Kisah Sa'id bin al-Harits Seorang Ahli Ibadah yang Sahur di Dunia dan Berbuka di Surga
Kisah inspiratif Sa'id bin al-Harits yang dikenal akan ketaatannya dalam beribadah hingga akhir hayatnya sebagai syahid, bahkan saat berpuasa.
Sa'id bin al-Harits adalah seorang prajurit Muslim pada abad ke-8 Masehi di era Bani Umayyah. Dia telah meninggalkan jejak keteladanan yang mendalam.
Kisahnya yang diwariskan oleh Hisyam bin Yahya al-Kinani seorang saksi mata mengisahkan ketaatan luar biasa Sa'id dalam beribadah, bahkan di tengah medan pertempuran yang penuh tantangan.
Kehidupan Sa'id bukan hanya tentang keberanian di medan perang, tetapi juga tentang ketekunannya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Simak ulasan selengkapnya:
Ketaatan yang Tak Tergoyahkan di Medan Perang
Perang Yamuk tahun 38 H menjadi saksi bisu atas kepahlawanan Sa'id. Perang Yarmuk adalah pertempuran antara pasukan Muslim dan Kekaisaran Romawi Timur di bawah komando Maslamah bin Abdul Malik. Pertempuran ini berlangsung di lembah Yarmuk, Yordania.
Namun, keberaniannya di medan perang bukanlah satu-satunya yang menonjol. Kehidupan spiritual Sa'id jauh lebih menawan, menunjukkan keseimbangan sempurna antara kewajiban duniawi dan akhirat.
Hisyam bin Yahya al-Kinani, yang menyaksikan langsung kehidupan Sa'id, menggambarkannya sebagai sosok yang luar biasa dalam ketaatan beribadah. Ketekunan Sa'id dalam beribadah bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan cerminan iman dan ketakwaannya yang mendalam.
Di tengah hiruk pikuk peperangan, Sa'id tetap konsisten menjalankan ibadah wajib dan sunnah. Puasa di siang hari dan sholat malam menjadi rutinitasnya, bahkan di tengah kelelahan dan bahaya yang mengintai.
Di luar waktu sholat, ia selalu berzikir dan membaca Al-Qur'an. Meskipun rekan-rekannya menawarkan untuk meringankan pekerjaannya, Sa'id menolak dengan halus, mengutamakan ibadahnya tanpa mengurangi kewajibannya sebagai seorang prajurit.
Keteguhan hati Sa'id dalam beribadah menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya. Ia membuktikan bahwa keimanan yang kuat mampu mengatasi segala rintangan dan tantangan, bahkan di tengah situasi yang penuh tekanan.
Kematian Syahid yang Mulia
Sa'id bin al-Harits gugur sebagai syahid di medan perang. Sebuah panah menghujam tenggorokannya saat matahari mulai terbenam, menandai akhir hidupnya yang mulia.
Kisah Sa'id bin Al-Harits yang berbuka puasa di surga ini diceritakan oleh Hisyam bin Yahya al-Kinani dalam buku Qiyam Al-Lail wa Al-Munajat 'inda Al-Sahr karya Sallamah Muhammad Abu Al-Kamal. Kisah ini turut dinukil oleh Ahmad Zacky El-Syafa dalam buku Ia Hidup Setelah Mati 100 Tahun.
Pada suatu waktu, Sa'id yang sedang tertidur di dalam kemah mendadak berbicara dan tertawa dengan mata terlelap. Ia mengatakan 'Aku tidak ingin kembali.'
Setelah itu ia terbangun dengan tubuh gemetar dan kemudian bertahlil, bertakbir, dan memuji Allah SWT. Hisyam lalu memintanya menceritakan apa yang tengah dialaminya.
Sa'id menceritakan didatangi oleh dua orang laki-laki dengan wajah rupawan. Mereka berkata, "Bangunlah agar kami bisa memperlihatkan nikmat yang Allah sediakan untukmu."
Sa'id lalu menceritakan, dalam tidurnya, ia melihat istana dan bidadari-bidadari yang menyambutnya. Ia berjalan-jalan dalam istana itu sampai ke sebuah kasur yang di atasnya terdapat satu bidadari. Bidadari itu berkata kepadanya, "Sudah cukup lama aku menantimu."
Sa'id bertanya, "Siapa kamu?"
Bidadari menjawab, "Aku adalah istrimu yang abadi."
Sa'id kemudian mengulurkan tangan kepadanya, namun bidadari itu menampiknya dengan lembut seraya berkata, "Hari ini belum bisa. Sebab engkau masih harus kembali ke dunia."
Dia mengatakan jika Sa'id akan kembali ke tempat tersebut dalam waktu tiga hari, "Engkau harus kembali. Engkau masih harus tinggal di dunia selama tiga hari. Pada malam ketiga, engkau akan berbuka bersama kami. Insya Allah."
Pada pagi harinya, Sa'id menyerang musuh dengan sangat hebat dalam kondisi berpuasa. Ia mencari kematian di jalan Allah SWT. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. Hingga tibalah pada hari ketiga.
Ketika matahari hampir terbenam, salah seorang prajurit Romawi melemparkan anak panah dan mengenai Sa'id. Ia pun tersungkur. Sa'id pun syahid dalam keadaan masih berpuasa.
Makna Kematian Syahid
Kematian syahid dalam Islam memiliki makna yang sangat dalam dan mulia. Mereka yang gugur syahid di jalan Allah dianggap sebagai pejuang yang telah mengorbankan segalanya untuk membela agama-Nya.
Kematian mereka bukanlah akhir, melainkan sebuah awal kehidupan yang lebih baik di sisi Allah SWT. Sa'id bin al-Harits merupakan contoh nyata dari kematian syahid yang mulia. Ia meninggal dalam keadaan berjuang untuk agama Allah, menunjukkan keimanan dan ketakwaannya yang tinggi.
Ajaran Islam mengajarkan bahwa kematian syahid adalah salah satu bentuk kematian yang paling mulia. Mereka yang mati syahid akan mendapatkan pahala yang besar dan akan langsung masuk surga tanpa hisab.