Indonesia merupakan negara yang berdiri di atas keberagaman serta keunikan adat istiadat masyarakatnya. Tak heran, banyak warga dunia yang takjub dengan beragamnya budaya di Tanah Air.
Salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia ialah Kampung Naga, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi.
Tak hanya itu, masyarakatnya pun masih rela tinggal di antara hutan belantara yang asri. Mereka memilih hidup sederhana, tanpa aliran listrik.
Seperti apa potret Kampung Naga tersebut? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Advertisement
Kampung Naga bukan soal patung atau berbagai hal yang menyangkut tentang naga. Kampung Naga merupakan sebuah kampung di Tanah Air yang memiliki keunikan lantaran masih memegang teguh adat-istiadat sedari nenek moyang.
Hal ini membuat masyarakatnya sempat menutup diri dari kehidupan luar. Kini, mereka lebih terbuka dengan berbagai kondisi luar serta mulai menerima kunjungan dari wisatawan.
"Dulu, Kampung Naga ditutup untuk orang luar karena mereka tidak mau kehidupan mereka dipengaruhi oleh orang luar kampung mereka," dikutip dari kanal YouTube Amazing Indonesia.
Advertisement
Bukan seperti kampung pada umumnya, Kampung Naga ini menjadi salah satu perkampungan yang cukup berbeda. Meski kini sudah lebih terbuka, namun masyarakatnya masih memegang kuat berbagai ajaran serta adat yang berasal dari para leluhur.
"Kampung ini masih lestari masyarakatnya memegang adat istiadat nenek moyang," dikutip dari kanal YouTube Amazing Indonesia.
Advertisement
Selaras dengan alam. Hal ini tepat untuk menggambarkan Kampung Naga yang penuh dengan keunikan.
Rumah yang ditinggali oleh para penduduknya ini sepenuhnya terbuat dari alam. Mereka membangun perumahan yang cukup dekat antara satu dengan lainnya menggunakan kayu dan bambu.
Advertisement
Meski dikelilingi hutan, para warga tak lantas merasa kekurangan dan ketakutan. Masyarakat Kampung Naga memilih untuk hidup sederhana dan jauh dari penggunaan listrik.
Pemerintah yang sempat mengupayakan hal ini pun mendapatkan penolakan. Mereka lebih memilih untuk hidup secara tradisional, melestarikan adat istiadat.
"Listrik pun mereka tolak," dikutip dari kanal YouTube Amazing Indonesia.
Advertisement
Ucu Suherlan, tokoh masyarakat Kampung Naga menuturkan, masyarakat Kampung Naga kini hidup tanpa jejak sejarah di masa lampau. Hal ini lantaran berbagai dokumen yang berisikan sejarah hangus terbakar pada tahun 1956.
"Itu ada dokumen sejarah yang disimpan di Bumi Ageng[…] Namun pada tahun 1956, Kampung Naga itu dibakar. Nah semuanya musnah, termasuk ada satu bayi yang tidak bisa diselamatkan," ujarnya.
Bagi mereka, sejarah bukan lah suatu hal yang paling penting. Hal utama yang menjadi prioritas adalah hidup dengan melestarikan adat dari para leluhur.
"Bagi kami ahli warisnya (dari nenek moyang), sejarah itu tidak begitu penting, Yang paling penting adalah tradisi atau apa yang dilakukan oleh leluhur itu harus terus dijaga," sambungnya.