Teknologi pemetaan memang akan sangat berkembang di masa yang akan datang. Hal ini seiring semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan produk ini.
Inilah yang kemudian menarik banyak minat perusahaan teknologi besar dunia untuk meminang Waze, sebuah penyedia teknologi pemetaan dari Israel. Waze pun dipilih lantaran mampu menggunakan data dari publik, yaitu smartphone yang dihubungkan lewat satelit, untuk diterapkan sebagai pembuat peta.
Namun, daripada memilih dibeli oleh perusahaan besar macam Facebook, Waze ternyata lebih mau diakuisisi oleh Google. Padahal, Google sendiri sudah memiliki layanan serupa yang dinamakannya Google Maps dan Google Earth.
Hal ini pun kemudian menimbulkan banyak pertanyaan. Salah satunya, apa alasan Google mau membeli Waze dengan biaya yang tidak sedikit?
Seperti yang dilansir oleh Chicago Tribune (11/6), aplikasi pemetaan adalah satu dari lima aplikasi paling banyak dicari di smartphone maupun tablet. Posisinya hanya bisa dikalahkan oleh aplikasi berbasis game ataupun musik.
Hal inilah yang menarik perhatian Google dan banyak perusahaan lainnya. Meskipun sudah memiliki layanan serupa, Google memang dipastikan memiliki rencana terselubung dengan Waze.
Salah satunya, seperti yang diungkapkan banyak analis, adalah untuk mematikan langkah para kompetitor. Dengan membeli Waze, Google sudah menutup lahan raksasa IT lain untuk membuat layanan pemetaan atau yang menggunakan basis tersebut. Dengan begitu, layanan Google Maps tak akan tersaingi.
Waze pun dipilih bukannya dengan asal-asalan. Hal ini dikarenakan Waze yang sudah memiliki 47 juta pengguna dan mampu mengumpulkan uang sebesar USD 67 juta atau setara Rp 67 miliar.
Takutnya, jika Waze jatuh ke tangan yang 'salah', maka Google-lah yang akan sengsara.