Mengapa Medan Diselimuti Kabut Asap Meski Sumut Nihil Titik Api?

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara memastikan tidak ada titik panas kebakaran hutan dan lahan terdeteksi berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Jumat (16/10).

Uga Andriansyah
Oleh Uga Andriansyah- Reporter
Mengapa Medan Diselimuti Kabut Asap Meski Sumut Nihil Titik Api?
Dinas LHK Sebut Kabut Asap di Sumut Berasal dari Luar Daerah

Kabut asap dan penurunan kualitas udara kembali menjadi perhatian masyarakat di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan. Kondisi ini membuat warga perlu kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Namun, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara (LHK Sumut) memastikan tidak ada titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi di wilayah tersebut berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (16/10).

Lantas, jika tidak ada titik panas di Sumatera Utara, dari mana asal kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah?

Asap Diduga Berasal dari Luar Sumatera Utara

Kepala Dinas LHK Sumut, Heri Wahyudi Marpaung menjelaskan, kabut asap yang mencapai Sumatra Utara diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di luar daerah. Asap tersebut diperkirakan terbawa oleh pergerakan angin hingga memengaruhi kualitas udara di wilayah Sumut.

“Berdasarkan data BMKG hari ini, tidak ada lagi titik api di Sumut. Wilayah kita relatif aman bersama Aceh. Namun, fenomena asap yang merambah ke wilayah kita hingga warga kembali harus memakai masker dipicu oleh pergerakan angin dari daerah luar,” ujar Heri dalam konferensi pers di kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (16/10).

Meski demikian, asal asap tersebut masih berupa dugaan berdasarkan kondisi yang disampaikan pihak LHK Sumut.

Dua Titik Panas di Asahan dan Samosir Telah Dipadamkan

Heri mengatakan, sekitar satu setengah bulan sebelumnya, pihaknya sempat mendeteksi dua titik panas di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Samosir.

Kedua titik tersebut telah berhasil dipadamkan melalui kerja sama berbagai pihak, mulai dari masyarakat, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, hingga Dinas LHK.

Berdasarkan data BMKG yang dirujuk pada Jumat (16/10), tidak ada lagi titik panas yang terdeteksi di Sumatra Utara.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun wilayah Sumut tidak terdeteksi memiliki titik panas pada saat itu, dampak asap dari kebakaran di daerah lain masih berpotensi dirasakan masyarakat.

Sejumlah Daerah Masih Mengalami Karhutla

Menurut Heri, kebakaran hutan dan lahan secara nasional masih terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, dan Riau.

Kebakaran di wilayah-wilayah tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena asap yang dihasilkan dapat menyebar mengikuti pergerakan angin dan mencapai daerah lain.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebakaran di lahan gambut. Ketika lahan gambut mengering, risiko terjadinya kebakaran meningkat dan api dapat menghasilkan asap pekat.

“Karakteristik lahan gambut harus tetap basah dan berair. Jika mengering, potensi kebakaran sangat tinggi dan melahirkan asap pekat. Penanganannya tidak bisa disamakan dengan hutan darat biasa,” kata Heri.

Mengapa Lahan Gambut Membutuhkan Penanganan Khusus?

Lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dari hutan darat pada umumnya. Karena itu, pengelolaan air dan upaya menjaga kelembapan gambut menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran.

Ketika gambut mengering, material organik di dalamnya lebih mudah terbakar. Kebakaran gambut juga dapat menghasilkan asap pekat dan membutuhkan penanganan khusus agar api benar-benar padam.

Heri menyambut langkah pemerintah pusat membentuk badan khusus untuk menangani dan merehabilitasi ekosistem mangrove serta gambut.

Menurutnya, karakteristik gambut memerlukan metode penanganan tersendiri dan tidak dapat disamakan dengan pengelolaan hutan produksi maupun hutan lindung.

Apa Langkah Pemprov Sumut Mengatasi Dampak Asap?

Untuk mengurangi dampak kabut asap dalam jangka pendek, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara melakukan sejumlah upaya mitigasi.

Langkah tersebut meliputi pembagian masker kepada masyarakat serta koordinasi untuk melaksanakan modifikasi cuaca guna memicu hujan di wilayah terdampak.

Upaya tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi udara yang menurun sekaligus mendukung penanganan dampak asap.

Selain itu, Heri mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan. Pencegahan ini penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta menekan dampak asap terhadap kesehatan.

Rekomendasi