Sebagian bayi harus berjuang melawan gangguan kesehatan serius sejak hari-hari pertama kehidupannya. Meski bisa selamat dari masa kritis tersebut, risiko yang mereka hadapi belum sepenuhnya hilang.
Penelitian baru dari Karolinska Institutet menemukan bahwa bayi yang mengalami masalah kesehatan serius pada masa neonatal memiliki risiko kematian yang lebih tinggi hingga usia remaja dibandingkan bayi yang sehat sejak lahir.
Dilansir dari medicalxpress.com, temuan ini menunjukkan pentingnya pemantauan dan dukungan jangka panjang bagi anak-anak yang pernah melewati masa awal kehidupan yang sulit.
Advertisement
Risiko Kematian Masih Mengintai Hingga Remaja
Dalam studi ini, peneliti menganalisis data lebih dari 2 juta bayi yang lahir di Swedia antara tahun 2002 hingga 2021. Dari jumlah tersebut, sekitar 49.000 bayi (2,4%) mengalami masalah kesehatan serius dalam 28 hari pertama kehidupan—periode yang disebut masa neonatal. Masalah yang dimaksud mencakup gangguan pernapasan, gangguan neurologis, dan infeksi berat.
Yang mengejutkan, meskipun bayi-bayi ini berhasil bertahan hidup di awal kehidupannya, 863 di antaranya meninggal di kemudian hari. Anak-anak yang pernah mengalami gangguan kesehatan saat bayi ini memiliki risiko kematian hampir enam kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak sehat. Bahkan, anak-anak yang mengalami gangguan neurologis menunjukkan risiko kematian hingga 18 kali lipat lebih tinggi.
“Studi kami menunjukkan bahwa masalah kesehatan serius di awal kehidupan dapat memengaruhi peluang hidup anak dalam jangka panjang,” ujar Hillary Graham, kandidat Ph.D. dari Departemen Kedokteran Solna, Karolinska Institutet.
Risiko kematian memang paling tinggi terjadi pada tahun pertama kehidupan, tetapi peningkatan risiko ini tidak berhenti di situ. Data menunjukkan bahwa risiko tetap lebih tinggi sepanjang masa kanak-kanak dan remaja, memperlihatkan pentingnya dukungan jangka panjang dari sektor kesehatan maupun keluarga.
Advertisement
Pengaruh Jenis Kelamin dan Prematuritas
Selain kesehatan neonatal, penelitian ini juga menemukan bahwa faktor jenis kelamin dan prematuritas ikut memengaruhi risiko kematian. Anak perempuan yang mengalami masalah kesehatan pada masa bayi ternyata lebih berisiko meninggal dibanding anak laki-laki dalam kelompok yang sama.
Sementara itu, bayi prematur—yang lahir sebelum usia kehamilan cukup bulan—memang lebih banyak ditemukan dalam kelompok yang mengalami gangguan serius. Namun, menurut peneliti, prematuritas bukan satu-satunya faktor penyebab peningkatan risiko kematian. Bahkan pada bayi yang lahir cukup bulan, jika mereka mengalami gangguan serius saat neonatal, risiko kematian tujuh kali lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan yang sehat.
Beberapa penyebab kematian yang umum terjadi pada anak-anak dari kelompok ini mencakup:
- Infeksi
- Gangguan neurologis
- Gangguan metabolik
- Masalah pernapasan atau sirkulasi
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun fase kritis mungkin telah dilewati pada masa bayi, kerentanan fisik dan biologis anak tetap dapat berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian. Maka, intervensi yang sifatnya jangka pendek jelas tidak cukup untuk menjamin keselamatan jangka panjang.
Advertisement
Kekuatan Studi dan Keterbatasannya
Salah satu kelebihan utama studi ini adalah penggunaan data yang sangat besar dan lengkap, berkat registri nasional Swedia yang mendokumentasikan kelahiran, kematian, serta kondisi medis anak secara sistematis. Peneliti juga membandingkan hasil antar saudara kandung, untuk mengontrol variabel lingkungan keluarga seperti status sosial ekonomi dan pola asuh. Menariknya, hasil tetap menunjukkan bahwa anak dengan riwayat masalah kesehatan neonatal memiliki risiko kematian lebih tinggi, bahkan dibandingkan dengan saudara kandung mereka sendiri.
Namun, studi ini juga memiliki keterbatasan. Sebagian peserta belum mencapai usia remaja akhir, sehingga belum bisa disimpulkan secara menyeluruh tentang risiko kematian pada usia tersebut. Selain itu, penelitian ini tidak menyertakan bayi kembar atau kelahiran ganda, yang mungkin memiliki dinamika kesehatan berbeda.
Meskipun demikian, hasilnya tetap kuat dan relevan secara klinis. Studi ini memperkuat argumen bahwa sistem kesehatan perlu mengembangkan strategi pemantauan dan dukungan jangka panjang untuk anak-anak yang pernah mengalami gangguan neonatal.
Advertisement
Arah Penelitian Selanjutnya dan Implikasi Kesehatan
Dalam wawancara terpisah, Associate Professor Neda Razaz dari Karolinska Institutet menyampaikan bahwa penelitian lanjutan akan difokuskan pada bagaimana gangguan kesehatan awal ini memengaruhi perkembangan jangka panjang anak, terutama yang berkaitan dengan fungsi neurologis dan kognitif.
“Langkah selanjutnya adalah memperluas studi tentang bagaimana gangguan kesehatan awal ini memengaruhi perkembangan jangka panjang, khususnya pada anak dengan gangguan neurologis,” ujar Razaz.
Dari sisi praktis, hasil studi ini menjadi peringatan penting bagi para penyedia layanan kesehatan anak untuk lebih jeli dalam menyusun rencana perawatan. Ini mencakup penyediaan akses terhadap layanan medis lanjutan, pemantauan tumbuh kembang secara berkala, serta pendampingan psikososial bagi keluarga.
Selain itu, informasi ini juga penting bagi pemerintah dan pembuat kebijakan dalam merancang sistem jaminan kesehatan anak yang lebih inklusif. Anak yang terlihat “sembuh” secara fisik dari masalah neonatal belum tentu bebas dari risiko jangka panjang.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa perjuangan anak tidak berhenti setelah selamat dari masa bayi. Mereka tetap membutuhkan perhatian medis dan dukungan dalam jangka panjang. Dengan pemantauan yang tepat dan sistem kesehatan yang mendukung, anak-anak yang pernah mengalami gangguan serius sejak lahir bisa memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dan masa depan yang lebih aman.