Bahaya Tersembunyi! Kebiasaan Gigit Mainan pada Anak Diduga Tingkatkan Risiko Gangguan Ginjal

Apakah benar bahwa kebiasaan menggigit mainan dapat menyebabkan masalah ginjal pada anak? Mari kita telusuri lebih dalam mengenai hal ini.

Ade Nasihudin Al Ansori
Bahaya Tersembunyi! Kebiasaan Gigit Mainan pada Anak Diduga Tingkatkan Risiko Gangguan Ginjal
Risiko Masalah Ginjal Anak Meningkat Akibat Kebiasaan Gigit Mainan? Simak Penjelasan Dokter. Foto dibuat oleh AI. (© 2026 Liputan6.com)

Kebiasaan anak yang suka menggigit mainan dapat berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit ginjal.

Menurut I Gusti Lanang Sidiartha, seorang dokter spesialis anak konsultan, risiko ini sering kali dikaitkan dengan paparan mikroplastik. Mainan berbahan plastik merupakan salah satu sumber mikroplastik yang dapat tertelan oleh anak.

"Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran di bawah 5 mm. Bisa masuk (ke tubuh) lewat mainan anak yang berbahan plastik, apalagi yang dimasukkan ke mulut," ungkap Lanang dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan, yang dikutip pada Sabtu (11/4).

Ia menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan mempengaruhi berbagai organ, termasuk ginjal. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang secara tegas menyatakan bahwa mikroplastik dapat memicu berbagai penyakit, termasuk gangguan ginjal.

"Mikroplastik bisa masuk ke pencernaan, bisa merusak sel-sel usus anak. Ini menyebabkan terjadinya kerusakan sel, inflamasi, bisa juga masuk dalam sirkulasi darah dan menyebar ke hati, ginjal, paru-paru, bahkan otak," tambahnya.

Walaupun demikian, Lanang menegaskan bahwa dari berbagai penelitian, mikroplastik belum terbukti secara langsung menyebabkan penyakit tertentu, tetapi dapat berfungsi sebagai faktor risiko. Misalnya, anak lebih rentan mengalami diare ketika mainan terkontaminasi kuman dan sering digigit. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa anak sebenarnya sudah terpapar plastik sejak lahir dari berbagai benda. Misalnya, penggunaan alas tidur berbahan plastik, alat makan plastik, dan pakaian yang mengandung plastik.

"Itu dalam artian plastik yang makro, misalnya alat makan plastik diisi air panas, nanti plastik yang makro ini bisa menghasilkan plastik yang mikro," jelasnya.

Kasus kesehatan anak di Indonesia

Lanang mengakui bahwa kasus kesehatan anak di Indonesia semakin meningkat. Salah satu masalah yang paling mencolok adalah terkait dengan kesehatan paru-paru. Selain itu, terdapat pula beberapa penyakit lama yang kembali muncul, ditambah dengan penyakit-penyakit baru yang sulit untuk dikendalikan.

Penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan, seperti diare dan kesulitan buang air besar (BAB), serta masalah pernapasan seperti asma dan pneumonia, juga menunjukkan peningkatan. Kasus autisme, keterlambatan perkembangan, serta penyakit jantung, hepatitis, dan kanker turut mengalami kenaikan yang signifikan.

"Tapi apakah peningkatan penyakit ini akibat kontaminasi mikroplastik ini? Salah satu faktor risikonya adalah kontaminasi mikroplastik secara tidak langsung," ungkap Lanang.

Hal ini menunjukkan bahwa masih diperlukan kajian dan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami dampak mikroplastik terhadap meningkatnya masalah kesehatan anak.

Dengan semakin banyaknya bukti yang muncul, penting bagi para peneliti dan pembuat kebijakan untuk menginvestigasi lebih lanjut mengenai hubungan antara kontaminasi mikroplastik dan kesehatan anak di Indonesia.

Rekomendasi