Melihat perkembangan teknologi terapan 3D berarti kita harus menelusuri perkembangannya dua abad lampau. hal ini karena teknologi terapan ini sendiri pertama kali tercipta berkat revolusi industri di Inggris.
Penggagas teknologi terapan 3D sendiri yang paling tersohor adalah Sir Charles Wheatstone FRS, ahli fisika ini selain menemukan teknologi terapan 3D, juga menciptakan berbagai teknologi mulai dari musik hingga telekomunikasi yang mampu bertahan hingga sekarang. Dalam teknologi terapan 3D sendiri, Whearstone menemukan simulasi awal stereoskop dan ilmu yang digunakan untuk mempelajarinya, stereoskopi.
Stereoskop sendiri adalah kumpulan lensa dan cermin yang dirangkai oleh Wheatstone pada 1838. Lewat benda ini, dirinya menunjukkan adanya persepsi 3D yang terbentuk dari dua gambar dengan dimensi berbeda di tempat yang sama.
Hal ini kemudian memicu inspirasi penggunaannya dalam dunia militer. Maka, terciptalah sebuah stereoskop saku yang bisa digunakan untuk menunjukkan citra 3D dari foto sebuah kawasan yang terlihat lewat udara.
Advertisement
Siapa sangka, penggunaannya pun kemudian mulai menurun ke dunia fotografi lewat Stereo slide viewer. Pengembangan stereoskop ini pun akhirnya bisa digunakan untuk melihat isi dari sebuah klise film sebelum dicetak. Dengan begitu, pencetak foto tak perlu lagi kebingungan mencari klise mana yang mau dicetaknya.
Stereo slide viewer pertama kali diproduksi oleh Tru-Vue pada awal 1931. Perkembangannya berlanjut hingga awal 1940 oleh Bakerlite, Bruguiere, Lestrade, dan ROMO hingga akhirnya meredup pada akhir masa fotografi hitam putih.
Meski begitu, turunan teknologi dari stereoskop ini masih terus berlanjut. Salah satunya, masih digunakan dalam penghasil persepsi 3D dalam industri film.
Hal ini bisa terlihat dari berbagai kacamata 3D yang pernah muncul hingga sekarang. Jumlahnya bermacam-macam mengikuti metode penyampaian yang digunakan.
Di awal tahun 90-an, mungkin yang paling terkenal adalah metode anaglifik. Metode ini mengharuskan pemirsanya untuk mengenakan kacamata kertas dengan lensa merah di kiri dan cyan (sejenis biru muda) di kanan.
Kacamata dengan lensa unik ini menggabungkan dua persepsi dari sebuah gambar dan memfilternya. Hasilnya, akan didapatkan sebuah komposisi persepsi yang mampu membentuk 3D.
Hingga saat ini sendiri, teknologi terapan 3D tak hanya digunakan untuk mencipatakan persepsi saja. Namun juga sudah mulai digunakan untuk mencetak benda nyata melalui printer 3D.
Dari berbagai sumber