Ilmuwan selama ini menggunakan bentuk dan ukuran tulang untuk memperkirakan jenis kelamin manusia purba, namun akurasi metode ini ternyata memiliki batasan yang kerap terabaikan.
Meskipun pendekatan morfologis seperti ukuran tulang paha atau lebar panggul bisa mencapai akurasi hingga 95 persen, sejumlah ahli mengingatkan bahwa tidak semua kerangka cocok dengan kategori biner laki-laki atau perempuan.
“Rata-rata, laki-laki 15 persen lebih besar dari perempuan,” ujar Kaleigh Best dari Western Carolina University dilansir dari LiveScience, Jumat (9/5).
Namun, faktor genetik, lingkungan, dan pola makan dapat memengaruhi ukuran tubuh secara signifikan.
Menurut Sean Tallman dari Boston University, metode paling akurat saat ini adalah analisis DNA kuno yang mampu mendeteksi kromosom X dan Y dari fragmen tulang atau gigi, dengan tingkat akurasi hingga 99 persen. Meski begitu, DNA tidak selalu dapat dipulihkan dari kerangka berusia ribuan tahun.
Masalah bertambah rumit ketika kerangka milik individu interseks atau mereka yang secara biologis tidak sepenuhnya laki-laki atau perempuan. “Jenis kelamin itu bimodal, bukan hanya dua kategori,” kata Donovan Adams dari University of Central Florida. Diperkirakan 1,7 persen populasi manusia memiliki kondisi interseks, termasuk sindrom Klinefelter, androgen insensitivity syndrome, atau CAH.
Salah satu kasus yang mengubah pemahaman ilmuwan adalah kerangka pahlawan Revolusi Amerika, Casimir Pulaski. Meski tercatat sebagai laki-laki, kerangkanya menunjukkan ciri pertumbuhan tulang perempuan. Virginia Estabrook dari University of Maryland menyebut Pulaski kemungkinan memiliki CAH.
“Biasanya kita tidak tahu siapa orang ini saat menemukan kerangka,” jelasnya.
Estabrook juga menekankan pentingnya membedakan antara seks biologis dan identitas gender. Menurutnya, gender tidak diwarisi melainkan “dilakukan sepanjang hidup”. Arkeolog kerap keliru ketika mengaitkan aktivitas seperti menggiling biji atau menenun sebagai penanda perempuan, padahal jejak aktivitas ini tidak selalu mencerminkan gender seseorang.
Di Pompeii, misalnya, kerangka yang semula diasumsikan sebagai ibu dan anak ternyata adalah laki-laki dewasa dan anak yang tidak berkerabat, berdasarkan analisis DNA. Begitu pula pejuang Viking bersenjata lengkap yang semula diyakini laki-laki, namun ternyata secara biologis adalah perempuan.
Tallman menyebut sistem klasifikasi biner masih mendominasi sains forensik dan arkeologi. “Sulit untuk benar-benar keluar dari sistem biner,” katanya.
Namun, menurut Estabrook, selalu ada individu yang tidak cocok dengan batasan yang kaku. “Setiap kali kita menarik garis keras antara laki-laki dan perempuan, akan selalu ada yang jatuh di luar garis itu,” tegasnya.
Minimnya riset terhadap kerangka interseks dalam arkeologi memperparah persoalan. Pendanaan federal untuk studi ini masih sangat terbatas, membuat banyak kerangka yang tak teridentifikasi secara akurat hanya karena tidak sesuai dengan norma biner yang lazim digunakan.
Dengan semakin majunya teknologi, para peneliti berharap identifikasi biologis bisa dilengkapi dengan pemahaman sosial dan budaya yang lebih inklusif. “Jenis kelamin mungkin bisa diperkirakan dari tulang,” ujar Estabrook. “Tapi memahami siapa orang itu sebenarnya, selalu membutuhkan lebih dari sekadar sains.”