Menyambut Tahun Ajaran Baru, Full Day School, Solusi Pendidikan atau Beban untuk Anak?

Full Day School menjadi opsi menarik bagi orang tua. Ketahui lebih dalam tentang konsep, kelebihan, kekurangan, dan perbedaannya dengan sistem pendidikan lain.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Menyambut Tahun Ajaran Baru, Full Day School, Solusi Pendidikan atau Beban untuk Anak?
Menyambut Tahun Ajaran Baru, Full Day School, Solusi Pendidikan atau Beban untuk Anak? (Merdeka.com)

Besok adalah hari pertama sekolah bagi jutaan siswa di Indonesia. Di tengah semangat baru, tak sedikit orangtua bertanya-tanya: apakah sistem full day school benar-benar baik untuk anak-anak? Sistem ini memang sudah berjalan di beberapa sekolah sejak dicanangkan oleh Kemendikbud RI pada 2017. Namun, pro dan kontra tetap mengiringinya hingga kini. 

Full day school memang bukan konsep yang asing, tapi banyak yang masih salah kaprah. Apa sebenarnya sistem ini, dan bagaimana dampaknya terhadap perkembangan anak? Yuk, kita bahas secara mendalam, sebagai bahan pertimbangan menyambut tahun ajaran baru

Apa Itu Full Day School?

Ilustrasi Anak Sekolah mengantuk
Ilustrasi Anak Sekolah mengantuk Bing Image Creator

Meski terdengar seperti anak harus sekolah dari pagi hingga malam, kenyataannya tidak demikian. Berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, sistem full day school berarti kegiatan belajar mengajar berlangsung selama 8 jam per hari dari Senin hingga Jumat, dimulai sekitar pukul 06.45 hingga 15.30 WIB, lengkap dengan waktu istirahat berkala.

Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperpanjang waktu belajar di sekolah, serta memberi ruang bagi pengembangan karakter dan keterampilan non-akademik melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Namun, penting untuk dicatat bahwa penerapan sistem ini bersifat opsional dan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing sekolah, baik dari segi fasilitas maupun tenaga pengajar.

Tujuan Full Day School

Pemerintah berharap sistem ini bukan hanya soal memperpanjang jam belajar, tetapi juga menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan, interaktif, dan berorientasi pada praktik. Selain memperdalam materi pelajaran, anak-anak diharapkan bisa mengikuti ekskul seperti pramuka, olahraga, atau seni yang menunjang perkembangan emosional dan sosial.

Lebih dari itu, full day school juga diharapkan mampu mencegah anak-anak dari aktivitas negatif di luar sekolah, karena waktu mereka akan banyak dihabiskan dalam lingkungan pendidikan yang diawasi guru.

Kelebihan Full Day School: Lebih Fokus dan Terarah?

1. Waktu Belajar yang Lebih Mendalam 

Dengan jam belajar yang lebih panjang, siswa punya kesempatan memahami materi pelajaran secara lebih mendalam. Guru pun memiliki waktu cukup untuk mengulas topik dan menjawab pertanyaan siswa, terutama pada pelajaran berat seperti matematika atau fisika. Durasi pelajaran yang lebih panjang bisa meningkatkan pemahaman, bukan sekadar hafalan. Ini tentunya membantu anak membangun fondasi akademis yang lebih kuat.

2. Membantu Orangtua yang Sibuk 

Bagi orangtua yang bekerja dari pagi hingga sore, sistem ini terasa sangat membantu. Anak tidak dibiarkan “nganggur” sepulang sekolah karena masih berada di lingkungan yang aman dan produktif. Dengan pengawasan guru sampai sore hari, orangtua pun lebih tenang karena anak tidak keluyuran atau terpapar pengaruh negatif.

3. Akhir Pekan untuk Keluarga 

Karena sekolah hanya berlangsung lima hari, Sabtu dan Minggu bisa menjadi waktu berkualitas bersama keluarga. Ini menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat banyak keluarga di kota besar jarang punya waktu bersama di hari kerja.

