Ritual Aneh Seorang Pria di Jepang Buang Air Besar di Hutan selama 50 Tahun

Ia meyakini bahwa ritual tersebut merupakan filosofi hidup yang harmonis dengan alam.

Benedikta Miranti T.V
Oleh Benedikta Miranti T.V - Reporter
Ritual Aneh Seorang Pria di Jepang Buang Air Besar di Hutan selama 50 Tahun
Ilustrasi Hutan Pinus / Sumber: Pixabay (© 2025 Liputan6.com)

Bagi Masana Izawa, panggilan alam memiliki makna yang sangat mendalam. Selama lebih dari 50 tahun, pria berusia 74 tahun ini menjalani kebiasaan yang unik: buang air besar (BAB) di hutan.

Di Jepang, praktik ini dikenal dengan istilah "noguso", dan Izawa merupakan salah satu pendukung utama yang mempromosikan filosofi hidup yang harmonis dengan alam.

"Kita bertahan hidup dengan memakan makhluk hidup lainnya. Namun, Anda bisa mengembalikan kotoran ke alam sehingga organisme di tanah dapat mengurainya," jelas Izawa kepada AFP, sebagaimana dikutip oleh Bangkok Post, pada hari Minggu (12/1).

"Ini berarti Anda memberi kehidupan kembali. Apa yang lebih luhur dari itu?" tambah dia.

Izawa, yang dijuluki "Fundo-shi" atau "master pupuk dari kotoran", telah menjadi sosok terkenal di Jepang. Ia telah menerbitkan berbagai buku, memberikan ceramah, dan muncul dalam beberapa dokumenter.

Banyak orang tertarik untuk mengunjungi "Poopland", sebuah kawasan hutan seluas 7.000 meter persegi di Sakuragawa, utara Tokyo, untuk belajar tentang praktik buang air besar di alam terbuka. Di lokasi tersebut, pengunjung diajarkan cara melakukan "noguso", yang mencakup langkah-langkah seperti menggali lubang, menggunakan daun untuk membersihkan diri, mencuci dengan air, dan menandai lokasi dengan ranting.

Izawa bahkan mencatat proses dekomposisi kotorannya untuk memastikan bahwa kotoran manusia sepenuhnya terurai.

"Daun-daun ini, apakah Anda bisa merasakan betapa lembutnya mereka?" tanyanya sambil menunjukkan daun pohon silver poplar. "Lebih nyaman daripada kertas/tisu."

Izawa, seorang mantan fotografer alam yang pensiun pada tahun 2006, mengalami pencerahan mengenai konsep "noguso" ketika berusia 20 tahun.

Pada saat itu, ia menyaksikan protes terhadap pembangunan pabrik pengolahan limbah dan menyatakan, "Kita semua menghasilkan kotoran, tetapi para demonstran ingin pabrik itu jauh dari pandangan mereka."

Ia menganggap argumen tersebut sangat egosentris. Sejak momen itu, Izawa memutuskan untuk melakukan buang air besar di alam terbuka sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan.

Meskipun ia percaya bahwa metodenya lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan toilet modern yang mengonsumsi banyak air, energi, dan bahan kimia, praktiknya masih menuai kontroversi.

Di Jepang, tindakan buang air besar di tempat terbuka merupakan hal yang dilarang, tetapi Izawa dapat menghindari hukum karena ia memiliki kawasan hutan pribadi untuk melakukan praktik tersebut.

Namun, para ahli, termasuk Kazumichi Fujii, seorang ilmuwan tanah dari Institut Penelitian Kehutanan dan Produk Hutan Jepang, memberikan peringatan bahwa kotoran manusia dapat mengandung bakteri berbahaya.

Fujii juga menekankan bahwa tindakan mencicipi tanah untuk membuktikan keamanannya, seperti yang dilakukan oleh Izawa, adalah suatu tindakan yang berisiko.

Dalam sejarah, seperti pada era Edo di Tokyo kuno, kotoran manusia digunakan sebagai pupuk. Namun, praktik tersebut menyebabkan sekitar 70 persen penduduk mengalami infeksi parasit.

Dedikasi Izawa terhadap konsep "noguso" melibatkan sejumlah pengorbanan. Pernikahannya berakhir setelah ia membatalkan rencana untuk mengunjungi Machu Picchu, sebuah situs wisata terkenal di Peru, karena harus menggunakan toilet umum di lokasi tersebut.

"Saya mengorbankan istri saya dan perjalanan ke Machu Picchu hanya untuk sebuah 'noguso'," ungkapnya sambil tertawa.

Saat perhatian terhadap isu perubahan iklim dan keberlanjutan semakin meningkat, Izawa merasakan adanya ketertarikan yang lebih besar terhadap filosofi hidupnya, terutama di kalangan generasi muda.

Ia memiliki harapan agar tubuhnya dapat terurai di hutan, bukan dikremasi seperti yang umumnya dilakukan dalam tradisi Jepang. "Bagi saya, tujuan hidup adalah melakukan 'noguso'," kata Izawa.

Meskipun banyak orang menganggap metodenya ekstrem, Izawa tetap berpegang pada keyakinan bahwa manusia seharusnya hidup lebih selaras dengan alam.

Dengan pandangan ini, ia berharap dapat menginspirasi orang lain untuk lebih menghargai lingkungan dan mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan.

Rekomendasi