ALE Geek Battle: 230 Peserta Terpilih Ikuti Kelas Programming Expert

Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) mengumumkan program ALE Geek Battle, yakni kompetisi untuk membangun aplikasi di atas platform Rainbow ALE, hasil kerja sama dengan pemerintah Indonesia dan Dicoding. Program ini menargetkan beasiswa bagi 1.500 pendaftar untuk mengikuti kelas dasar pemrograman.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
ALE Geek Battle: 230 Peserta Terpilih Ikuti Kelas Programming Expert
Ilustrasi Programmer. ©2012 Merdeka.com

Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) mengumumkan program ALE Geek Battle, yakni kompetisi untuk membangun aplikasi di atas platform Rainbow ALE, hasil kerja sama dengan pemerintah Indonesia dan Dicoding. Program ini menargetkan beasiswa bagi 1.500 pendaftar untuk mengikuti kelas dasar pemrograman dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Dalam kurun waktu dua minggu pendaftaran yang dibuka pada awal November, 4.122 peserta telah mendaftar, jauh melebihi target yang ditetapkan. Di tahap selanjutnya, ALE mengumumkan 203 peserta terbaik yang berhasil lulus dari kelas Android Pemula dan berhak untuk mengikuti Kelas Programming Expert.

Dari 203 peserta yang mengikuti Kelas Android Lanjutan, nantinya dipilih 30 peserta terbaik yang akan bertarung di kompetisi ALE GeeK Battle pada 2 Januari sampai 28 Februari 2020. Puncak rangkaian kegiatan ini pada 19 Maret 2020, yang mana ALE akan mengumumkan pemenang ALE Geek Battle. Para pemenang berkesempatan mendapatkan kontrak kerja ALE dengan total kontrak mencapai Rp 100 juta untuk tiga orang pemenang.

ALE memiliki tujuh juri yang terlibat dalam kompetisi ini, yaitu Adios Purnama, Country Manager ALE Indonesia; Novse Hardiman (Communication Pre-Sales Manager ALE SEA), Budi Rahardjo (dosen dan pakar internet), Aditya Satrya (Kepala Pengembangan IT Pusat Layanan Digital Jawa Barat), Ibnu Sina Wardy (Founder GITS Indonesia), Sidiq Permana (CIO NBS Indonesia), dan Narenda Wicaksono (CEO Dicoding).

“Saat ini penetrasi Internet di Indonesia berkembang pesat. Pada 2015, pengguna Internet di Indonesia mencapai 92 juta orang dan tahun ini jumlahnya mencapai 152 juta orang. Perkembangan industri digital, terutama e-commerce dan transportasi online, juga terlihat terus meningkat. Salah satu penggerak dari kedua sektor ini adalah para programmer andal yang bekerja di balik layar. Melalui ALE Geek Battle, Alcatel-Lucent Enterprise berusaha ikut mendorong pertumbuhan ekonomi digital dengan memberikan kesempatan kepada semua pekerja Indonesia di usia produktif untuk memiliki kemampuan digital dengan mengikuti kelas Android Pemula secara gratis,” ujar Adios Purnama, Country Manager Alcatel-Lucent Enterprise Indonesia, dalam keterangan resminya, kemmarin.

Menurutnya, antusiasme tenaga kerja Indonesia ternyata besar, yang dapat dilihat dari jumlah pendaftar. Ini menandakan bahwa para pekerja sangat membutuhkan program-program pelatihan yang bisa membantu meningkatkan kemampuan digital dan daya saing mereka.

Pertumbuhan aplikasi terjadi dengan sangat pesat. Saat Apple meluncurkan App Store pada 2008, hanya ada 500 aplikasi yang tersedia. Namun, kini per kuartal I 2019, para pemilik perangkat mobile Android bisa memilih 2,6 juta aplikasi, sementara pengguna iOS bisa memilih 2,2 juta aplikasi. Aplikasi mobile diprediksi terus tumbuh sekitar 33 persen per tahun. McKinsey Global Institute memperkirakan kebutuhan programmers dan coders akan naik 55 persen dalam 10 tahun ke depan.

“ALE berkomitmen untuk terus mendukung upaya memajukan kemampuan ekonomi digital Indonesia. Pada 2018, ALE mengadakan ALE Hackathon untuk membantu pertumbuhan startup di Indonesia. Tahun ini kami lebih fokus untuk menumbuhkan talenta digital karena hal ini merupakan inti dari pertumbuhan ekonomi digital. ALE akan terus berkomitmen untuk terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” ujarnya.

Narenda Wicaksono, CEO Dicoding, menambahkan antusiasme peserta ALE Geek Battle menjadi salah satu indikasi hausnya para developer di Indonesia mendapatkan pelatihan-pelatihan yang mampu meningkatkan keahlian khususnya di era industri 4.0, yang mana berbagai industri kian beralih menuju otomasi.

Menurut World Economic Forum, di masa depan SDM yang memiliki keahlian teknis seperti programming dan pengembangan aplikasi menjadi incaran perusahaan.

Untuk itu, penguasaan keahlian yang tepat oleh talenta-talenta muda di bidang IT menjadi sebuah keharusan. Keahlian di bidang programming terbukti menjadi salah satu nilai jual tinggi bagi SDM. Oleh karena itulah kami fokus dan berkomitmen dalam memberikan pelatihan kepada generasi muda yang tertarik dengan dunia programming, jelas Narenda.

Salah satu kisah sukses lulusan Dicoding adalah Junia Firdaus, yang sempat menjadi loper koran sebelum akhirnya berhasil menjadi Android Engineer setelah mengikuti kelas Menjadi Android Developer Expert (MADE) di Dicoding. Kemampuannya di bidang design pattern dan pengolahan data API di kelas MADE membuatnya cepat diterima di dunia kerja.

Rekomendasi