Sasha Blair, Karyawan Google Penderita Lumpuh, Orang di Balik Fitur Disabilitas di Google Maps

Google Maps lebih inklusif berkat Sasha Blair-Goldensohn, insinyur Google yang lumpuh pascakecelakaan, yang mendorong fitur aksesibilitas ramah kursi roda.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Sasha Blair, Karyawan Google Penderita Lumpuh, Orang di Balik Fitur Disabilitas di Google Maps
Sasha Blair, Karyawan Google Penderita Lumpuh, Orang di Balik Fitur Disabilitas di Google Maps (ilustrasi dibuat dengan ChatGPT)

Google Maps kini makin ramah bagi pengguna kursi roda berkat dorongan kuat dari Sasha Blair-Goldensohn, seorang insinyur Google yang menjadi penyandang disabilitas setelah kecelakaan serius. Pada 2009, saat berjalan di Central Park, New York, ia tertimpa cabang pohon busuk seberat 45 kg, mengalami cedera tulang belakang, koma selama sebulan, dan akhirnya harus menggunakan kursi roda.

Mengutip Wbur.org, Rabu (9/7), kembali bekerja di Google setelah rehabilitasi lebih dari setahun, Blair-Goldensohn mendapati ironisnya aplikasi peta yang ia kembangkan sehari-hari ternyata tidak memadai untuk kebutuhannya sendiri. "Google Maps yang dipakai semua orang tidak bisa dipakai oleh saya," ujarnya. "Saya bisa lihat foto makanan di kafe, tapi tidak tahu apakah saya bisa masuk ke sana."

Dorong Fitur Aksesibilitas di Google Maps

Kesadaran itu memicu inisiatif internal yang mengubah layanan peta Google. Blair-Goldensohn memimpin penambahan fitur rute transportasi publik ramah kursi roda dan label aksesibilitas berupa ikon kursi roda di lokasi-lokasi umum. Melalui program Local Guides, Google mendorong jutaan pengguna untuk membantu melengkapi informasi aksesibilitas—seperti pintu masuk tanpa tangga, lift, dan fasilitas kamar mandi yang sesuai.

Dalam wawancara, Blair-Goldensohn mencontohkan salah satu kafe New York yang kini dilengkapi label kursi roda di Maps. “Saya tahu kamar mandinya aksesibel. Jadi saya centang 'ya' di aplikasi, lalu kirim. Informasi itu diverifikasi menggunakan AI sebelum muncul di Maps,” jelasnya.

Advokasi di Luar Google: Lawan Kendala Transportasi Publik

Blair-Goldensohn juga aktif melawan ketimpangan akses transportasi publik di New York City. Ia pernah kesulitan menggunakan subway karena minimnya lift, berbanding terbalik dengan Boston yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

Sebagai bagian dari Elevator Action Group dan Disability Rights Advocates, Blair-Goldensohn menjadi penggugat dalam kasus yang memaksa Metropolitan Transportation Authority (MTA) meningkatkan aksesibilitas. Pada 2023, pengadilan menyetujui kesepakatan yang mewajibkan MTA menyediakan perjalanan bebas tangga di setidaknya 95% stasiun subway sebelum 2055.

Meski begitu, masalah lift yang sering rusak belum sepenuhnya terselesaikan. "Penelitian kami menunjukkan lift rusak rata-rata 30 kali sehari," ungkapnya. "Pengguna kursi roda bisa tiba di stasiun dan tidak bisa naik kereta, atau lebih buruk lagi, lift rusak saat mereka di dalam."

Bantah Anggapan Aksesibilitas Hanya untuk Minoritas

Blair-Goldensohn juga menolak argumen bahwa investasi pada aksesibilitas hanya untuk segelintir orang. Ia mencontohkan fenomena curb cut effect—jalur landai untuk kursi roda yang ternyata memudahkan stroller bayi, koper, sepeda, dan lainnya.

Dalam kunjungan ke stasiun 72nd Street, ia melihat keluarga dengan stroller, seseorang dengan koper, dan pengendara sepeda semuanya memanfaatkan lift yang sama. "Saya bilang pada mereka yang mempertanyakan biayanya—suatu hari nanti kalian akan butuh ini. Entah kalian sendiri atau orang yang kalian cintai," tegasnya.

Aktivisme yang Terpanggil oleh Keadaan

Blair-Goldensohn mengakui ia tidak tumbuh sebagai aktivis, meski lahir dari keluarga jurnalis progresif. Namun kecelakaan yang mengubah hidupnya justru menjadi pemicu. "Hal itu menemukan saya," kata Sasha. "Dan itu membuat saya bisa berada di sini, lebih percaya diri."

Kini ia berkomitmen memastikan teknologi dan sistem transportasi lebih inklusif bagi semua. Perjalanan pribadinya menjadi pengingat bahwa aksesibilitas bukan fitur tambahan, melainkan hak yang harus dipenuhi untuk mewujudkan kota yang setara dan manusiawi.

Rekomendasi