Mengapa Waktu Terasa Cepat Berlalu Saat Bahagia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Apakah Anda pernah merasakan waktu seolah-olah melaju cepat saat menikmati momen-momen menyenangkan?

Dewinta Wulandari
Oleh Dewinta Wulandari - Reporter
Mengapa Waktu Terasa Cepat Berlalu Saat Bahagia? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Seorang laki-laki dan dua orang perempuan sedang bercengkrama (Foto Dok: Freepik/freepik). (© 2025 Liputan6.com)

Apakah Anda pernah merasakan bahwa waktu terasa begitu cepat berlalu ketika Anda sedang bersenang-senang atau bercengkrama dengan teman-teman?

Banyak orang mengalami fenomena ini, di mana jarum jam tampak bergerak lebih cepat dari biasanya.

Sebaliknya, saat kita melakukan aktivitas yang membosankan, waktu seolah berjalan sangat lambat.

Bahkan, satu menit bisa terasa seperti berjam-jam. Ungkapan bahwa 'waktu berlalu lebih cepat saat kita bersenang-senang' ternyata memiliki penjelasan ilmiah.

Menurut The Mirage, persepsi manusia terhadap waktu sangat elastis, berbeda dengan jarum jam yang bergerak dengan cara yang kaku dan mekanis.

Persepsi ini dapat meregang atau menyusut tergantung pada kondisi mental, emosional, serta lingkungan seseorang, termasuk kondisi fisiologisnya.

Meskipun waktu bergerak secara konsisten, cara manusia mempersepsikan waktu sangat subjektif dan mudah terdistorsi.

Berbagai faktor memengaruhi persepsi ini, seperti tingkat perhatian, ingatan, emosi, ritme biologis, dan usia individu.

Dengan demikian, pengalaman kita terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh keadaan di sekitar dan dalam diri kita masing-masing.

Elastisitas waktu dapat dipahami melalui prinsip time dilation dalam teori Albert Einstein, yang menunjukkan bahwa waktu memiliki sifat yang fleksibel.

Time dilation mengacu pada fakta bahwa waktu dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda bagi objek yang saling bergerak atau berada di medan gravitasi yang berbeda.

Sejalan dengan teori ini, para ahli saraf juga menemukan bahwa otak manusia memiliki 'jam internal' yang bersifat adaptif.

Jam ini mampu memperpanjang atau memperpendek persepsi waktu berdasarkan pengalaman dan keadaan individu.

Ketika seseorang berada dalam keadaan waspada dan berkonsentrasi, jam internal tersebut cenderung beroperasi lebih cepat, sehingga menciptakan kesan bahwa waktu berjalan lebih lama.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa rileks atau terganggu, jam internal akan melambat, yang membuat waktu terasa lebih cepat berlalu. Selain itu, elastisitas persepsi waktu juga terlihat dalam cara otak memproses ingatan.

Saat menghadapi pengalaman baru, otak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi, sehingga menciptakan perasaan bahwa waktu berjalan lebih lambat.

Di sisi lain, dalam situasi yang sudah familiar dan tidak memerlukan banyak fungsi kognitif, waktu terasa lebih cepat berlalu.

Tingkat fokus dan kepadatan memori adalah dua faktor penting yang memengaruhi cara kita mempersepsikan waktu.

Ketika kita terlibat dalam suatu aktivitas atau menikmati pengalaman tertentu, perhatian kita terhadap waktu yang berlalu menjadi berkurang, sehingga waktu terasa lebih cepat.

Sebaliknya, saat kita terlalu memperhatikan waktu, terutama dalam kondisi membosankan atau saat menunggu, kesadaran akan setiap detik yang berlalu membuat waktu terasa lebih lambat.

Peran ingatan juga sangat signifikan dalam hal ini. Ketika kita sedang bersenang-senang, otak kita cenderung tidak merekam detail-detail penting, yang menyebabkan kesan bahwa waktu berlalu dengan cepat saat kita merenungkan pengalaman tersebut.

Di sisi lain, ketika kita merasa bosan, otak kita cenderung menyimpan lebih banyak informasi, sehingga menciptakan persepsi bahwa waktu saat itu berlangsung sangat lama.

Dengan demikian, pengalaman yang berbeda dapat memengaruhi cara kita merasakan dan mengingat waktu.

Penelitian terbaru dalam bidang neurosains semakin memperdalam pemahaman kita mengenai cara kerja otak dalam memahami waktu.

Temuan penelitian mengungkapkan bahwa ganglia basal, bagian otak yang berkaitan dengan gerakan serta proses pembelajaran, memiliki peran penting dalam mengatur persepsi waktu.

Selain itu, dopamin—zat kimia yang terkait dengan perasaan senang—juga berhubungan erat dengan cara otak mengelola 'jam internal'.

Ketika otak dipenuhi dopamin akibat aktivitas yang menyenangkan, jam internal ini dapat berdetak lebih cepat. Hal ini menyebabkan kita merasa waktu berlalu lebih cepat dari biasanya.

Menariknya, persepsi elastisitas waktu ini tidak hanya terjadi pada manusia. Penelitian lain menunjukkan bahwa hewan juga mengalami fenomena serupa dalam memahami waktu.

Hewan-hewan kecil dengan tingkat metabolisme yang tinggi, seperti lalat dan burung, merasakan waktu berjalan lebih lambat dibandingkan dengan kenyataannya.

Rekomendasi