Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengumumkan penemuan menarik dalam bidang keanekaragaman hayati. Mereka berhasil mengidentifikasi spesies cecak jarilengkung baru (genus Cyrtodactylus) di Madiun, Jawa Timur, yang dinamakan Cyrtodactylus pecelmadiun.
Penamaan spesies ini memiliki arti penting, karena selain ditemukan di wilayah Madiun, nama pecelmadiun terinspirasi dari kuliner khas daerah tersebut. Para peneliti berharap bahwa dengan cara ini, budaya lokal dapat lebih dikenal melalui sains, mirip dengan penamaan spesies sebelumnya seperti C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan.
Bagaimana ciri khas dari spesies baru ini? Di mana habitatnya, dan bagaimana statusnya dalam dunia taksonomi? Berikut ulasan lengkapnya, dirangkum Merdeka.com, Jumat (14/3).
Advertisement
Dalam situs resmi BRIN, tim peneliti yang mengkhususkan diri dalam biosistematika dan evolusi mengungkapkan bahwa spesies ini ditemukan di area perkotaan seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun di desa-desa di Madiun serta Mojokerto.
Penamaan pecelmadiun bertujuan untuk menonjolkan keunikan kuliner Nusantara dalam ranah sains. Strategi ini telah diterapkan pada beberapa penamaan spesies sebelumnya, seperti C. papeda dan C. tehetehe.
Selain sebagai penghormatan terhadap budaya lokal, penamaan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” kata, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, dalam situs resmi BRIN.
Advertisement
Secara fisik, C. pecelmadiun memiliki warna dasar yang cenderung cokelat kehitaman. Ukuran tubuhnya bervariasi, dengan panjang tubuh (Snout-Vent Length/SVL) jantan dewasa mencapai 67,2 mm, sedangkan betina dapat mencapai 59,0 mm. Beberapa ciri khas yang membedakan spesies ini antara lain:
- Memiliki 18 hingga 20 baris tuberkular dorsal yang tidak teratur di bagian tengah tubuhnya.
- Terdapat 26 hingga 28 baris tuberkular yang terletak antara ketiak dan selangkangan.
- Mempunyai 28 hingga 34 baris sisik perut yang menjadi pembeda dari spesies lain dalam genus yang sama.
- Pada individu jantan, terdapat 32 hingga 37 pori precloacofemoral, sedangkan bagian subkaudalnya tidak memiliki sisik lebar.
Karakteristik ini menunjukkan bahwa C. pecelmadiun memiliki adaptasi yang unik, terutama dalam lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
"Kami mengamati bahwa C. pecelmadiun cenderung sebagai spesies generalis dalam hal habitat. Spesies ini ditemukan tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah, di berbagai lingkungan yang dekat dengan aktivitas manusia," tambah Awal.
Advertisement
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim peneliti, C. pecelmadiun tergolong sebagai spesies yang bersifat generalis terkait dengan habitatnya. Dengan kata lain, spesies ini mampu beradaptasi dan bertahan di berbagai jenis lingkungan, termasuk area yang telah mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.
Cecak ini biasanya ditemukan tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah dan sering kali terlihat di sekitar bebatuan, permukiman, serta tempat-tempat lembap seperti tumpukan genteng atau tanggul jembatan.
Pola hidupnya yang adaptif ini memberikan tambahan wawasan bagi para ilmuwan mengenai cara spesies cecak jarilengkung beradaptasi di Pulau Jawa. Penemuan ini juga membuka kesempatan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kemampuan spesies ini bertahan di lingkungan yang semakin terfragmentasi.
Advertisement
Secara filogenetik, C. pecelmadiun memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Cyrtodactylus petani, dengan jarak genetik berkisar antara 0,1 hingga 1,6%. Temuan ini menjadi bukti kedua adanya kelompok darmandvillei di Pulau Jawa setelah C. petani.
Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa genus Cyrtodactylus di Jawa terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu:
- Grup darmandvillei, yang banyak ditemukan di wilayah Sunda Kecil.
- Grup marmoratus, yang terkenal memiliki kompleksitas spesies yang lebih luas.
Kondisi ini semakin menegaskan bahwa masih terdapat banyak spesies dalam genus ini yang belum sepenuhnya teridentifikasi. Oleh karena itu, eksplorasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami keanekaragaman tersembunyi (hidden diversity) dari cecak jarilengkung yang ada di Jawa.
Advertisement
Spesies ini telah diumumkan dalam jurnal ilmiah Zootaxa pada tanggal 16 Januari 2025. Penelitian ini menjadi referensi yang sangat penting dalam bidang taksonomi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
Para peneliti menegaskan bahwa penemuan ini memberikan perspektif baru mengenai keragaman fauna di Jawa, serta mengingatkan kita bahwa masih ada banyak spesies yang belum teridentifikasi dengan baik.
Dengan semakin banyaknya spesies baru yang ditemukan, BRIN berharap penelitian ini dapat mendorong tindakan konservasi yang lebih efektif, terutama dalam melindungi habitat alami bagi spesies-spesies unik seperti C. pecelmadiun.
Advertisement
1. Apa itu Cyrtodactylus pecelmadiun?
C. pecelmadiun adalah spesies cecak jarilengkung baru yang ditemukan di Madiun dan Mojokerto oleh tim peneliti BRIN.
2. Mengapa cecak ini diberi nama pecelmadiun?
Nama ini diambil dari kuliner khas Madiun, dengan tujuan mengenalkan budaya lokal melalui dunia sains.
3. Di mana habitat utama Cyrtodactylus pecelmadiun?
Spesies ini ditemukan di daerah urban, seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun di sekitar permukiman desa.
4. Apakah cecak pecelmadiun berkerabat dengan spesies lain?
Ya, C. pecelmadiun memiliki hubungan dekat dengan Cyrtodactylus petani, dengan jarak genetik sekitar 0,1–1,6%.
5. Apa manfaat penemuan spesies baru ini?
Penemuan ini membantu memahami keanekaragaman hayati Jawa, serta membuka peluang penelitian dan upaya konservasi lebih lanjut.