Pemerintah akan segera menetapkan syarat wajib bagi vendor smartphone yang bermain di ranah 4G LTE untuk memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebanyak 40 persen. Vivo, vendor asal Tiongkok, mengaku perusahaannya memahami bahwa ada aturan main yang harus dipenuhi agar aman dalam memasarkan produknya di Tanah Air.
Demi menjawab persyaratan itu, Vivo berencana membangun fasilitas pabrik di Indonesia.
"Rencananya kami akan membangun fasilitas pabrik ponsel di Indonesia, tapi rencana pembangunan pabrik ponsel tersebut masih dalam tahap pembicaraan," ujar Alex Feng selaku Vice President and Chief Marketing Officer Vivo Global di Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/06).
Lebih lanjut, Feng memaparkan pembangunan fasilitas pabrik tersebut diharapkan perusahaan dapat dimulai di tahun 2017. Secara rentang waktu, pembangunan pabrik Vivo terlihat terlambat karena syarat TKDN sudah lebih dulu ditetapkan.
Namun, Vivo mengaku selama pabriknya belum didirikan, Vivo akan memakai jasa rekanan dalam memproduksi smartphone 4G buatannya supaya dapat memenuhi persyaratan ponsel lokalnya.
Vendor ponsel pintar ini sebenarnya belum terlalu lama memasuki pasar Indonesia. Meski begitu, mereka mengaku sudah melakukan investasi yang cukup besar di Tanah Air yakni sebesar Rp 266 Miliar.
"Selama beroperasi di Indonesia dengan lima ponsel yang kami hadirkan, kita sudah melakukan investasi sebesar Rp 266 Miliar yang disediakan untuk melakukan branding, menggandeng beberapa pemain e-commerce, dan para distributor. Itu semua belum termasuk kebutuhan investasi membangun pabrik," ujar Feng lagi.