Mengapa Asap Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Berbahaya bagi Anak?

Asap karhutla berdampak lebih berat pada bayi dan anak. Dokter IDAI membeberkan dua faktor pemicu dan langkah perlindungannya.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria- Reporter
Mengapa Asap Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Berbahaya bagi Anak?
Seorang ibu bersama anaknya yang mengenakan masker melihat kondisi sekitar dari atas jembatan di tengah kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (12/10/2026). Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama beberapa pekan terakhir akibat kebakaran yang melanda kawasan hutan di Kalimantan dan Sumatra. Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin hingga melintasi wilayah regional dan berdampak pada kualitas udara. (Reina/AFP)

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat mengancam kesehatan, terutama bayi dan anak-anak. Dibandingkan orang dewasa, kelompok usia ini lebih rentan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan polusi udara.

Ada dua faktor utama yang membuat bayi dan anak lebih rentan terhadap asap karhutla, yakni frekuensi napas yang lebih cepat dan sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang.

Dokter Fifi Sofiah, SpA(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM10, PM2,5, serta berbagai zat kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Lantas, mengapa asap karhutla lebih berisiko bagi bayi dan anak? Apa dampaknya terhadap kesehatan, dan bagaimana orang tua dapat melindungi mereka?

Mengapa asap karhutla berbahaya bagi anak?

Asap karhutla mengandung partikel polutan berukuran mikroskopis. Salah satunya adalah PM2,5, yaitu partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru.

Menurut Fifi, kandungan kimia dalam PM2,5 yang dihasilkan kebakaran hutan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan partikel yang berasal dari sumber lain. Kandungan tersebut dapat meningkatkan risiko iritasi dan peradangan saluran pernapasan.

"Kimianya berbeda dengan PM2,5 yang dihasilkan oleh bukan kebakaran hutan. Jadi akibat kebakaran hutan, PM2,5 kandungannya lebih toksik dibandingkan dari bahan yang lain dan ini akan mengiritasi saluran pernapasan," kata Fifi dalam wawancara daring pada Jumat (16/10).

Paparan asap karhutla dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, hingga memperparah kondisi penyakit paru kronis. Paparan polutan juga dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi atau peradangan pada saluran napas.

 

Apa yang membuat bayi dan anak lebih rentan?

Ada dua alasan utama yang menjelaskan mengapa dampak asap karhutla dapat lebih besar terhadap anak dibandingkan orang dewasa.

Frekuensi napas anak lebih cepat

Bayi dan anak bernapas lebih sering dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, mereka berpotensi menghirup polutan lebih banyak dalam periode waktu yang sama, bergantung pada tingkat aktivitas dan konsentrasi polutan di udara.

Fifi menjelaskan, frekuensi napas bayi dapat mencapai sekitar 60 kali per menit. Sementara itu, anak usia 1–2 tahun dapat bernapas kurang dari 50 kali per menit, dan anak usia 1–5 tahun sekitar 40 kali per menit.

"Semakin sering anak bernapas, semakin besar pula potensi paparan polutan yang masuk ke saluran pernapasan," ujar dia.

Ketika udara dipenuhi asap, frekuensi napas yang tinggi membuat anak perlu mendapatkan perlindungan ekstra dari paparan polusi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Sistem kekebalan tubuh masih berkembang

Faktor kedua adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih dalam tahap perkembangan. Kondisi ini membuat kemampuan tubuh mereka dalam menghadapi berbagai paparan lingkungan belum sepenuhnya matang.

Karena itu, paparan polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama pada bayi dan anak yang memiliki kondisi medis tertentu.

Anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB), misalnya, memerlukan perhatian khusus karena paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatannya.

 

Apa dampak asap karhutla terhadap kesehatan anak?

Dampak paparan asap bergantung pada konsentrasi polutan, durasi paparan, serta kondisi kesehatan anak. Beberapa gangguan yang perlu diwaspadai meliputi:

ISPA: paparan polusi dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Asma kambuh: asap dan partikel halus dapat memicu atau memperburuk gejala asma pada anak yang memiliki kondisi tersebut.

Peradangan saluran napas: zat kimia dalam asap dapat memicu iritasi dan respons peradangan.

Gangguan penyakit paru kronis: anak yang memiliki penyakit pernapasan tertentu berisiko mengalami perburukan kondisi.

Gejala yang perlu diperhatikan orang tua antara lain batuk, sesak napas, dan frekuensi napas yang lebih cepat dari biasanya. Jika anak mengalami kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.

Bagaimana melindungi anak dari asap karhutla?

Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, orang tua dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan polutan.

Pantau kualitas Udara

Periksa informasi kualitas udara di wilayah tempat tinggal sebelum menentukan aktivitas anak. Jika polusi meningkat, kurangi kegiatan di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang membuat anak bernapas lebih cepat.

Siapkan ruang bersih di rumah

Pilih satu ruangan yang dapat digunakan anak untuk mengurangi paparan asap. Tutup pintu dan jendela ketika udara luar berasap, serta gunakan pembersih udara portabel jika tersedia.

Pastikan pula asap tidak masuk melalui celah bangunan. Jika kondisi di dalam rumah justru dipenuhi asap atau terasa tidak aman, pertimbangkan mencari tempat yang udaranya lebih bersih.

Batasi aktivitas di luar ruangan

Saat kualitas udara buruk, sebaiknya tunda aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak. Langkah ini penting terutama bagi bayi, anak dengan asma, serta anak yang memiliki penyakit jantung bawaan atau gangguan kesehatan lainnya.

Kenali tanda gangguan pernapasan

Orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, termasuk batuk yang memburuk, napas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan bernapas.

Jika anak tampak kesulitan bernapas, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu hingga gejala semakin berat.

 

Kapan orang tua harus mencari pertolongan medis?

Batuk atau iritasi ringan setelah terpapar asap tetap perlu dipantau. Namun, kesulitan bernapas merupakan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan segera.

Orang tua perlu segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami sesak napas, napas yang sangat cepat atau tampak berat, maupun kondisi yang memburuk setelah terpapar asap.

Bagi anak dengan penyakit bawaan atau gangguan pernapasan, orang tua sebaiknya mengikuti anjuran dokter mengenai langkah pencegahan dan penanganan saat kualitas udara memburuk.

Rekomendasi