Produksi Satelit Satria Segera Dimulai, pasca-SNT dan Thales Teken Perjanjian PWA

Satelit Nusantara Tiga (SNT) dan Thales Alenia Space (TAS), perancang dan pabrikan Satria asal Perancis, menandatangani Preparatory Work Agreement (PWA) proyek Satelit Mutifungsi Republik Indonesia Satria. PWA ini menandai kesepakatan antara konsorsium PSN dan Thales Alenia Space untuk memulai pekerjaan persiapannya.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Produksi Satelit Satria Segera Dimulai, pasca-SNT dan Thales Teken Perjanjian PWA
Ilustrasi satelit. © www.stephouse.net

PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dan Thales Alenia Space (TAS), perancang dan pabrikan Satria asal Perancis, menandatangani Preparatory Work Agreement (PWA) proyek Satelit Mutifungsi Republik Indonesia Satria.

PWA ini menandai kesepakatan antara konsorsium PSN dan Thales Alenia Space untuk memulai pekerjaan persiapan pembangunan satelit terkait dengan Proyek Satelit Multifungsi Satria.

Menteri Komunikasi dan Informatika RI Johnny G Plate turut hadir menyaksikan penandatanganan tersebut yang dilangsungkan melalui video conference antara Jakarta dan Paris, kemarin.

Dengan demikian, para pihak terkait dapat segera memulai pekerjaan pembuatan satelit Satria yang mencakup dua kegiatan pokok, yakni melakukan tinjauan kebutuhan muatan sistem satelit (Payload System Requirement Review/Payload SRR) dan melakukan tinjauan status kualifikasi komponen satelit (Equipment Qualification Status Review/EQSR).

PWA ini juga akan memastikan bahwa pembuatan satelit dapat dilaksanakan tepat waktu pada saat kontrak KBPU dan perjanjian pembiayaan akan mulai efektif. Bahkan dimungkinkan selesainya konstruksi satelit lebih awal dari jadwalnya.

“Di tengah pandemi ini, keberlanjutan proyek Satria menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah untuk melakukan percepatan tranformasi digital. Kita yakin bahwa dengan akses telekomunikasi digital yang meningkat dan merata, maka di masa pascapandemi nanti, kita akan siap memulihkan kembali ekonomi yang lesu ini,” kata Menkominfo RI Johnny G Plate, dalam rilisnya, Selasa (8/9).

Menurut menteri, semakin cepat Satria beroperasi, semakin cepat konektivitas digital nasional terselenggara. Sebagian dari pengguna kapasitas Satria akan menikmati internet untuk pertama kali di wilayah mereka. Penyediaan kapasitas satelit sebesar 150 Gbps ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk percepatan tranformasi digital Indonesia yang diharapkan berdampak positif pada kedaulatan, akuisisi ilmu pengetahuan, produktivitas, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing bangsa yang berkelanjutan.

Memanfaatkan Slot Orbit Indonesia di 146E

Pada 3 Mei 2019, dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerjasama, Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres Proyek KPBU Satria. Namun, ketiganya belum bisa berlaku efektif karena belum terjadi financial close dari lembaga pembiayaan untuk proyek ini.

Maka itu, sebagai bentuk komitmen Konsorsium PSN terhadap proyek SMF, Konsorsium PSN bersedia memulai pembangunan satelit, meski fasilitas pembiayaan melalui bank-bank internasional dan perusahaan pembiayaan multilateral masih dalam tahap finalisasi. Dengan inisiatif Konsorsium PSN tersebut, maka PWA ini dapat ditandatangani.

Tahapan financial close proyek Satria mundur akibat pandemi Covid-19 yang melemahkan ekonomi dunia. Kajian Space Tech Expo pada Juli lalu menunjukkan bahwa pandemi ini memberi efek negatif pada penyelesaian waktu proyek, lantaran terganggunya supply chain, pengoperasian fasilitas untuk pabrikasi, dan ketersediaan tenaga kerja yang mulai dialami sejak Maret tahun ini.

Kelangkaan spektrum frekuensi dan slot orbit satelit juga merupakan persoalan tersendiri di tengah kompetisi dunia, yang mana semua negara berusaha memenuhi konektivitas dan kapasitas untuk kepentingan mereka.

Bukan upaya mudah mempertahankan filing satelit yang dimiliki Indonesia saat ini, sehingga pemerintah dan BUP berupaya untuk mengisi dan memanfaatkan slot 146E orbit tersebut untuk menghadirkan sinyal internet pada  2023 di lokasi-lokasi layanan publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, kantor desa, dan lain-lain.

Tentang Proyek Satelit Satria

Proyek SMF Satria merupakan proyek pembangunan sistem satelit untuk penyediaan akses internet pita lebar (broadband internet access) melalui satelit untuk seluruh wilayah Indonesia. Satelit ini  dinamai satelit Satria dan diharapkan menjadi salah satu solusi bagi infrastruktur telekomunikasi Indonesia untuk mengatasi digital gap karena satelit lebih memungkinkan menjangkau seluruh wilayah Indonesia bahkan sampai ke pelosok negeri.

Proyek SMF Satria kerja sama dengan skema KPBU (Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha) dengan Kominfo bertindak selaku penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK). Pabrikan Proyek KPBU Satria adalah Thales yang bermarkas di Perancis, sedangkan peluncuran akan dilakukan dengan menggunakan roket Falcon 9-5500 yang diproduksi oleh Space X Amerika Serikat.

Thales Alenia Space merupakan perusahaan pembuat satelit ternama yang ditunjuk oleh SNT sebagai kontraktor pembuat satelit untuk proyek SMF. Konsorsium PSN menunjuk Satelit Nusantara Tiga (SNT) sebagai Badan Usaha Penyelenggara (BUP) terkait proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Satelit Multifungsi ini.

Konsorsium PSN merupakan konsorsium perusahaan-perusahaan dalam negeri, yang mana PSN (PT Pasifik Satelit Nusantara”) sebagai salah anggota konsorsium adalah perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia yang telah memiliki pengalaman sebagai satelit operator untuk wilayah Indonesia dan Asia selama hampir 30 tahun.

Rekomendasi