Virus corona tidak hanya meresahkan masyarakat luas saja. Akibat adanya virus ini, beberapa sektor dunia juga mengalami kerugian.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah, harga minyak dunia mengalami tekanan, hingga harga emas ikut anjlok.
Advertisement
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) yang dilansir laman resmi BI, Kamis (19/3/2020), harga jual menembus angka Rp15,790 per dollar Amerika Serikat.
Sementara, untuk harga beli menembus angka Rp15,633 per dolar Amerika Serikat.
Advertisement
Meski begitu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta optimis pasar masih bisa mengantisipasi perlambatan ekonomi ini akibat pandemi virus corona (COVID-19)."Tekanan untuk rupiah kemungkinan masih bisa berlanjut hari ini, meskipun BI memberikan stimulus," ujar Ariston seperti dikutip dari Liputan6.com, Kamis (19/3).Menurut Ariston Tjendra, rupiah masih bisa bergerak terus di kisaran Rp15.250 hingga Rp15.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Advertisement
Akibat virus corona, harga minyak dunia juga mengalami tekanan. Harga minyak tenggelam 24 persen ke level terendah pada hari perdagangan Rabu (Kamis waktu di Jakarta). Dilansir dari CNBC, Kamis (19/3), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 24,4 persen. Atau dari US$6,58 ke level USD20,37 per barel. Angka tersebut menjadi level terendah sejak Februari 2002. Dan menjadi hari terburuk ketiga WTI dalam catatan.Di sisi lain, harga patokan minyak mentah internasional atau Brent turun 14,1 persen atau USD 4,04. Diperdagangkan pada level USD 24,67, sehingga menjadi level terendah sejak 2003.
Dikutip dari Liputan6.com, minyak semakin tertekan di sisi penawaran dan permintaan. Perlambatan aktivitas perjalanan serta bisnis di seluruh dunia juga turut membebani permintaan. Fenomena ini sama seperti produsen pembangkit tenaga listrik Arab Saudi dan Rusia yang bersiap untuk meningkatkan produksi."Pasar minyak akan dibanjiri dengan surplus barel," tulis Bank of America dalam sebuah catatan.
Advertisement
Tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Harga emas turut mengalami tekanan yang cukup keras akibat adanya virus corona ini. Dilansir dari CNBC, Kamis (19/3), harga emas di pasar spot turun 2,8 persen menjadi USD 1.485,06 per ounce. Untuk harga emas berjangka Amerika Serikat, turun 2,4 persen menjadi USD 1.488,70."Emas terus menderita dari kepanikan risk-off di pasar, diperdagangkan kembali di bawah level USD 1.500 karena S&P futures menyerah pada kenaikan yang didorong oleh stimulus," kata Tai Wong, Kepala Perdagangan Derivatif Logam Mulia dan Dasar di BMO.Selasa (17/3), Federal Reserve AS mengatakan akan mengembalikan fasilitas pendanaan yang digunakan selama terjadi krisis keuangan 2008. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kredit langsung ke bisnis serta rumah tangga di tengah kecemasan krisis likuiditas akibat virus corona.The Trump Administration, Rabu (18/3), meminta Kongres menyetujui pembayaran tunai sebesar USD 500 miliar kepada pembayar pajak dalam dua putaran yang akan dimulai dari 6 April."Harga emas akan tetap stabil selama beberapa sesi berikutnya karena investor menunggu untuk melihat apakah pemerintahan Trump tidak dapat dengan cepat melewati rencana stimulus besar-besaran," kata Edward Moya, Analis Pasar Senior OANDA.
Advertisement
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan perdagangan saham. Hal ini imbas dari adanya penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 09:37 JATS.
"Dengan ini kami menginformasikan bahwa pada hari ini, Kamis, 19 Maret 2020 telah terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada pukul 09:37:18 waktu JATS," ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Yulianto Aji Sadono.Lebih lanjut, Yulianto Aji Sadono memaparkan penurunan IHSG terjadi pada rentan waktu pembukaan perdagangan yang mencapai 5 persen.
Advertisement
Sebagaimana dikatakan, pembekuan perdagangan telah dilakukan mengingat IHSG mengalami penurunan. Kebijakan ini dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat."Perdagangan akan dilanjutkan pukul 10:07:18 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan," imbuhnya.
Advertisement
Analis Bina Artha Sekuritas, Nafan Aji memaparkan, dampak terburuk yang bisa terjadi adalah mampu menghantam kinerja emiten atau perusahaan publik bila IHSG terus turun secara jangka panjang. Di mana, kemungkinan sektor perbankan dan konsumsi akan mengalami dampak paling besar."Pergerakan IHSG melemah dampak terburuknya kan sektor konsumsi kemungkinan emiten akan mengalami kinerja penurunan. Pihak banking juga alami penurunan," kata dia saat dihubungi merdeka.com, Selasa (17/3).
Menurutnya, sebenarnya sektor perbankan bisa keluar dari tekanan penurunan IHSG. Salah satunya dengan melakukan mitigasi risiko yang cukup baik di masing-masing perubahan. "Dengan begitu maka pergerakan IHSG relatif dia baik. Untuk sementara ini demikian. Karena kalau dilihat dari tahun ke tahun sektor perbankan masih trend," kata dia.
Advertisement
Organisasi Buruh Internasional (ILO) memprediksi 5,3 juta hingga 24,7 juta orang di dunia terancam kehilangan pekerjaan. Itu sebagai imbas dari krisis ekonomi dan tenaga kerja yang disebabkan oleh virus corona. Prediksi tersebut bercermin dari krisis tahun 2008, di mana jumlah pengangguran global meningkat hingga 22 juta orang.Berdasarkan laporan yang dikeluarkan, Rabu (18/3), ILO memprediksi peningkatkan besar-besaran juga akan terjadi pada pengangguran terselubung. Sama seperti sebelumnya, hal ini akibat konsekuensi ekonomi dari virus diterjemahkan menjadi pengurangan dalam jam kerja dan upah."Ini bukan lagi hanya krisis kesehatan global, ini juga merupakan krisis pasar tenaga kerja utama dan ekonomi yang berdampak besar pada manusia," kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder, dikutip Antara, Kamis (19/3).