adalah salah satu negara yang berada di Amerika Selatan. Di Suriname banyak dijumpai orang Suku Jawa yang masih fasih berbahasa Jawa sampai sekarang.
Mereka adalah orang Jawa yang pada tahun 1920-an dibawa oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk pindah ke Suriname. Salah satunya adalah Tukiyem Atmoredjo.
Tukiyem Atmoredjo adalah seorang Jawa yang tinggal di Suriname. Selama di Suriname ia pernah berprofesi sebagai dukun bayi. Simak ulasannya sebagai berikut.
Advertisement
Video TikTok yang diunggah oleh akun @serbarujak menayangkan sebuah wawancara dengan narasumber seorang perempuan bernama Tukiyem Atmoredjo.Tukiyem adalah perempuan keturunan Jawa yang lahir di Suriname.
Ia lahir pada tahun 1926, satu tahun setelah orang tuanya pindah ke Suriname pada tahun 1925. Orang tuanya merupakan salah satu dari orang Jawa yang dibawa ke Suriname oleh Ratu Wilhelmina.
Orang tua Tukiyem berasal dari Desa Djlegi, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Brebes. Diketahui, sekarang Desa Jlegi, Kecamatan Kutowinangun masuk dalam wilayah Kabupaten Kebumen.
Advertisement
Kedatangan orang Jawa ke Suriname bukanlah tanpa tujuan. Mereka di sana diminta untuk bekerja sebagai pekerja kontrak di berbagai sektor.
Orang-orang Jawa ini harus bekerja di perkebunan kopi, seperti menanam kopi, memanen kopi, dan membawa kopi di perkebunan setempat. Tukiyem juga merupakan salah satu pekerja kontrak di sana.
Mereka dikontrak selama lima tahun dan diberikan gaji sebesar 4 sen. Sedangkan untuk laki-laki mendapatkan gaji 6 sen.
Advertisement
Tukiyem mengaku bahwa ia selama di Suriname tidak berkesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Ia menuturkan bahwa tempat sekolah sangatlah jauh dan susah untuk dijangkau. Oleh karena itu, ia lebih memilih untuk tidak sekolah.
“Tebih, ajeng sekolah, nggene tebih (Jauh, mau sekolah, tempatnya jauh)," ujar Tukiyem dalam wawancara tersebut.
Advertisement
Selama di Suriname, selain ia bekerja di perkebunan kopi, Tukiyem juga bekerja sebagai dukun bayi dan tukang pijat. Meskipun demikian, ia mengatakan cukup kesulitan jika ingin mencari jamu di Suriname.
Ia mengaku bahwa ketika membutuhkan jamu, ia harus datang ke toko dan membelinya di Toko Laris, toko Tempoe Doeloe, dan lain sebagainya.
Ia tidak bisa menanam tanaman bahan jamu sendiri karena tanah yang tidak mendukung. "Kulo nanem bangle mawon pejah, kok (saya menanam bangle saja mati, kok)," ujar Tukiyem.
Advertisement
Tukiyem selanjutnya pindah dari Suriname ke Belanda. Ia memilih untuk pindah ke Belanda dengan membawa ibunya, suami, dan anak angkatnya.
Tukiyem mengatakan bahwa selama di Suriname ia juga sempat bekerja sebagai pembantu.
Meskipun begitu, ketika pindah ke Belanda ia mengaku jarang sekali berinteraksi langsung dengan orang Belanda.
Advertisement
Tukiyem mengatakan bahwa meskipun ia sudah pindah ke Suriname dan Belanda, bahkan menguasai beberapa bahasa asing, ia tetap fasih dalam berbahasa Jawa.
Ia mengatakan bahwa Jawa tetaplah Jawa. Tukiyem tetap menjaga Jawa supaya tidak luntur dan masih bisa dilestarikan.
Ia juga menuturkan sembari tertawa bahwa Bahasa Jawanya tidak akan memudar. “Nggeh, mboten luntur, nek mboten disukani klorok (klorin) nggeh mboten luntur (iya, tidak luntur, kalau tidak dikasih klorin ya tidak luntur)," ucap Tukiyem dilanjut dengan sebuah tawa.