Di tengah kerumunan massa yang memadati jalanan kawasan DPR RI Senayan, Jakarta, di antara teriakan-teriakan tuntutan dan tembakan gas air mata yang sesekali menyapu udara, seorang pria paruh baya berjalan perlahan.
Namanya Ardi. Usianya 53 tahun. Bukan demonstran. Bukan pula wartawan. Ia hanya pedagang kolang-kaling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rela lari-lari sambil mendorong gerobak di tengan-tengah para demonstran.
Tapi kehadirannya di tengah lautan manusia hari itu di lokasi yang bagi sebagian orang terasa terlalu panas, terlalu berbahaya menunjukkan satu hal perjuangan untuk hidup.
"Saya jualan, Mas. Kolang-kaling," ucapnya sambil tersenyum lelah, ketika seseorang menghampirinya di tengah aksi, seperti dikutip dari akun @dagelan, Selasa (9/2).
Advertisement
Dagang di Tengah Kerusuhan
Ketika ditanya, apakah tak takut berdagang di tengah situasi seperti ini, Ardi hanya mengangguk pelan.
"Was-was pasti ada, Mas. Tapi ini demi anak-anak di rumah. Demi sesuap nasi," katanya.
Ardi bukan orang baru di jalanan. Ia telah berjualan kolang-kaling selama 25 hingga 30 tahun, berkeliling dari satu keramaian ke keramaian lain. Tapi, berdagang di tengah demonstrasi besar seperti hari itu, tetap bukan perkara mudah.
"Kalau suasana mulai panas, ya saya siap lari. Tapi selama bisa jualan, saya jalan terus. Rezeki bisa datang dari mana aja," ujarnya tenang.
Di antara suara orasi dan dentuman gas kejut, Ardi tetap menawarkan dagangannya dengan ramah. Satu bungkus kolang-kaling ia jual seharga Rp3.000 hingga Rp5.000. Tak jarang, pembeli yang tersentuh oleh keberaniannya memilih memborong dagangannya.
"Saya bantu borong, ya, Pak. Biar Bapak cepat pulang dan enggak kena risiko," ucap seorang pemuda yang menyerahkan uang tanpa banyak tanya.
Advertisement
Antara Gas Air Mata dan Doa
Ardi tak asing dengan risiko. Ia tahu, di tengah demo besar, situasi bisa berubah dalam hitungan detik. Gas air mata bisa dilempar, aparat bisa bergerak, massa bisa terpancing.
"Demo pertama dulu juga saya masuk, Mas. Waktu itu sudah geger. Tapi saya enggak takut. Karena waktu itu banyak pedagang juga. Tapi sekarang orang-orang pada takut," katanya.
Namun, di tengah ketakutan itu, Ardi justru merasa lebih kuat.
"Ini tantangan. Tapi insya Allah, rezeki enggak kemana," ucapnya, sambil terus melayani pembeli yang datang satu per satu.
Saat gas air mata mulai menyebar dan bau menyengat menusuk hidung, Ardi menunduk. Bukan karena takut. Tapi karena tahu, tak banyak tempat untuk bersembunyi.
"Lebih-lebih dari yang dulu. Tapi ya sudah. Jalan terus," katanya.
Advertisement
DPR, Rakyat, dan Kolang-Kaling
Pak Ardi tak banyak komentar soal politik. Ia hanya ingin dagangannya habis. Ia ingin pulang dengan membawa uang untuk anak-anaknya. Tapi di balik senyumnya, ia juga berharap.
"Semoga suara mereka (pendemo) didengar. Jangan sampai memakan korban," ucapnya singkat.
Ketika massa mulai bubar, Ardi mengemas sisa dagangannya. Beberapa orang menyalaminya, mengucapkan semangat.
Sebagian minta foto. Di tengah panasnya situasi nasional, Pak Ardi menjadi wajah keteguhan rakyat kecil yang mungkin tak duduk di barisan depan panggung orasi, tapi hadir di garis depan perjuangan—untuk bertahan hidup.
Advertisement
Demo Besar-Besaran Buntut Tunjangan Anggota DPR
Sejak 25 Agustus 2025, sejumlah massa aksi unjuk rasa memadati kompleks parlemen untuk menyampaikan tuntutan, yang salah satunya soal penghapusan tunjangan fantastis bagi anggota DPR RI.
Kemudian pada 28 Agustus 2025, gabungan serikat buruh pun menggelar aksi ke kompleks parlemen untuk menyampaikan tuntutan, di antaranya soal penghapusan outsourcing dan penolakan terhadap upah murah.
Namun pada sore hari, kompleks parlemen didatangi oleh massa demo dari elemen lainnya hingga menyebabkan kericuhan. Demo yang berujung kericuhan itu pun berlanjut hingga 29 dan 30 Agustus 2025, hingga Presiden Prabowo Subianto meminta aparat untuk melakukan tindakan tegas.