Zoom Video Communications Inc (ZM.O) memperkirakan pendapatan dan laba setahun penuh di bawah perkiraan Wall Street. Hal ini menandakan adanya persaingan yang ketat antarplatform rapat virtual.
Dilaporkan Reuters, Selasa (1/3), terlebih pertumbuhan pengguna baru melambat ketika sekolah dan tempat kerja kembali dibuka. Tak bisa dimungkiri beberapa pesaing Zoom yang mulai menggerogoti pasarnya seperti Cisco, Webex, Microsoft, dan Slack.
Walau begitu, Zoom tak mau menyerah. Mereka mengatakan akan tetap fokus pada ekspansi internasional untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya. Analis RBC Capital Markets, Rishi Jaluria mengatakan, meski terjadi penurunan hal itu tidak seburuk yang terlihat.
"Prospeknya tidak seburuk yang terlihat, terutama mengingat betapa terpukulnya saham itu," kata dia.
Saham Zoom, yang telah jatuh lebih dari 30 persen tahun ini, naik 4,4 persen menjadi US$130,99 dalam perdagangan yang diperpanjang karena dewan perusahaan mengesahkan program pembelian kembali saham hingga US$1 miliar.
Zoom mengalahkan perkiraan untuk penjualan dan laba kuartal keempat, karena pendapatan dari pelanggan perusahaan justru tumbuh sebesar 38 persen.
Perusahaan memperkirakan laba yang disesuaikan tahunan antara US$3,45 dan US$3,51 per saham, dibandingkan dengan perkiraan US$4,41 per saham, menurut data IBES dari Refinitiv.