Berdasarkan data dari Adstensity sebuah aplikasi media monitoring khusus iklan-iklan TV mencatat hingga 30 November 2015, bisa dipastikan belanja iklan TV untuk tahun ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jika tahun lalu belanja iklan TV mencapai Rp 99 triliun (66 persen dari total pendapatan iklan nasional), maka tahun ini diperkirakan hanya akan mereguk Rp 71.4 triliun.
Penurunan belanja iklan ini, kata CEO Adstensity, Sapto Anggoro, disebabkan lantaran perlambatan ekonomi yang ditandai dengan memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Hal ini, tentu saja membuat banyak rencana belanja iklan tidak dapat dieksekusi dengan baik.
"Ternyata tahun 2015, untuk iklan TV berdasarkan data yang masuk dan diolah untuk seluruh TV (tidak semua karena ada TV daerah) ternyata cuma 62,9 persen yang tercapai. Karena tahun 2014 ada anomali pemilihan plilpres dan piala dunia," ujarnya saat acara konferensi pers penandatangan MoU antara Adstensity dan Adstream Worldwide di Jakarta, Kamis (10/12).
Lebih jauh, kata dia, jika melihat data dari 1 Januari 2015- 30 November 2015, perolehan iklan TV baru mencapai Rp 65,559 triliun. Terdapat gap sejumlah Rp 33,441 Trilliun di satu bulan terakhir tahun 2015.
Dengan rata--rata belanja per bulan sebesar Rp 5,959 Trilliun dapat dipastikan, tambahan pendapatan di bulan Desember 2015 ini, tetap takkan menyamai angka belanja iklan TV pada tahun lalu.
Hasil ini bukan saja lebih menurun, namun juga meleset jauh dari target yang pernah disebutkan PPPI. Sebelumnya, pada akhir November 2014, Ketua PPPI Harris Thajeb menyebut target belanja iklan nasional untuk tahun 2015 adalah Rp 172,5 triliun, dengan sumbangan iklan TV mencapai Rp 113,5 triliun.
Sekadar informasi, Adstensity adalah nama produk untuk perangkat/aplikasi ads TV monitoring yang dikembangkan oleh PT Sigi Kaca Pariwara. Aplikasi ini memantau aktivitas penyiaran, khususnya penayangan iklan TVC/ads spot di 13 TV berskala nasional dan melakukan penghitungan kualitatif secara otomatis sehingga dinamika penayangan iklan TVC bisa diketahui secara real--time. Baik itu dari sisi frekuensi tayang, belanja iklan, atau distribusi/sebaran penayangan iklan.