Elon Musk sebut kecerdasan buatan sebagai 'diktator abadi'

Sabtu, 7 April 2018 06:00 Reporter : Indra Cahya
Elon Musk sebut kecerdasan buatan sebagai 'diktator abadi' Elon Musk. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Elon Musk sudah lama mendapat julukan sebagai Tony Stark dunia nyata. Ambisinya untuk menjadikan dunia jadi tempat lebih baik dengan bantuan teknologi, tentu telah dirasakan di berbagai bidang.

Berbagai hal seperti bantuannya untuk membangun baterai raksasa sebagai pengganti listrik konvensional, memproduksi mobil listrik Tesla yang mengubah pandangan masyarakat soal mobil mewah itu seperti apa, serta kontribusinya di dunia antariksa dan ambisi membawa manusia ke Mars lewat Space X.

Namun dengan semua obsesinya soal teknologi itu, Elon Musk diam-diam membenci produk teknologi yang digadang-gadang akan jadi masa depan, yakni AI atau kecerdasan buatan.

Dalam sebuah dokumenter terbaru berjudul "Do You Trust This Computer?", Elon menyebut bahwa di zaman kecerdasan buatan, kita bisa menciptakan "diktator abadi yang tidak akan pernah bisa kita lepaskan."

Frasa diktator abadi sepertinya merujuk pada konsep otoritarianisme yang dimpimpin oleh seseorang yang merupakan diktator. Rezim otoriter tentu bisa runtuh jika sang penguasa mati: seperti hanya Hitler dan Mussolini. Namun sentimen ini digunakan Elon untuk AI, di mana kecerdasan buatan itu abadi, tak akan pernah mati, dan tentu kita tak bisa lepas darinya.

Dokumenter "Do You Trust This Computer?" ini dibuat oleh Chris Paine, seorang sutradara yang sama yang membuat dokumenter "Who Killed The Electric Car?" tahun 2006 yang memunculkan Elon di dalamnya.

Dalam dokumenter terbaru ini, Paine mengeksplorasi berbagai bahaya kecerdasan buatan, subyek yang sangat vokal ditentang oleh Elon. Elon menyebut bahwa ada kemungkinan jika AI yang dikembangkan oleh negara dengan pemerintah otoriter, bisa jadi akan menghasilkan struktur penindasan masyarakat secara permanen.

Hal ini pun telah terlihat di beberapa negara. Mulai dari Rusia yang menggunakan algoritma untuk melemahkan demokrasi, serta China yang meluncurkan Sistem Kredit Sosial yang bertujuan untuk memantau warganya mulai 2020 nanti.

Sebelumnya, Elon memperingatkan bahwa AI bisa memulai Perang Dunia III. Elon sendiri pernah menyarankan pemerintah untuk meregulasi soal kecerdasan buatan, karena AI memiliki "risiko terbesar yang dihadapi peradaban manusia." [idc]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini