Anak yang telah mencapai usia 18 bulan seharusnya sudah tidak lagi menggunakan dot untuk minum. Namun, masih banyak orangtua yang membiarkan anak mereka menggunakan dot meskipun sudah lebih dari dua tahun.
Dokter spesialis anak Mesty Ariotedjo menjelaskan bahwa kebiasaan ini sebaiknya dihentikan karena dapat mempengaruhi perkembangan struktur rahang anak.
"Seharusnya anak 18 bulan sudah tidak minum pakai dot. Siapa yang anaknya masih pakai dot dua tahun ke atas? Masih banyak ya, karena itu akan mengubah struktur rahang," ungkap Mesty dalam acara Puncak Acara Pekan Merah Putih Tamasya yang diadakan bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) di Jakarta pada Selasa (19/8).
Mesty juga menambahkan bahwa orangtua sering kali bertanya mengenai kapan anak mereka bisa berjalan atau berbicara. Namun, ada satu aspek perkembangan yang jarang ditanyakan, padahal sangat penting, yaitu kemandirian dan personal social.
Salah satu indikator kemandirian adalah ketika anak sudah tidak lagi minum menggunakan dot.
"Di mana harusnya anak usia 6 bulan sudah bisa minum pakai cangkir, anak 18 bulan sudah tidak minum pakai dot," jelasnya.
Selain itu, perkembangan bahasa dimulai sejak bayi hingga usia 3-4 tahun. Ini berarti, ketika orangtua menggunakan lebih dari satu bahasa, bahasa-bahasa tersebut bisa mulai diajarkan kepada anak, seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.
"Bilingual bisa diajarkan sedari bayi selama tidak ada tanda-tanda keterlambatan bicara," kata Mesty.
Advertisement
Mesty menegaskan bahwa kemampuan berbicara anak sangat terkait dengan tingkat kecerdasannya atau IQ. Ia menyatakan,
"Yang berhubungan (dengan IQ) adalah kemampuan bicara sesuai usia, itulah yang memiliki hubungan sangat kuat dengan kecerdasannya," kata dia.
Namun, saat ini, orangtua dihadapkan pada tantangan besar yang disebabkan oleh keberadaan gadget. Menurutnya, perangkat ini bukanlah pengganti pengasuhan anak. Sebaliknya, penggunaan gawai berpotensi menyebabkan anak mengalami tantrum, meningkatkan risiko gangguan perilaku, serta menghambat perkembangan kemampuan berbicara, yang dikenal dengan istilah speech delay.
Mesty menekankan, "Sehingga tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak di bawah usia satu tahun," untuk mencegah dampak negatif tersebut.
Advertisement
Mesty menjelaskan pentingnya stimulasi bagi anak sejak usia dini, bahkan sejak dalam kandungan, untuk meningkatkan kecerdasannya. Ia mengungkapkan, "IQ apakah keturunan atau bukan? Jadi ternyata IQ atau kecerdasan anak tidak hanya faktor genetik, tetapi bisa dioptimalkan bahkan sampai 30 persen lebih tinggi di tahun-tahun pertama kehidupannya." Untuk meningkatkan IQ anak, Mesty menyarankan beberapa cara, antara lain:
- Nutrisi harus baik agar berat badan naik optimal.
- Stimulasi yang tepat sedari bayi.
"Tapi yang harus kita lihat, apakah stimulasi itu dari bayi? Atau jangan-jangan dari masa kandungan. Ternyata data menunjukkan bahwa bayi sudah berkembang pendengarannya sejak dalam kandungan. Bayi akan mendengar ucapan ibunya, dialog ibu dan bapaknya sejak di dalam kandungan," kata Mesty. Ia menekankan bahwa ketika orang tua berdialog dengan penuh kasih sayang, anak yang lahir akan memiliki temperamen yang baik. "Jadi, ketika orangtua berdialognya dengan penuh kasih sayang, ibunya tenang, ternyata studi menunjukkan anaknya lahir dengan temperamen yang tenang," jelasnya.
Namun, Mesty juga memperingatkan bahwa jika ibu hamil mengalami stres, hal itu dapat berdampak negatif pada perkembangan anak. "Tapi ketika ibu hamil setiap hari enggak ada yang dukung, setiap hari stres, sama suaminya dicuekin, suaminya sibuk sendiri, ternyata ibu yang cemas itu akan menghasilkan hormon stres yaitu kortisol yang akan masuk melalui plasenta yang berkaitan dengan gangguan neurologis ketika anaknya lahir," jelasnya. Gangguan neurologis ini umumnya dapat menyebabkan masalah dalam perkembangan anak.