Sebuah kisah pilu yang menyayat hati dialami oleh seorang ibu bernama Rukeiya Abdul Mutakallim. Ia harus melihat putranya ditemukan di selokan dengan kondisi mengenaskan.
Sang mantan tentara itu menjadi korban penembakan, hingga otaknya berserakan di jalan. Meski begitu, sang ibu korban berusaha berlapang dada.
Dengan terus berurai air mata menceritakan momen sedih itu. Sembari memaafkan pelaku, yang seorang remaja. Ia lantas menawarkan diri untuk membantu pendidikan si pelaku. Supaya bisa keluar dari penjara tidak jatuh di lubang yang sama dan memiliki masa depan cemerlang.
Simak kisah inspiratif wanita satu ini.
Advertisement
Terjadi Perampokan dan Pembunuhan
Sebuah peristiwa mengenaskan yang merenggut nyawa seorang mantan tentara Amerika bernama Suliman Ahmed Abdul Mutakallim. Terjadi sebuah perampokan dan pembunuhan.
Suliman menjadi korban penembakan oleh tiga remaja. Kondisinya tampak sadis. Jenazah ditinggalkan begitu saja di selokan, dengan otak yang berserakan.
"Mereka meninggalkannya terbaring di jalan, di selokan. Berdarah sampai mati dan otaknya berserakan. Dia (Suliman) bahkan tak sempat melihat mereka yang menembaknya. Aku melihat anakku mati. Aku tahu dia tak akan selamat," kata Rukeiya, seperti dikutip dari kanal YouTube Islam Bersatulah.
Advertisement
Tak Mau Balas Dendam
Pelaku bernama Javon Coulter pun akhirnya berhasil tertangkap. Dalam persidangan, Rukeiya mengatakan tak ingin membalas dendam terhadap pelaku.
"Yang kami inginkan dari mereka bukan balas dendam. Balas dendam tidak menyelesaikan apa pun. Tidak akan mengembalikan anak kami. Kami ingin membantu mereka menjalani masa dewasa yang lebih baik," ujar Rukeiya.
Ibu korban justru menawarkan kepada pelaku untuk menerima kehadiran keluarga Rukeiya. Sebagai bentuk penghormatan kepada Suliman, sesuai jalan Islam.
"Aku tidak bisa merubah apa yang terjadi padamu dan anakku. Aku mengenalnya dengan baik karena aku yang membesarkannya. Dan semua anak-anakku untuk mengikuti jalan hidup Islam. Jadi untuk menghormatinya, aku di sini menawarkan keluargaku untuk membantumu," sambungnya.
Advertisement
Keluarga Korban Siap Membantu Pelaku
Selain itu, Rukeiya menawarkan diri untuk siap membimbing. Bahkan meminta izin supaya diperbolehkan mengunjungi. Supaya Javon bisa merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.
"Untuk membimbingmu menafkahi dirimu sendiri, dan mungkin membantu ibumu kalau kamu sudah keluar. Dan keluargaku ingin menjadi bagian dari hidupmu untuk menjadi lebih baik. Biarkanlah kami mengunjungimu, bekerja bersamamu, meningkatkan pendidikanmu. Aku tidak boleh membencimu," papar Rukeiya.
Dengan pendidikan yang baik itulah, Rukeiya berharap bisa membawa Javon memiliki pikiran yang jernih, serta mencari nafkah tanpa harus merampok lagi.
"Jadi biarkan aku menyuratimu. Biarkanlah aku mengunjungimu. Menolongmu memahahi, pendidikan adalah jalan untuk membebaskan pikiran dan lebih baik. Mencari nafkah adalah jalan terbaik," imbuhnya.
Advertisement
Bekerja Sama dengan Ibu Tersangka
Tampak begitu ikhlas Rukeiya melepas kepergian putranya. Meski dengan cara yang tragis, di tangan seorang perampok.
Rukeiya lantas meminta izin untuk bekerja sama dengan ibu dari pelaku. Untuk menghentikan penyakit yang ada di lingkungan remaja di sana.
"Aku berencana bersama ibumu jika dia mengizinkan, untuk menolongnya. Sebab kita harus menghentikan penyakit yang memangsa lingkungan kita. Dan itu tidak bisa dengan kebencian tapi dengan cinta," tutur Rukeiya.
Advertisement
Sakit Hati jika Pelaku Kembali Jahat
Begitu tulus, Rukeiya mengaku sakit hati jika remaja pelaku itu kelak kembali ke jalan yang salah. Oleh sebab itu, ia bersikeras untuk ikut membimbing Javon jadi pribadi yang baik.
Menurutnya, Javon membutuhkan cahaya untuk bisa menyelesaikan segala masalah, tanpa menggunakan senjata lagi.
"Kematiannya sudah ditakdirkan. Bukan hukuman mati yang kamu hadapi. Hatiku akan sakit jika kamu kembali kepada lubang kotoran dimana kamu berasal. Karena kamu tidak akan melihat cahaya. Kamu butuh cahaya. Ada jalan hidup yang lebih baik. Senjata tidak menyelesaikan masalah," pungkasnya.
"Missis Abdul, aku ingin minta maaf," teriak Javon.