Wajarkah Stalking Smartphone Pasangan?

Jawabannya tentu bisa berbeda-beda. Bukan hanya setiap individu saja, tetapi juga personal di negara-negara lain

Rita
Oleh Rita - Reporter
Wajarkah Stalking Smartphone Pasangan?
Ilustrasi smartphone. ©Shutterstock/Kostenko Maxim

Jawabannya tentu bisa berbeda-beda. Bukan hanya setiap individu saja, tetapi juga personal di negara-negara lain. Banyak perspektif yang melatarbelakangi jawaban individu di setiap negara berbeda-beda. Pernyataan ini seperti dilaporkan dari hasil survei Kaspersky dengan Coalition Against Stalkerware pada September 2021.

Survei yang dilakukannya ini melibatkan lebih dari 21.000 partisipan di 21 negara tentang. Memotret sikap pengguna terhadap privasi dan penguntitan digital dalam hubungan pribadi terutama dengan menggunakan aplikasi Stalkerware.

Stalkerware memungkinkan pelaku untuk memantau kehidupan pribadi orang lain secara digital melalui perangkat seluler tanpa persetujuan korban.

Lantas, bagaimana hasilnya?

Survei itu merekam bahwa mayoritas responden atau 70 persen menganggap bahwa memantau pasangannya tanpa persetujuan adalah hal yang tidak dapat diterima, namun sebagian sisanya yakni 30 persen menjawab tidak masalah.

Menariknya, dari 30 persen yang membenarkan aktivitas itu memiliki alasan tertentu. Ada tiga alasan yang menghalalkan penguntitan smartphone pasangan, pertama jika pasangan tidak setia. Alasan ini dijawab 64 persen oleh mereka yang tak masalah jika pasangan menguntit isi smartphonenya.

Kemudian yang kedua ialah tentang keselamatan. Argumen ini dijawab sebesar 63 persen dari mereka. Lalu yang ketiga adalah kekhawatiran pasangan terlibat dalam kegiatan kriminal sebesar 50 persen.

Dari sudut pandang geografis, terlihat bahwa anggapan yang membenarkan untuk memantau pasangan secara umum berasal dari responden di kawasan Asia-Pasifik sebesar 24 persen,
sedangkan di Eropa hanya 10 persen. Nah, dari sekian sudut pandang geografis, Amerika adalah yang lebih sedikit menjawab menerima terkait perilaku itu. Hanya sekitar 8 persen.

Sementara, survei yang dilakukan terpisah oleh Sapio Research di tahun yang sama, menunjukkan bahwa 15 persen responden di seluruh dunia telah diminta oleh pasangannya untuk menginstal aplikasi pemantauan. Sayangnya, 34 persen dari mereka yang menunjukkan jawaban ini juga pernah mengalami pelecehan oleh pasangan dekatnya.

"Lebih banyak data diperlukan di area ini dan kami berharap dapat melihat informasi ini digunakan untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan privasi bagi para penyintas," ujar Erica Olsen, Director Keamanan Jaringan, National Network to End Domestic Violence (NNEDV).

Menurut angka Kaspersky, Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat (AS) menjadi tiga negara teratas dalam pengguna yang dihadapkan dengan stalkerware secara global sejauh ini. Dan Indonesia menempati peringkat ke-18 tahun ini di secara global.

Rekomendasi