Kekurangan Full Day School: Terlalu Berat untuk Anak?

Ilustrasi Anak Sekolah Makan
Ilustrasi Anak Sekolah Makan Bing Image Creator

Meski banyak manfaat, tak sedikit pula yang mengkhawatirkan dampak negatif dari sistem ini.

1. Anak Kurang Tidur dan Makan

Waktu masuk sekolah yang sangat pagi, ditambah jam pulang yang sore, sering membuat anak melewatkan sarapan atau makan siang dengan kualitas gizi yang buruk. Banyak anak yang hanya sempat mengisi perut dengan camilan tidak sehat, karena sekolah tak menyediakan katering sehat atau kantin yang mendukung nutrisi seimbang. 

Kelelahan karena kurang tidur pun menjadi masalah besar. Banyak anak yang masih harus mengikuti les tambahan setelah pulang sekolah, hingga waktu istirahat mereka benar-benar minim.

2. Kesehatan Fisik dan Mental Menurun

Kebiasaan makan tidak teratur dan tidur kurang dapat melemahkan sistem imun anak. Akibatnya, mereka lebih mudah terkena penyakit seperti flu, maag, atau bahkan masalah kesehatan serius dalam jangka panjang seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.

Tak hanya fisik, kesehatan mental anak juga bisa terganggu. Anak-anak yang terlalu lelah dan stres akibat beban sekolah yang panjang cenderung lebih cepat mengalami burnout, kehilangan motivasi belajar, dan berisiko mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan atau bahkan depresi.

3. Kurang Waktu Bermain dan Sosialisasi Bebas

Anak-anak adalah makhluk pembelajar yang juga butuh waktu bebas. Bermain bebas—tanpa struktur seperti ekskul—adalah cara alami mereka belajar mengelola emosi, menjalin relasi, dan memahami dunia. Dengan padatnya jadwal, waktu bermain ini menjadi sangat terbatas. Akibatnya, perkembangan sosial dan emosional anak bisa terhambat.

4. Belum Tentu Efektif untuk Prestasi

Walau tujuannya baik, belum tentu durasi belajar yang panjang berdampak langsung pada peningkatan prestasi. Faktanya, beberapa negara dengan durasi sekolah yang lebih singkat justru memiliki prestasi akademik yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. 

Menurut data dari Walden University, siswa Indonesia belajar lebih dari 8 jam per hari, namun capaian akademiknya masih tertinggal dibanding siswa dari negara seperti Singapura yang hanya belajar sekitar 5 jam sehari.

Jadi, Full Day School: Lebih Baik atau Buruk?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya tergantung. Sistem full day school bisa sangat bermanfaat jika didukung dengan fasilitas yang memadai, manajemen waktu yang baik, serta dukungan dari orangtua dan sekolah untuk menjaga keseimbangan antara belajar, istirahat, dan bermain.

Namun jika diterapkan secara asal, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dasar anak seperti istirahat cukup, makan sehat, dan waktu bermain, sistem ini justru bisa berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental anak.

Menyambut Hari Pertama Sekolah dengan Bijak

Anak Sekolah
Anak Sekolah Liputan6.com

Besok adalah momen penting: hari pertama sekolah. Baik Anda orangtua, guru, atau siswa, inilah waktu yang tepat untuk mengevaluasi apakah sistem belajar yang diterapkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.

Bila sekolah anak Anda menerapkan full day school, pastikan anak mendapat dukungan yang cukup di rumah: sarapan bergizi, waktu tidur yang memadai, serta kesempatan untuk bersantai dan bermain. Ingat, pendidikan terbaik bukan soal jam belajar paling panjang, tapi yang paling seimbang dan menyenangkan. Selamat menyambut tahun ajaran baru dengan semangat dan harapan baru!

Rekomendasi