Pemberontakan Gerakan 30 September (G30SPKI) menjadi sejarah yang tak akan dilupakan bangsa Indonesia. Ada beberapa tokoh yang menjadi ujung tombak penumpasan PKI.
Namun ada dua jenderal paling ditakuti PKI yakniSarwo Edhie Wibowo dan Soeharto. Sayangnya, dari salah satu jenderal tersebut ada yang 'dibuang' setelah berjuang melakukan penumpasan PKI. Berikut ulasannya.
Advertisement
Muncul Desas-Desus Bakal Dijadikan Dubes Rusia
Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie diperintahkan oleh Mayjen Soeharto untuk menumpas PKI setelah peristiwa 30 September 1965. Sarwo kemudian melakukan tugasnya dengan sangat baik, diketahui ia begitu banyak dipuji hingga memiliki kedekatan dengan para mahasiwa anti-komunis.
Nyatanya hal tersebut membuat atasan Sarwo Edhie tak menyukainya. Konon tidak boleh ada matahari kembar yang membayangi Jenderal Soeharto kala itu.
Ditambah saat itu Sarwo mendengar desas-desus bahwa dirinya akan dijadikan duta besar di Rusia. Semua orang tahu bahwa Sarwo adalah penumpas komunis dan saat ini ia diceburkan dalam negara yang berpaham komunis. Hal ini menjadi sebuah ledekan bagi Sarwo.
"Suatu hari aku sempat mendengar Papi bicara pada ibu 'kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan membunuh aku dengan cara seperti ini'," kata Ani Yudhoyono menirukan sang ayah yang terpukul dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit.
Advertisement
Sarwo Dibuang Usai Lakukan Penumpasan
Ketika kariernya banyak disoroti dan dipuji oleh banyak kalangan, nyatanya hal ini justru membuat upaya-upaya pembuangan sosok Sarwo juga muncul. Setelah lakukan penumpasan PKI bahkan dia diceburkan di negara berpaham komunis.
Firasat dibuang sebenarnya sudah dirasakan oleh Sarwo ketika menjadi Panglima di Irian. Ia berkisah pada Jenderal Hoegeng dan yakin bahwa tak lama lagi ia akan dicopot oleh Soeharto.
Soeharto pun mendengar desas-desus Sarwo Edhie akan menggalang kekuatan untuk mendongkel dirinya. "Padahal saya tak melakukan apa-apa, dan tak merencanakan apa-apa," kata Sarwo Edhie pada Hoegeng dengan nada sedih.
Advertisement
Dikirim dan Dijadika Sebagai Dubes Korea Selatan
Soeharto akhirnya mengirimkan Sarwo untuk menjadi Duta Besar di Korea Selatan dan akhirnya memarkir sang jenderal menjadi Kepala BP7 yang mengurus ceramah dan propaganda soal Orde Baru dan Pancasila. Ini bukanlah tempat yang benar cocok untuk seorang perwira militer dengan pengalaman tempur seperti Sarwo.
Jika meminjam istilah wartawan senior Julius Pour, Sarwo Edhie Wibowo ibarat cerita wayang yang dimasukkan kembali ke kotaknya setelah lakonnya berakhir. Sarwo tak sendiri, sejumlah jenderal pembangunan Orde Baru yang lain merasakan hal serupa, 'dibuang' dalang setelah lakonnya selesai.
Sedangkan Soeharto setelah peristiwa itu kariernya terus melesat hingga menjadi Presiden. Orde Baru di bawah Soeharto berkuasa selama 32 tahun.