Sebuah potret dari tahun 1894 yang memperlihatkan seorang pria muda tersenyum ke arah kamera kembali mencuat dan menarik perhatian para sejarawan serta pecinta fotografi.
Senyuman dalam foto era Victoria ini dianggap sangat langka, mengingat pada masa tersebut, ekspresi wajah serius adalah norma dalam potret resmi.
Mengutip OpenCulture, Kamis (3/4), foto ini diambil oleh James Notman, fotografer asal Montreal, dan memperlihatkan pria muda dengan senyum lebar dan postur santai yang tidak lazim untuk zamannya.
Potret tersebut baru-baru ini dibagikan ulang oleh arsip digital Open Culture dan menjadi perbincangan luas di media sosial.
“Pada akhir abad ke-19, tersenyum dalam foto dianggap tidak pantas atau tidak sopan. Fotografi saat itu erat kaitannya dengan formalitas,” kata Dr. Emily Webb, sejarawan budaya visual dari University of Cambridge.
Banyak faktor menyebabkan jarangnya ekspresi tersenyum dalam foto era tersebut, mulai dari waktu eksposur kamera yang lama hingga persepsi bahwa potret adalah representasi serius dan abadi dari diri seseorang.
Namun dalam kasus foto 1894 ini, sang subjek tampak melanggar konvensi tersebut, menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat era Victoria terpaku pada norma formal.
Beberapa pakar menyebut foto ini sebagai bukti bahwa emosi spontan tetap hadir, bahkan di era yang dianggap kaku dalam hal ekspresi wajah.
Penemuan kembali foto ini memberikan wawasan baru terhadap keragaman ekspresi manusia dalam sejarah fotografi, serta mendorong pengkajian ulang terhadap persepsi budaya masa lalu.
“Foto ini mengingatkan kita bahwa masa lalu tidak selalu seformal yang kita bayangkan. Manusia selalu memiliki sisi humor, hangat, dan spontan, hanya saja tidak selalu terekam,” tambah Dr. Webb.
Potret senyuman langka dari abad ke-19 ini kini menjadi salah satu artefak visual penting yang memperkaya narasi sejarah budaya dan perkembangan media visual.